INIKEPRI.COM – Kota Batam masuk dalam daftar wilayah yang dipertimbangkan pemerintah untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Rencana tersebut masih dalam tahap kajian dan belum menjadi keputusan final.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah sedang mengkaji sejumlah lokasi potensial untuk pengembangan pembangkit listrik berbasis nuklir. Selain Batam, wilayah di Sumatra dan Kalimantan juga masuk dalam pertimbangan.
Menurut Bahlil, pengembangan PLTN menjadi salah satu opsi untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, realisasinya akan bergantung pada hasil studi kelayakan atau feasibility study (FS).
“Salah satu di antaranya [lokasi PLTN] yang akan kita tempatkan, masih dalam studi, kita akan taruh di Kepri, di Batam, untuk bagaimana mendorong ketahanan energi kita,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/10/2026), sebagaimana diberitakan Bisnis.com.
Pernyataan tersebut menempatkan Batam sebagai salah satu kandidat lokasi PLTN yang sedang dikaji pemerintah. Meski demikian, belum ada kepastian mengenai lokasi pembangunan, kapasitas pembangkit, maupun jadwal pelaksanaannya.
Lokasi PLTN Belum Diputuskan
Pemerintah masih harus menyelesaikan kajian sebelum menentukan wilayah yang dinilai layak untuk pembangunan pembangkit nuklir. Penilaian tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan proyek sesuai dengan kebutuhan energi dan persyaratan yang berlaku.
Bahlil menyebut, penentuan lokasi akan mempertimbangkan hasil studi kelayakan. Dengan demikian, masuknya Batam dalam kajian belum berarti pembangunan PLTN di wilayah tersebut telah diputuskan.
Selain aspek teknis, pengembangan pembangkit nuklir membutuhkan perencanaan jangka panjang, termasuk kesiapan infrastruktur, keselamatan operasional, regulasi, dan penerimaan masyarakat.
Bagi Batam, wacana ini berkaitan dengan upaya memperkuat pasokan energi untuk mendukung aktivitas industri dan pertumbuhan ekonomi. Namun, manfaat dan tantangan proyek tersebut baru dapat dinilai lebih jauh setelah pemerintah menyampaikan hasil kajian serta rencana teknis yang lebih terperinci.
Indonesia Juga Jajaki Kerja Sama Teknologi Nuklir
Di tengah kajian sejumlah lokasi PLTN, Indonesia juga menjajaki kerja sama teknologi dengan negara yang memiliki pengalaman dalam pengembangan pembangkit nuklir.
Salah satu kerja sama yang disorot adalah kesepakatan antara perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom, dan PT Pembangkit Listrik Nuklir terkait pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir terapung.
Dalam proyek tersebut, Rosatom berencana mengerahkan dua unit floating power unit (FPU) tipe FPU-100 dengan kapasitas gabungan 200 megawatt. Kedua unit tersebut direncanakan memasok listrik ke wilayah utara Pulau Halmahera, Maluku Utara.
Pembangkit itu dirancang menggunakan sistem reaktor RITM, teknologi yang telah digunakan pada kapal pemecah es bertenaga nuklir. Rosatom memperkirakan pasokan listrik dapat dimulai paling cepat lima tahun setelah ketentuan utama dalam kontrak pasokan listrik mulai berlaku.
Direktur Jenderal Rosatom State Corporation Alexey Likhachev menyebut kerja sama tersebut sebagai bagian dari upaya membangun kemitraan jangka panjang dengan Indonesia.
“Kesepakatan baru ini menjadi tonggak penting dalam upaya tersebut. Rosatom siap menawarkan solusi teknologi paling maju dan teruji yang tersedia di pasar global. Kami membahas lebih dari sekadar pasokan listrik, tetapi juga meletakkan fondasi bagi kemitraan jangka panjang,” ujarnya, dikutip dari keterangan resmi perusahaan.
Kerja sama tersebut berkaitan dengan rencana pasokan listrik untuk Halmahera dan tidak berarti proyek yang sama akan dibangun di Batam. Hingga kini, Batam masih berada dalam tahap pertimbangan sebagai salah satu kandidat lokasi PLTN.
Menunggu Hasil Kajian Pemerintah
Rencana pembangunan PLTN di Batam menjadi bagian dari pembahasan lebih luas mengenai diversifikasi sumber energi Indonesia. Pemerintah masih perlu menyelesaikan kajian sebelum menentukan lokasi dan bentuk pengembangan yang akan dipilih.
Bagi masyarakat Batam dan Kepulauan Riau, perkembangan rencana ini perlu dicermati, terutama terkait kepastian lokasi, teknologi yang akan digunakan, kebutuhan energi, aspek keselamatan, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Untuk saat ini, pemerintah baru menyatakan bahwa Batam menjadi salah satu wilayah yang dipertimbangkan. Keputusan mengenai pembangunan PLTN di daerah tersebut masih menunggu hasil studi kelayakan dan proses penentuan lebih lanjut.
Penulis : RP
Editor : IZ

















