Sementara kedua nelayan naas itu berada di sel, Konsulat Jenderal RI Johor Bahru dan Bakamla RI terus bekerja untuk dapat membebaskan keduanya.
Hubungan baik antardua negara dijadikan kunci untuk membawa pulang nelayan kembali ke Tanah Air.
KJRI menghubungi APMM, begitu pula Bakamla. Kepala Kantor Kamla Zona Maritim Barat Laksamana Pertama Hadi Pranoto langsung menelpon Pengarah Maritim Negeri Johor Laksamana Pertama Nurul Hizam bin Zakaria.
Dan disepakatilah, bahwa Bakamla yang menjemput Abdul Rahman dan Gusti Riyandi langsung perairan sekitar perbatasan antarnegara, pada Senin (26/4/2021).
Maka Senin pagi KN Bintang Laut berlayar, khusus menjemput dua WNI itu.
“Ini bentuk persahabatan yang erat dua negara, Indonesia dan Malaysia,” kata Hadi.
Pengembalian nelayan yang masuk wilayah negara lain tanpa sengaja itu memberikan gambaran, bahwa hubungan baik antarnegara sahabat mampu menyelesaikan persoalan apa pun juga.
Hubungan baik dua negara memberikan kenyamanan dan rasa keamanan bagi segenap pengguna laut di lokal maupun di kawasan.
Menurut Hadi, kedua nelayan itu dibebaskan karena pada diri dan kapal tidak ditemukan barang-barang yang mencurigakan untuk diselundupkan, apalagi narkoba.
Bahkan, dalam kapal dua nelayan tidak ditemukan ikan. Karena mereka memang baru saja hendak menjaring.
Pengarah APPM Negeri Johor Laksamana Pertama Nurul Hizam bin Zakaria yang datang menggunakan kapal besarnya mengatakan hubungan baik antarnegara dan antarlembaga maritim dua negara itu harus terus dieratkan demi keamanan perairan bersama.

“Karena kita berkongsi selat yang sama, kita berkongsi air yang sama, laut yang sama, kita harap dapat kerja sama membasmi segala bentuk kejahatan terutama dadah (narkoba),” kata dia.
Kepada nelayan Indonesia dan Malaysia, ia berharap mempelajari ilmu kelautan, agar tidak melanggar wilayah kedaulatan negara saat mencari ikan.

“Kepada nelayan, saya harap selepas ini belajar ilmu kelautan supaya lebih tahu tahu tentang sempadan. Kalian (Abdul Rahman dan Gusti Riyandi) masih muda. Masih panjang jalan,” kata dia. (RWH/Antara)

















