Lebih lanjut Siti Kamsiah memaparkan, masalah ini sulit dicegah karena orangtua tidak memantau keberadaan anak perempuannya, sehingga menyebabkan gadis itu terlibat dalam aktivitas seksual.
“Mereka tidak diajari bagaimana menjalani hidup sebagai anak-anak dan remaja hingga akhirnya terjebak dengan aktivitas tersebut,” terangnya.
“Orang-orang ini tidak memiliki agen tetapi menggunakan media sosial untuk mencari pelanggan. Mereka bersedia menawarkan diri mereka serendah 50 ringgit (Rp 170.000) untuk melakukan hubungan terlarang.”
Namun, Siti Kamsiah menambahkan, setelah wawancara dilakukan ternyata uang bukanlah pendorong utama, karena kepuasan berhubungan seks lebih diprioritaskan.
Ia pun mendesak, perbuatan ini harus dihentikan agar tidak menyebar di masyarakat.
“Lebih meresahkan jika ada oknum yang memanfaatkannya. Remaja-remaja ini tidak terdidik dengan baik sementara orang tua tidak memiliki pengetahuan dan pemahaman agama yang memadai,” ucap Siti.
“Biasanya, orangtua dari remaja yang ‘terabaikan’ ini tidak dapat mengantisipasi risiko dan ancaman di sekitar anak-anak mereka, selain memberikan terlalu banyak kepercayaan.”
“Ini akhirnya mengarah pada kasus pemerkosaan ketika beberapa remaja melakukan tindakan itu dengan kenalan baru d media sosial. Di sinilah masalah dimulai ketika mereka akhirnya menjadi kecanduan,” pungkas Siti. (AFP/KOMPAS)
Halaman : 1 2

















