INIKEPRI.COM — Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyinggung kemungkinan keterlibatannya dalam Pemilu Presiden AS 2028 melalui agenda besar yang ingin ia dorong, yakni pengaturan dan keselamatan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dalam sebuah acara penggalangan dana Partai Demokrat, Obama menyebut perkembangan AI sebagai salah satu isu paling penting yang akan menentukan masa depan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut kemudian dipandang sebagai sinyal bahwa Obama berpotensi mengambil peran lebih besar dalam kontestasi politik AS pada 2028. Hal itu dilaporkan Politico dan dikutip sejumlah media internasional, Senin (14/9/2026).
Obama mengatakan, pengembangan AI akan menjadi salah satu agenda utamanya apabila dirinya kembali maju sebagai calon presiden.
“Saya akan punya rencana yang jelas, saya mau terus berbicara soal ini, dan saya akan membeberkan rencana soal keselamatan. Ini rencana kami untuk memastikan anak-anak tidak terdampak,” kata Obama, dikutip dari Politico dan The New York Times.
AI Dinilai Bisa Memperlebar Kesenjangan
Dalam pidatonya, Obama menyoroti arah perkembangan teknologi AI yang menurutnya akan sangat menentukan masa depan masyarakat Amerika.
Ia mengingatkan, kemajuan teknologi tanpa aturan yang tepat berpotensi memperlebar kesenjangan sosial, menggantikan sejumlah lapangan pekerjaan, hingga mengancam kebebasan masyarakat.
Menurut Obama, manfaat AI tidak boleh hanya dinikmati oleh perusahaan besar dan kelompok orang terkaya di Silicon Valley.
Teknologi tersebut, kata dia, harus diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk melalui perlindungan pekerja, pemerataan akses teknologi, serta pencegahan penyalahgunaan data pribadi.
“Ini bukan sekadar soal teknologi. Ini soal siapa yang memegang kendali, siapa yang mengambil keuntungan, dan siapa yang dilindungi oleh aturan tersebut,” ujar Obama.
Ia juga memperingatkan bahwa perkembangan AI yang dibiarkan tanpa arah dapat memperbesar ketimpangan antara kelompok masyarakat yang sudah memiliki sumber daya dan mereka yang tertinggal.
Dibandingkan dengan Ancaman Nuklir
Obama bahkan membandingkan perkembangan AI dengan ancaman teknologi nuklir.
Namun, menurutnya, AI memiliki karakter yang berbeda karena tidak mempunyai batasan alami dan fisik sebagaimana teknologi nuklir. Selain itu, pengembangan AI saat ini banyak berada di tangan perusahaan swasta, bukan hanya pemerintah atau negara.
Kekhawatiran tersebut muncul di tengah perdebatan panjang di Kongres AS mengenai upaya mengatur industri AI.
Sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat telah berusaha menyusun regulasi untuk memperlambat atau membatasi pengembangan AI. Namun, berbagai upaya tersebut berulang kali menghadapi hambatan.
Salah satu persoalan yang masih diperdebatkan adalah sejauh mana perusahaan pengembang AI harus bertanggung jawab atas dampak maupun kerugian yang ditimbulkan oleh produk mereka.
Berbeda dengan Fokus Trump
Pandangan Obama mengenai perlunya pengawasan AI berbeda dengan sikap Presiden AS Donald Trump.
Trump disebut lebih menitikberatkan perhatian pada upaya agar Amerika Serikat mampu mengungguli China dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.
Sementara Obama mendorong agar pembahasan AI tidak hanya berkutat pada persaingan teknologi antarnegara, tetapi juga menyentuh persoalan keselamatan, lapangan kerja, perlindungan anak, privasi dan pemerataan manfaat.
Bagi Obama, masa depan AI bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi tersebut berkembang. Persoalan yang tidak kalah penting adalah siapa yang mengendalikannya, siapa yang mendapatkan keuntungan, dan seberapa kuat masyarakat dilindungi dari dampak yang mungkin muncul.
Penulis : RP
Editor : IZ

















