Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar Empat Bulan Setelah Tewas, Ini Alasannya

- Publisher

Minggu, 5 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Upacara pemakaman kenegaraan diadakan untuk mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari, di Masjid Imam Khomeini Mosalla di Teheran, Iran. Foto: Reuters

Upacara pemakaman kenegaraan diadakan untuk mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari, di Masjid Imam Khomeini Mosalla di Teheran, Iran. Foto: Reuters

INIKEPRI.COM – Pemerintah Iran menggelar prosesi pemakaman besar bagi pemimpin tertinggi sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, lebih dari empat bulan setelah ia tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026.

Mengutip CNBC Indonesia yang melansir NDTV, rangkaian prosesi dimulai di Teheran pada Jumat (3/7) waktu setempat dan akan berlanjut ke sejumlah kota di Iran serta Irak. Pemakaman dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli 2026 di Mashhad, kota kelahiran Khamenei.

Pemerintah Iran memperkirakan puluhan juta warga akan menghadiri prosesi tersebut. Sejumlah kepala negara dan pejabat dari berbagai negara juga dijadwalkan hadir, di antaranya Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, perwakilan India, China, Afghanistan, serta sejumlah negara di kawasan Kaukasus.

BACA JUGA:  Indonesia Dorong Pemberian Hak Istimewa bagi Palestina

Jenazah Khamenei disemayamkan selama tiga hari di Grand Mosalla, Teheran, dengan peti jenazah yang dibalut bendera Iran. Prosesi itu juga diikuti jenazah sejumlah anggota keluarganya yang turut meninggal, sehingga menjadi salah satu upacara kenegaraan terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran.

Pemerintah Iran menilai pemakaman tersebut memiliki arti penting di tengah situasi politik dan keamanan pascakonflik dengan Amerika Serikat. Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar diharapkan menunjukkan dukungan terhadap Republik Islam Iran.

Pemimpin salat Jumat di Qom, Ayatollah Mohammad Saidi, bahkan menyebut partisipasi masyarakat dalam prosesi pemakaman sebagai “referendum” terhadap Republik Islam. Pemerintah disebut menyediakan transportasi, akomodasi, hingga makanan gratis untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin mengikuti rangkaian acara.

BACA JUGA:  Singapura: Kami Tak Akan Biarkan Orang Seperti UAS Raih Pengikut di Sini

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pemerintah Iran masih menghadapi tantangan dalam mempertahankan legitimasi politik di tengah tekanan ekonomi akibat sanksi internasional dan ketidakpuasan sebagian masyarakat.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dunia adalah lamanya jeda antara kematian dan proses pemakaman. Dalam tradisi Islam, jenazah umumnya dimakamkan sesegera mungkin.

Pemerintah Iran membantah kabar bahwa jenazah Khamenei sempat dimakamkan sementara. Otoritas menyatakan penundaan dilakukan karena situasi perang yang masih berlangsung sehingga prosesi publik tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.

BACA JUGA:  Tragis! Alat Vital Waria Ini Busuk Usai Operasi Ganti Kelamin, Pacarnya Kabur

Pakar kontraterorisme Dr. Mohammed Omar kepada Fox News Digital menjelaskan jenazah Khamenei kemungkinan disimpan dalam ruang pendingin, bukan diawetkan dengan bahan kimia, karena pembalseman bertentangan dengan ajaran Islam. Menurutnya, hukum Syiah memperbolehkan penundaan pemakaman dalam kondisi luar biasa, sementara penyimpanan dingin lazim digunakan untuk menjaga kondisi jenazah hingga waktu pemakaman memungkinkan.

Selain berperan sebagai pemimpin Iran, Khamenei juga merupakan ulama Syiah dengan status marja, sehingga pandangan keagamaannya menjadi rujukan bagi banyak penganut Syiah di berbagai negara, termasuk Irak, Pakistan, dan Lebanon. Selama memimpin Iran, ia juga memiliki pengaruh besar terhadap jaringan kelompok Syiah di kawasan Timur Tengah.

Penulis : DI

Editor : IZ

Berita Terkait

Ferrari Luce Pertama Laku Rp713,7 Miliar, Pembelinya Dokter Mata Berusia 87 Tahun
Guci Tua Berisi 100 Lebih Perhiasan yang Terkubur 1.200 Tahun, Ditemukan di Jalur Haji Menuju Makkah
AS: Jalur Pelayaran Sementara di Selat Hormuz Dibuka Tanpa Izin dan Biaya
Puluhan Ribu Xpeng X9 Direcall! Masalah Suspensi Udara Berpotensi Ganggu Kendali Mobil, Apakah Unit Indonesia Terdampak?
Anwar Ibrahim Tegaskan Malaysia Akan Usir Warga Israel yang Masuk ke Negaranya
Ketegangan Memuncak, AS Serang Sistem Pertahanan dan Armada IRGC Iran
Peternakan Kecoa Ilegal Digerebek di Australia: Lebih dari 100 Ribu Ekor Disita, Nilainya Tembus Rp2,5 Miliar
Imigrasi Kepri Perkuat Sinergi dengan ICA Singapura, Bahas Pengawasan Perbatasan hingga Laga Persahabatan

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:13 WIB

Ferrari Luce Pertama Laku Rp713,7 Miliar, Pembelinya Dokter Mata Berusia 87 Tahun

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:11 WIB

Guci Tua Berisi 100 Lebih Perhiasan yang Terkubur 1.200 Tahun, Ditemukan di Jalur Haji Menuju Makkah

Jumat, 7 Agustus 2026 - 08:33 WIB

AS: Jalur Pelayaran Sementara di Selat Hormuz Dibuka Tanpa Izin dan Biaya

Senin, 27 Juli 2026 - 07:45 WIB

Puluhan Ribu Xpeng X9 Direcall! Masalah Suspensi Udara Berpotensi Ganggu Kendali Mobil, Apakah Unit Indonesia Terdampak?

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:10 WIB

Anwar Ibrahim Tegaskan Malaysia Akan Usir Warga Israel yang Masuk ke Negaranya

Berita Terbaru