Obama Bicara soal AI jika Maju Capres AS 2028: Anak-anak Harus Dilindungi

- Publisher

Selasa, 15 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Barrack Obama. Foto: Istimewa

Barrack Obama. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM — Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyinggung kemungkinan keterlibatannya dalam Pemilu Presiden AS 2028 melalui agenda besar yang ingin ia dorong, yakni pengaturan dan keselamatan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dalam sebuah acara penggalangan dana Partai Demokrat, Obama menyebut perkembangan AI sebagai salah satu isu paling penting yang akan menentukan masa depan Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut kemudian dipandang sebagai sinyal bahwa Obama berpotensi mengambil peran lebih besar dalam kontestasi politik AS pada 2028. Hal itu dilaporkan Politico dan dikutip sejumlah media internasional, Senin (14/9/2026).

Obama mengatakan, pengembangan AI akan menjadi salah satu agenda utamanya apabila dirinya kembali maju sebagai calon presiden.

“Saya akan punya rencana yang jelas, saya mau terus berbicara soal ini, dan saya akan membeberkan rencana soal keselamatan. Ini rencana kami untuk memastikan anak-anak tidak terdampak,” kata Obama, dikutip dari Politico dan The New York Times.

BACA JUGA:  Singapura Buka Akses Transit Bagi Pelancong dari Indonesia

AI Dinilai Bisa Memperlebar Kesenjangan

Dalam pidatonya, Obama menyoroti arah perkembangan teknologi AI yang menurutnya akan sangat menentukan masa depan masyarakat Amerika.

Ia mengingatkan, kemajuan teknologi tanpa aturan yang tepat berpotensi memperlebar kesenjangan sosial, menggantikan sejumlah lapangan pekerjaan, hingga mengancam kebebasan masyarakat.

Menurut Obama, manfaat AI tidak boleh hanya dinikmati oleh perusahaan besar dan kelompok orang terkaya di Silicon Valley.

Teknologi tersebut, kata dia, harus diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk melalui perlindungan pekerja, pemerataan akses teknologi, serta pencegahan penyalahgunaan data pribadi.

“Ini bukan sekadar soal teknologi. Ini soal siapa yang memegang kendali, siapa yang mengambil keuntungan, dan siapa yang dilindungi oleh aturan tersebut,” ujar Obama.

BACA JUGA:  10 Nama Bacapres Amerika Serikat dari Partai Republik

Ia juga memperingatkan bahwa perkembangan AI yang dibiarkan tanpa arah dapat memperbesar ketimpangan antara kelompok masyarakat yang sudah memiliki sumber daya dan mereka yang tertinggal.

Dibandingkan dengan Ancaman Nuklir

Obama bahkan membandingkan perkembangan AI dengan ancaman teknologi nuklir.

Namun, menurutnya, AI memiliki karakter yang berbeda karena tidak mempunyai batasan alami dan fisik sebagaimana teknologi nuklir. Selain itu, pengembangan AI saat ini banyak berada di tangan perusahaan swasta, bukan hanya pemerintah atau negara.

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah perdebatan panjang di Kongres AS mengenai upaya mengatur industri AI.

Sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat telah berusaha menyusun regulasi untuk memperlambat atau membatasi pengembangan AI. Namun, berbagai upaya tersebut berulang kali menghadapi hambatan.

BACA JUGA:  Dari Teller Bank hingga Admin: Ini 20 Pekerjaan yang Bisa Hilang karena AI

Salah satu persoalan yang masih diperdebatkan adalah sejauh mana perusahaan pengembang AI harus bertanggung jawab atas dampak maupun kerugian yang ditimbulkan oleh produk mereka.

Berbeda dengan Fokus Trump

Pandangan Obama mengenai perlunya pengawasan AI berbeda dengan sikap Presiden AS Donald Trump.

Trump disebut lebih menitikberatkan perhatian pada upaya agar Amerika Serikat mampu mengungguli China dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.

Sementara Obama mendorong agar pembahasan AI tidak hanya berkutat pada persaingan teknologi antarnegara, tetapi juga menyentuh persoalan keselamatan, lapangan kerja, perlindungan anak, privasi dan pemerataan manfaat.

Bagi Obama, masa depan AI bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi tersebut berkembang. Persoalan yang tidak kalah penting adalah siapa yang mengendalikannya, siapa yang mendapatkan keuntungan, dan seberapa kuat masyarakat dilindungi dari dampak yang mungkin muncul.

Penulis : RP

Editor : IZ

Berita Terkait

Demi Pariwisata dan Investasi, Negara Islam Resmi Izinkan Lotre dengan Hadiah Puluhan Miliar
Bandara King Fahd Arab Saudi Diserang, Satu Orang Tewas dan Delapan Luka
Polisi Dubai Tambah Lamborghini Temerario Hybrid, Jadi Mobil Patroli Pariwisata
Kabut Asap Karhutla RI Memburuk, Sejumlah Sekolah di Malaysia Ditutup
Kabut Asap Memburuk, Raja Malaysia Imbau Sekolah di Wilayah Terdampak Ditutup
Tampil di Tech Week Singapore 2026, Batam Tawarkan Ekosistem Data Centre Terintegrasi
Lima Bulan di Rusia, Rendi Pemuda Natuna Dikabarkan Gugur Dihantam Drone Ukraina
Delegasi Indonesia Walk Out Saat Netanyahu Naik ke Podium Sidang PBB

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:11 WIB

Demi Pariwisata dan Investasi, Negara Islam Resmi Izinkan Lotre dengan Hadiah Puluhan Miliar

Kamis, 22 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Bandara King Fahd Arab Saudi Diserang, Satu Orang Tewas dan Delapan Luka

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:40 WIB

Polisi Dubai Tambah Lamborghini Temerario Hybrid, Jadi Mobil Patroli Pariwisata

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Kabut Asap Karhutla RI Memburuk, Sejumlah Sekolah di Malaysia Ditutup

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Kabut Asap Memburuk, Raja Malaysia Imbau Sekolah di Wilayah Terdampak Ditutup

Berita Terbaru

Jalan Vista Hotel kembali bisa dilalui oleh kendaraan. Foto: BP Batam

Batam

Jalan Tanjakan Vista Dibuka, Rampung Lebih Awal

Kamis, 29 Okt 2026 - 20:00 WIB