Sosok Praka Marten, Oknum TNI Yang Mutilasi Istri Sendiri

- Publisher

Selasa, 24 November 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(ist)

(ist)

Hal inilah yang membuat Marten tak tenang, hingga merencanakan pembunuhan. Apalagi, komandanya di Korem 023/KS pun sudah mendengar laporan Ayu.

Pada 7 April 2020, Marten menghubungi Samaria Magdalena lewat telepon. Ia bilang ke Samaria, “Maria saya mau menyelesaikan (membunuh) si Ayu, sudah buntu otak”.

Lalu, Samaria menjawab, “Ayo, Bang, yang penting abang sudah yakin. Tapi jumpalah dulu kita.”

Sesudah menelepon Samaria, Marten kemudian menelepon Winda. “Winda, abang mau selesaikan si Ayu”. Lantas Winda pun menjawab, “ayo!”.

BACA JUGA:  Rekor Nol Corona-nya Bobol, Tapi Cara Aceh Tangani Covie-19 Keren!

Pada tanggal 8 April 2020 sekitar pukul 13:00 WIB, Marten menelepon Winda, meminta bantuan untuk menjemput Samaria di Jalan Kartini, tak jauh dari SMP 2 Pandan, Sibolga.

Pada tanggal 9 April 2020 pukul 11.00 WIB, Marten membeli sebatang besi ulir ukuran 50 sentimeter berdiameter 2 sentimeter seharga Rp30 ribu dari sebuah bengkel bubut di Jalan SB Lase, Kelurahan Pancuran Pinang, Kecamatan Sibolga Sambas.

BACA JUGA:  TNI AL Temukan Jasad Diduga PMI di Perbatasan Indonesia-Malaysia

Sejam kemudian, besi itu disimpannya di rumah temannya yang bernama Antonius Zebua yang berada di Jalan M. Hajarin, Kelurahan Aek Tolang, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, tepatnya di dekat SMA Fransiskus.

Marten kemudian meminta Winda dan Samaria mengambil besi itu, sebelum kemudian bersama-sama mereka menuju lokasi pembantaian.

Sebelum membunuh Ayu, Samaria dan Winda sempat makan bersama dan membeli sarung tangan plastik warna coklat di apotek Simpang Sipansihaporas.

BACA JUGA:  Antisipasi Listrik Mati Saat Puasa, PLN Riau-Kepri Siagakan 1.402 Personel

Kemudian pada pukul 20.00 WIB di hari yang sama, usai meninjau lokasi yang akan dijadikan tempat eksekusi terhadap Ayu, Samaria dan Winda pulang sebentar ke rumah Samaria. Di sana, Winda memberi Samaria uang Rp2,5 juta sebagai imbalan karena mau membantu membunuh Ayu.

Berita Terkait

BP Batam Dukung Upaya Dewan Pers Wujudkan Tata Kelola Jurnalisme Profesional dan Patuh Terhadap Kode Etik Jurnalistik
Hari Santri Nasional 2026, Sekda Batam Dorong Santri Kuasai Teknologi
Prakiraan Cuaca Kamis 22 Oktober 2026: Kabut Asap Masih Selimuti Kepri, Natuna Berpotensi Dilanda Hujan Petir
DPRD Batam Setujui Ranperda Pengelolaan Sampah, Fokus pada Sistem Terpadu
BP Batam Perkuat Kompetensi Pegawai melalui Pelatihan dan Sertifikasi K3
Kritik Boleh, Provokasi Jangan: Pesan Iman Sutiawan di Tengah Polemik Blackout
BP Batam Gelar Coaching Clinic, Kawal Kelengkapan Perizinan OSS Pelaku Usaha
Cuaca Kepri Rabu 21 Oktober: Batam hingga Bintan Berkabut Asap, Warga Diminta Waspada

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:08 WIB

BP Batam Dukung Upaya Dewan Pers Wujudkan Tata Kelola Jurnalisme Profesional dan Patuh Terhadap Kode Etik Jurnalistik

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Hari Santri Nasional 2026, Sekda Batam Dorong Santri Kuasai Teknologi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Prakiraan Cuaca Kamis 22 Oktober 2026: Kabut Asap Masih Selimuti Kepri, Natuna Berpotensi Dilanda Hujan Petir

Rabu, 21 Oktober 2026 - 16:41 WIB

BP Batam Perkuat Kompetensi Pegawai melalui Pelatihan dan Sertifikasi K3

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:10 WIB

Kritik Boleh, Provokasi Jangan: Pesan Iman Sutiawan di Tengah Polemik Blackout

Berita Terbaru