Bukan COVID-19, Ini Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

- Publisher

Kamis, 24 Februari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kematian. Foto: Istimewa

Ilustrasi kematian. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Sebuah laporan lingkungan PBB menyatakan bahwa bukan virus COVID-19 yang menyebabkan kematian terbanyak secara global, namun polusi.

Laporan itu, seperti dikutip dari DW Indonesia, Rabu 23 Februari 2022, mengatakan polusi dari pestisida, plastik dan limbah elektronik menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia dan setidaknya sembilan juta kematian dini per tahun, dan bahwa masalah ini sebagian besar diabaikan.

BACA JUGA:  Susul Tiga Kecamatan Hinterland, Kini Batuampar Berstatus Hijau

Sementara, pandemi Virus Corona telah menyebabkan hampir 5,9 juta kematian, menurut agregator data Worldometer.

“Pendekatan saat ini untuk mengelola risiko yang ditimbulkan oleh polusi dan zat beracun jelas gagal, yang mengakibatkan pelanggaran luas terhadap hak atas lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan,” tulis Pelapor Khusus PBB David Boyd.

“Saya pikir kami memiliki kewajiban etis dan secara hukum untuk berbuat lebih baik kepada orang-orang ini,” katanya kepada Reuters.

BACA JUGA:  Kanker Tak Bisa Sembuh Namun Dapat Dikontrol

Laporan itu mendesak larangan polifluoroalkil dan perfluoroalkil, zat buatan manusia yang digunakan dalam produk rumah tangga seperti peralatan masak antilengket yang telah dikaitkan dengan kanker dan dijuluki “bahan kimia selamanya” karena tidak mudah terdegradasi.

Laporan juga menyerukan pembersihan daerah yang tercemar dan, dalam kasus ekstrem, kemungkinan relokasi masyarakat yang terkena dampak dari apa yang disebut “zona pengorbanan”. Banyak dari masyarakat tersebut adalah warga miskin, terpinggirkan dan pribumi.

BACA JUGA:  Ini Alasan Banyak Pasien Positif COVID-19 Tak Punya Gejala

Kepala HAM PBB Michelle Bachelet menyebut ancaman lingkungan sebagai tantangan hak asasi global terbesar, dan semakin banyak kasus keadilan iklim dan lingkungan yang menuntut keadilan HAM berhasil dengan sukses. (DI/MINEWS)

Berita Terkait

493 Kasus Flu Singapura, Batam Belum Terapkan Pembatasan Wisatawan
Dokter Gizi Ingatkan Susu Kental Manis Bukan Susu, Orang Tua Diminta Ubah Kebiasaan Anak Secara Bertahap
Catat! Ini 5 Jenis Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan
Waspada Virus Hanta, Dokter Ungkap Gejala Awal hingga Cara Pencegahannya
Batam Siaga Hantavirus, RSUD Embung Fatimah Disiapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan
Kasus Muncul di Beberapa Negara, Benarkah Hantavirus Jadi Covid-19 Berikutnya?
Hanya 20–30 Menit Sehari, Jalan Kaki Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup
Strategi Sehat Menjalani Diet Selama Ramadan Tanpa Mengganggu Energi

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:05 WIB

493 Kasus Flu Singapura, Batam Belum Terapkan Pembatasan Wisatawan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 12:59 WIB

Dokter Gizi Ingatkan Susu Kental Manis Bukan Susu, Orang Tua Diminta Ubah Kebiasaan Anak Secara Bertahap

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:35 WIB

Catat! Ini 5 Jenis Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:54 WIB

Waspada Virus Hanta, Dokter Ungkap Gejala Awal hingga Cara Pencegahannya

Selasa, 12 Mei 2026 - 09:12 WIB

Batam Siaga Hantavirus, RSUD Embung Fatimah Disiapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan

Berita Terbaru