Meskipun untuk tahun pertama di kirimi wesel Rp40.000 per bulan buat makan, buku dan belanja rokok, Amsakar dapat menorehkan sejarah cukup penting di kampus. Selesai teori 3,5 tahun, pernah Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Tingkat Fakultas, Juara I LKTI Tingkat Universitas, Juara I LKTI Tingkat Sumatera dan Kalimantan Barat yang berlangsung di Universitas Jambi, Juara II LKTI Tingkat Nasional yang berlangsung di Universitas Lampung.
Bahkan, Amsakar merupakan satu-satunya yang tercatat sebagai Juara LKTI sampai ke tingkat Nasional selama UNRI berdiri. Ia pun sebagai Mahasiswa Berprestasi I Tingkat FISIPOL UNRI dan Mahasiswa Berprestasi III Tingkat Universitas. Kecemerlangan silih berganti karena mulai tingkat II sampai tingkat III, Amsakar mendapatkan beasiswa Supersemar selama 2 tahun. Wesel Rp60.000 dan beasiswa Rp40.000, menjadi laluan penting bagi Amsakar untuk memperoleh buku-buku bermutu.
Di kehidupan organisasi pun, Amsakar juga tidak kalah cemerlangnya. Pernah menjadi Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sosiologi Fisipol UNRI (1989-1990), Sekretaris Himpunan Mahasiswa Islam Pekanbaru (1989-1990), Sekretaris Umum Keluarga Muda Mahasiswa Alumni Penerima Beasiswa Supersemar UNRI (1989-1991), Koordinator Komisi A Bidang Penalaran Senat Mahasiswa UNRI (1989-1991), dan Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fisipol UNRI (1991-1992). Di tengah kecemerlangan yang demikian itu, Amsakar juga memiliki catatan dan tantangan terberat dalam hidupnya sebagai mahasiswa.
Setelah menyelesaikan perkuliahan dengan indeks prestasi 3,08; Amsakar kemudian di wisuda pada bulan Oktober 1994. Pasca Wisuda, Amsakar melalui hidupnya dengan luntang-lantung, bekerja ke sana kemari mengais rezeki. Namun, dengan bekal prestasi dan seperangkat rekomendasi mulai dari Rektor UNRI, Dekan Fisipol sampai Ketua Jurusan Sosiologi, Amsakar kemudian diminta menjadi Asisten. Sejak saat itu, Amsakar resmi mendaftarkan diri menjadi Dosen Luar Biasa, istilah untuk menyebut Dosen Honor di Sosiologi Fisipol UNRI.
Mata kuliah yang dipegang antara lain Teori Sosiologi Klasik, Teori Sosiologi Modern, Sosiologi Kontemporer, Pengantar Sosiologi, Sosiologi Indonesia, Capita Selecta Sosiologi, dan Sosiologi Keluarga. Disamping mengajar di Fisipol UNRI, Amsakar juga diminta membantu mengajar di PPKn FKIP UNRI dengan memegang mata kuliah Pengantar Sosiologi.
Di luar dari kegiatan mengajar, Amsakar juga diminta oleh Prof. Dr. Ashaluddin Jalil, MS (sekarang Rektor UNRI) untuk membantunya di Pusat Penelitian Industri dan Perkotaan UNRI. Selanjutnya, setelah 2 tahun lebih mengajar, Amsakar belum juga mendapat kesempatan untuk diangkat sebagai dosen tetap. Hal ini disebabkan karena selama kurun waktu tersebut, Fisipol UNRI hanya menerima masing-masing 1 orang dosen untuk tahun pertama jurusan Administrasi Niaga dan tahun kedua jurusan Hubungan Internasional.
“Karena itu, tatkala pada tahun 1997 ada pembukaan tes PNS, saya mencoba mendaftar dan alhamdulilah diterima sebagai staf Mawil Hansip Kota Batam,” kata dia.
Lelaki yang memiliki tinggi 168 cm dan berat tak lebih dari 50 kg ini, selanjutnya mulai memamah dunia kerja sebagai birokrat. Meskipun pada masa awal terlintas dipikiran untuk tidak menerima pengangkatan sebagai pegawai di Mawil Hansip, tapi atas saran dari almarhum ayahnda dan mertua, jalan hidup yang sebenarnya berseberangan dengan hati nurani tersebut, akhirnya tetap di pilih.
Amsakar pun berangkat seorang diri ke Batam dengan meninggalkan istri dan dua orang anak tercinta (Suci Handini lahir di Pekanbaru, 4 November 1991 dan Aprilia Dwiningrum lahir di Pekanbaru, 14 April 1996). Petualanganpun dimulai. Sekali lagi kehidupan bertungkus lumus seolah-olah menjadi sisi tak tergantikan dan selalu menyertai perjalanan kehidupan lelaki kurus ini.

















