Gekrafs Kepri: Tuduhan EO “Sarang Korupsi” Harus Berbasis Data, Bukan Opini

- Publisher

Jumat, 3 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua DPW Gekrafs Kepulauan Riau, Stephane Gerald Martogi Siburian. Foto: INIKEPRI.COM

Ketua DPW Gekrafs Kepulauan Riau, Stephane Gerald Martogi Siburian. Foto: INIKEPRI.COM

INIKEPRI.COM – Pernyataan mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, yang menyebut industri event organizer (EO) sebagai “sarang korupsi” menuai respons luas dari kalangan pelaku ekonomi kreatif.

Pernyataan tersebut dinilai terlalu generalisasi dan berpotensi merusak citra industri yang selama ini berkontribusi besar terhadap perekonomian.

Ketua DPW Gekrafs Kepulauan Riau, Stephane Gerald Martogi Siburian, menilai pandangan tersebut tidak adil dan tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Menurutnya, industri event organizer justru menjadi bagian penting dalam ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan banyak pelaku usaha dan tenaga kerja.

“Tidak tepat jika industri EO disamaratakan sebagai sarang korupsi. Faktanya, sektor ini menghidupi ribuan UMKM dan membuka banyak lapangan pekerjaan,” ujar Stephane, Jum’at (3/3/2026).

BACA JUGA:  Toedjoeh Inkubator Gelar Graduation Batch 1 dan Seminar Local Heroes

Ia menekankan bahwa kritik terhadap suatu sektor tetap diperlukan, namun harus disampaikan secara spesifik, berbasis data, serta bertujuan membangun, bukan justru menciptakan stigma negatif.

“Kritik itu penting, tetapi harus objektif dan konstruktif. Jangan sampai generalisasi seperti ini justru melemahkan kepercayaan terhadap industri kreatif,” tambahnya.

Lebih jauh, Stephane mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga ekosistem ekonomi kreatif agar tetap tumbuh secara sehat, profesional, dan berintegritas, di tengah upaya pemerintah mendorong sektor ini sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru.

Sejalan dengan itu, Ketua Umum Gekrafs yang juga Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Gerindra, Kawendra Lukistian, turut memberikan tanggapan tegas. Ia menyebut pernyataan Said Didu sebagai logika yang keliru dan berpotensi merugikan jutaan pelaku industri kreatif.

BACA JUGA:  KNPI - Gekrafs Kepri Undang Perusahaan di Batam Ikuti Job Fair

Menurut Kawendra, arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto justru menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu tulang punggung dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Industri EO adalah sektor yang nyata menggerakkan ekonomi bangsa. Menyebutnya sebagai sarang korupsi adalah logika yang sesat dan berbahaya,” tegasnya.

Ia memaparkan, kontribusi industri EO terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai Rp128 triliun. Selain itu, sektor ini melibatkan lebih dari 14.800 UMKM dan menyerap lebih dari 270 ribu tenaga kerja profesional, serta jutaan pekerja lepas yang bergantung pada aktivitas event.

“Angka-angka ini menunjukkan bahwa industri EO bukan beban, melainkan penggerak ekonomi yang riil,” lanjut Kawendra.

BACA JUGA:  'Gekrafs Mencari Suara', Ajang Adu Kreatifitas Musisi Jalanan Batam

Bahkan, sebagai bentuk pembelaan terhadap pelaku ekonomi kreatif, ia mengaku tengah mempertimbangkan langkah hukum guna menjaga marwah industri tersebut dari stigma negatif yang dinilai tidak berdasar.

“Demi menjaga marwah pejuang ekonomi kreatif, kami membuka kemungkinan menempuh langkah hukum melalui Bidang Hukum DPP Gekrafs,” ujarnya.

Polemik ini pun mendapat perhatian publik. Sejumlah warganet menilai pernyataan yang terlalu generalisasi dapat merugikan pelaku industri yang selama ini berkontribusi nyata dalam membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi daerah.

Di sisi lain, berbagai pihak berharap perdebatan ini menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola industri event organizer yang lebih transparan dan profesional, tanpa harus mengorbankan kepercayaan terhadap sektor ekonomi kreatif secara keseluruhan.

Penulis : IZ

Berita Terkait

Warga Sungai Beduk Keluhkan Air Bersih, Lahan Pemakaman 4,76 Hektare Masih Tunggu Pusat
Amsakar Tegaskan APBD Batam 2027 Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat
Perselisihan HP dan OTP Berujung Dugaan KDRT, Kreator Konten Batam Diamankan Polisi
KNPI Kepri Soroti Hoaks terhadap Kapolri Suyudi, Andhi: Jangan Bangun Opini dari Fitnah
Ketua DPRD Kepri Iman Sutiawan Bantu Pulangkan Korban Dugaan Penyiksaan ke Jabar dan Palembang
Warga Bengkong Keluhkan Banjir, Sampah dan Air Bersih, Ini Respons Amsakar
Pemutihan Pajak Kendaraan di Kepri Diperpanjang, Warga Punya Waktu hingga 31 Oktober 2026
Cuaca Batam 7 Oktober: Sejumlah Wilayah Diprakirakan Berkabut, Suhu hingga 32 Derajat

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:06 WIB

Warga Sungai Beduk Keluhkan Air Bersih, Lahan Pemakaman 4,76 Hektare Masih Tunggu Pusat

Kamis, 8 Oktober 2026 - 06:11 WIB

Perselisihan HP dan OTP Berujung Dugaan KDRT, Kreator Konten Batam Diamankan Polisi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 00:02 WIB

KNPI Kepri Soroti Hoaks terhadap Kapolri Suyudi, Andhi: Jangan Bangun Opini dari Fitnah

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:50 WIB

Ketua DPRD Kepri Iman Sutiawan Bantu Pulangkan Korban Dugaan Penyiksaan ke Jabar dan Palembang

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:40 WIB

Warga Bengkong Keluhkan Banjir, Sampah dan Air Bersih, Ini Respons Amsakar

Berita Terbaru