INIKEPRI.COM – Di tengah ragam ungkapan yang hidup dalam percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia, istilah “haram zadah” atau “haram jadah” kerap terdengar sebagai luapan emosi.
Namun, tak banyak yang menyadari bahwa kata tersebut bukan berasal dari bahasa Indonesia, melainkan memiliki akar panjang dari bahasa Persia: haramzadeh.
Secara etimologis, kata haramzadeh terbentuk dari dua unsur. Kata haram berarti “terlarang” atau “tidak sah”, sementara zadeh berarti “keturunan” atau “anak”. Dalam konteks budaya Persia, istilah ini merujuk pada anak yang lahir di luar pernikahan yang sah—sebuah label yang bukan sekadar deskriptif, melainkan sarat stigma sosial dan penghinaan terhadap kehormatan keluarga.
Masuknya istilah ini ke Nusantara tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan bagian dari jejak panjang interaksi budaya yang dibawa oleh para pedagang, ulama, dan sastrawan Persia sejak abad pertengahan. Bersama penyebaran Islam dan aktivitas perdagangan, berbagai kosakata Persia turut berasimilasi ke dalam bahasa Melayu—yang kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia modern.
Dalam proses adaptasi tersebut, terjadi perubahan fonetik. Haramzadeh bertransformasi menjadi “haram zadah” atau “haram jadah”, menyesuaikan dengan lidah lokal. Pergeseran bunyi semacam ini lazim terjadi dalam perjalanan sebuah kata lintas budaya dan wilayah.
Namun, perubahan paling mencolok justru terjadi pada maknanya. Jika dalam konteks asalnya istilah ini merujuk pada status kelahiran yang sensitif, di Indonesia penggunaannya lebih luas sebagai ungkapan kemarahan atau makian. Makna literalnya memudar, digantikan fungsi emosional dalam komunikasi sehari-hari—meski tetap mengandung konotasi yang kasar dan ofensif.
Fenomena serupa juga ditemukan di berbagai wilayah lain yang pernah tersentuh pengaruh Persia. Di Iran dan Turki, bentuk serupa masih digunakan dengan makna yang relatif dekat dengan asalnya. Sementara di Malaysia, istilah “haram jadah” juga dikenal sebagai ungkapan makian dengan nuansa yang tidak jauh berbeda dari penggunaannya di Indonesia.
Perjalanan kata ini menunjukkan bagaimana bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga cermin dinamika sejarah, budaya, dan perubahan sosial. Sebuah istilah yang lahir dari konteks tertentu dapat mengalami pergeseran makna seiring waktu—terkadang menjauh dari akar aslinya, namun tetap menyimpan jejak sejarah yang menarik untuk ditelusuri.
Penulis : RP
Editor : IZ

















