Harga PCR Rp 275 Ribu, Ternyata Segini Lho Modal Perusahaan Lab!

INIKEPRI.COM – Harga PCR saat ini sudah kembali diturunkan menjadi Rp 275 untuk wilayah Jawa Bali dan Rp 300 ribu di luar wilayah itu.

Penurunan dilakukan setelah Kementerian Kesehatan dan BPKP melakukan audit pada komponen alat dan jasa tes RT – PCR.

Dari hasil audit BPKP terhadap biaya barang dan jasa tes RT – PCR dari e-catalog terdapat potensi harga yang lebih rendah. Mulai dari Reagen, hazmat atau alat pelindung diri, hingga RNA.

Lantas berapa modal dari usaha lab tes RT-PCR?

Sekretaris Jenderal Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Randy H. Teguh menjelaskan alat pemeriksaan tes PCR itu bermacam-macam, sehingga tidak bisa mengeneralisir berapa modal pasti untuk melakukan tes ini.

Namun biaya alat pengetesan seperti Reagen dan APD biasanya mencapai 40% – 50% dari struktur harga tes RT – PCR. Sisanya untuk membayar perawat, dokter, administrasi, hingga sewa ruangan.

Dia menjelaskan kisaran harga reagen itu mulai dari Rp 150 – 500 ribu tergantung asal dan kualitas barang.

Semakin mahal tentu tingkat akurasinya akan semakin bagus. Sementara untuk biaya investasi mesin PCR itu mulai dari ratusan juta hingga Rp 2 miliar.

“Cukup mahal, makanya kasihan juga yang sudah investasi, bingung harus menghitung ulang,” katanya dilansir dari CNBC Indonesia.

Menurut Randy dengan batasan harga PCR Rp 275 – 300 membuat penyedia layanan tes semakin sulit mendapatkan alat tes yang berkualitas. Jika melihat struktur harga itu reagen yang paling banyak beredar pada kisaran Rp 100 ribuan.

Peneliti bidang Mikrobiologi Klinik, Amin Soebandrio mengatakan seharusnya penurunan harga tidak mempengaruhi kualitas PCR, karena penyedia fasilitas sudah berkomitmen menyanggupi melakukan pemeriksaan. Sementara mengenai harga memang diatur oleh pemerintah.

Namun penurunan harga ini akan memberatkan penyedia jasa, Karena ada biaya yang harus dikeluarkan seperti penyediaan alat reagen, tenaga kesehatan, pemeliharaan alat, sampai hitungan keuntungan perusahaan.

“Keuntungan pasti terpengaruh, misalnya dari biasanya ambil profit 10%, ya pasti berkurang. Kalau kualitas ya memang semua bisa sama,” ujar mantan Kepala Lembaga Eijkman ini. (RWH/CNBCINDONESIA)

Baca

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

3,266FansSuka
1,349PengikutMengikuti
7,350PengikutMengikuti
481PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
spot_img
spot_img
spot_img

Berita Populer

error: Content is protected !!