INIKEPRI.COM — Persoalan ketersediaan bahan kebutuhan pokok kembali menjadi perhatian Bupati Natuna Cen Sui Lan. Bersama Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, Cen Sui Lan menemui Menteri Perdagangan RI Budi Santoso di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Pertemuan tersebut membahas kelancaran distribusi bahan pangan dari luar daerah menuju Natuna. Pemerintah daerah berharap akses masuk barang kebutuhan pokok dapat dipermudah sehingga pasokan tetap tersedia dan harga tidak semakin membebani masyarakat.
Bagi Natuna, persoalan distribusi pangan memiliki tantangan tersendiri. Wilayah kabupaten tersebut sekitar 98 persen berupa lautan, sementara daratannya hanya sekitar 2 persen.
Kondisi geografis itu membuat sebagian besar kebutuhan masyarakat harus didatangkan dari luar daerah melalui jalur laut. Beras, bawang, cabai dan berbagai kebutuhan sehari-hari membutuhkan rantai distribusi yang panjang sebelum sampai ke pasar-pasar Natuna.
Ketika terjadi keterlambatan kapal atau gangguan distribusi, dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat melalui berkurangnya stok maupun meningkatnya harga komoditas.
Karena itu, Cen Sui Lan menilai kelancaran pasokan pangan tidak boleh dipandang sebagai persoalan biasa.
“Urusan perut enggak ada toleransi,” tegas Cen saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya.
Dorong Kemudahan Distribusi Pangan
Pertemuan dengan Menteri Perdagangan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah untuk mengantisipasi kemungkinan kelangkaan sekaligus menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok di Natuna.
Berbeda dengan wilayah daratan yang memiliki alternatif pasokan melalui jalur darat dari daerah sekitar, Natuna sangat bergantung pada transportasi laut.
Artinya, kelancaran distribusi dari luar daerah menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar. Gangguan kecil dalam rantai pasok dapat menimbulkan dampak lebih besar karena pilihan jalur distribusi yang terbatas.
Cen Sui Lan berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan memberikan perhatian terhadap karakteristik Natuna sebagai wilayah kepulauan dan perbatasan.
Kemudahan masuknya barang-barang kebutuhan pokok dinilai penting untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh bahan pangan secara berkelanjutan.
Selain kebutuhan rumah tangga, ketersediaan bahan pangan juga berkaitan dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Natuna.
Program tersebut membutuhkan dukungan pasokan bahan pangan yang cukup dan lancar untuk memenuhi kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah wilayah.
Dengan demikian, distribusi pangan tidak hanya menyangkut aktivitas perdagangan, tetapi juga mendukung keberlangsungan program pemenuhan gizi bagi masyarakat.
Harap Hasil Pertemuan Berjalan Baik
Cen Sui Lan menyampaikan pertemuan bersama Mendag Budi Santoso berjalan dengan baik. Namun, ia memilih menyikapi hasil pembahasan tersebut secara hati-hati dan menyerahkan proses selanjutnya kepada ikhtiar serta doa.
“Mari kita doakan agar apa yang kita inginkan dapat berjalan dengan semestinya,” ujarnya.
Harapan pemerintah daerah terutama berkaitan dengan kelancaran masuknya komoditas penting seperti beras, bawang, cabai dan kebutuhan pokok lainnya ke Natuna.
Bagi masyarakat di wilayah kepulauan, persoalan pangan bukan hanya tentang ada atau tidaknya barang di pasar. Di dalamnya terdapat persoalan jarak, biaya angkutan, ketepatan waktu distribusi hingga kemampuan masyarakat membeli kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, upaya membuka akses pasokan pangan menjadi bagian penting dari tanggung jawab pemerintah untuk memastikan masyarakat Natuna tidak terus menanggung beban logistik akibat kondisi geografis.
Natuna boleh berada jauh di ujung utara Indonesia. Namun, jarak tersebut tidak semestinya menjadi alasan bagi masyarakat kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok.
Sebab pada akhirnya, menjaga pasokan pangan berarti menjaga kehidupan sehari-hari masyarakat tetap berjalan, dari dapur rumah tangga hingga dapur penyedia makanan bergizi bagi anak-anak Natuna.
Penulis : DI
Editor : IZ

















