INIKEPRI.COM – Sebanyak 130 peserta mengikuti Sampiran Project – Forum UMKM & Ekonomi Kreatif Batam 2026 yang mengangkat tema “Bijak Bermedia Sosial” di Golden Prawn, Batam, Senin (12/10/2026). Dari jumlah tersebut, 80 peserta merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kota Batam, disusul mahasiswa, mahasiswi, serta perwakilan organisasi.
Kegiatan ini menyoroti pentingnya kemampuan pelaku usaha beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, terutama dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi, membangun identitas merek, dan memperluas jangkauan pemasaran.
Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, kualitas produk saja tidak selalu cukup untuk memenangkan pasar. Pelaku UMKM juga dituntut mampu mengemas keunggulan produknya menjadi konten yang menarik, membangun kepercayaan konsumen, serta memanfaatkan platform digital secara strategis.
Forum ini menghadirkan Mayjen TNI (Purn.) Sturman Panjaitan, S.H., anggota DPR RI periode 2019–2024 dari Fraksi PDI Perjuangan, Om Jun dari Yellow Face Production & Influencer, serta Stephane Gerald Martogi Siburian, Ketua Gekrafs Kepulauan Riau sekaligus Staf Khusus Kepala BP Batam.

Kehadiran para narasumber diharapkan memberikan perspektif kepada peserta mengenai pemanfaatan media sosial, pengembangan konten, serta peluang kolaborasi untuk memperkuat pemasaran produk lokal.
Ketua Gekrafs Kepri, Stephane Gerald Martogi Siburian, mengapresiasi Mayjen TNI (Purn.) Sturman Panjaitan dan Telkom Indonesia yang telah menginisiasi kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas pelaku UMKM dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Batam.
“Saya mengapresiasi Pak Sturman Panjaitan dan Telkom Indonesia yang telah menginisiasi kegiatan ini. Forum seperti ini sangat penting karena memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk belajar, memperluas wawasan, dan memahami bagaimana memanfaatkan media sosial sebagai salah satu kekuatan untuk mengembangkan usaha mereka,” ujar Stephane.
Menurutnya, keikutsertaan 80 pelaku UMKM menjadi momentum penting untuk mendorong usaha lokal agar tidak hanya bertahan di tengah persaingan, tetapi juga mampu berkembang dengan memanfaatkan peluang ekonomi digital.
Ia menegaskan, media sosial kini memiliki peran strategis dalam mempertemukan produk dengan calon konsumen. Namun, pemanfaatannya membutuhkan kreativitas, konsistensi, dan pemahaman mengenai cara membangun komunikasi yang tepat dengan pasar.
Stephane juga menyampaikan apresiasi kepada Om Jun dari Yellow Face Production & Influencer yang bersedia berbagi pengalaman dan wawasan mengenai pembuatan konten serta strategi promosi melalui media sosial.
“Terima kasih kepada Om Jun yang sudah bersedia berbagi ilmu dan pengalaman kepada teman-teman UMKM di Batam. Hari ini, kualitas produk saja tidak cukup. Pelaku usaha juga perlu memahami bagaimana membangun cerita tentang produknya, membuat konten yang menarik, dan menjangkau konsumen melalui media sosial,” katanya.
Ia menilai, kemampuan membangun cerita atau storytelling menjadi salah satu aspek penting dalam pemasaran digital. Melalui konten yang autentik dan relevan, pelaku usaha dapat memperkenalkan keunikan produknya, membangun kedekatan dengan konsumen, serta meningkatkan kepercayaan terhadap merek yang dikembangkan.
Bagi UMKM dengan keterbatasan anggaran promosi, media sosial juga membuka peluang untuk memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan strategi konten yang terarah, pelayanan yang baik, serta konsistensi menjaga kualitas produk.
Kolaborasi untuk Mendorong UMKM Naik Kelas
Stephane menegaskan bahwa pengembangan UMKM tidak bisa dibebankan kepada pelaku usaha semata. Dibutuhkan dukungan dan kolaborasi lintas sektor agar pelaku UMKM memiliki akses lebih luas terhadap pengetahuan, jaringan, promosi, dan peluang pasar.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, industri telekomunikasi, konten kreator, komunitas, dan organisasi ekonomi kreatif menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan.
“Harapan kita, kegiatan ini tidak berhenti sebagai seminar saja. Harus ada semangat untuk saling mendukung, berkolaborasi, dan membantu produk-produk lokal Batam semakin dikenal. Ketika UMKM kita semakin kuat dalam memanfaatkan teknologi digital, peluang mereka untuk berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas juga semakin terbuka,” tegasnya.

Keterlibatan mahasiswa, mahasiswi, dan perwakilan organisasi dalam forum tersebut turut membuka peluang kolaborasi antara pelaku usaha dan generasi muda. Potensi kreativitas generasi muda diharapkan dapat menjadi nilai tambah dalam pengembangan konten, promosi produk, serta inovasi pemasaran.
Melalui Sampiran Project 2026, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai penggunaan media sosial secara bijak, produktif, dan bertanggung jawab. Literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membuat konten, tetapi juga memahami etika komunikasi, menjaga kredibilitas informasi, serta membangun reputasi usaha di ruang digital.
Pada akhirnya, tantangan UMKM Batam bukan semata-mata menghasilkan produk berkualitas, melainkan memastikan produk tersebut mampu dikenal, dipercaya, dan dipilih konsumen di tengah persaingan pasar yang semakin luas.
Sampiran Project 2026 diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan di ruang seminar. Kolaborasi yang terbangun perlu diteruskan menjadi langkah konkret agar UMKM Batam semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi, lebih kuat dalam pemasaran digital, dan mampu meningkatkan daya saing sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi kreatif Kepulauan Riau.
Penulis : IZ

















