Limbah Bauksit Cemari Perairan Bintan dan Lingga, Awas Dampak Buruk Konsumsi Ikan

- Publisher

Sabtu, 28 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: ANTARA)

(Foto: ANTARA)

INIKEPRI.COM – Tercemarnya perairan di Pulau Bintan dan Lingga karena limbah bauksit berdampak buruk pada satwa laut, seperti ikan.

Hal itu disebutkan oleh Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Kota Tanjungpinang, Kepulaian Riau, Prof Agung Dhamar Syakti. Ia mengingatkan kepada warga di Kepri agar berhati-hati saat mengkonsumsi satwa laut tersebut.

“Ada hasil penelitian mengungkapkan ikan-ikan yang mampu bertahan hidup di perairan yang tercemar limbah bauksit, dalam tubuhnya ada kandungan timbal,” kata Agung dilansir dari ANTARA, Sabtu 28 Agustus 2021.

BACA JUGA:  Polairud Polres Bintan Bagikan 100 Nasi Bungkus di Pelabuhan Bulang Linggi

Lebih lanjut, ia mengungkapkan, tidak semua ikan mampu bertahan di perairan yang tercemar limbah bauksit.

Namun pencemaran limbah bauksit yang meluas sampai beberapa mil dari bibir pantai dapat mempengaruhi hewan laut, terutama yang mampu bertahan hidup di perairan tersebut.

“Ikan tetap dapat dikonsumsi, meski sudah terkontaminasi timbal. Namun bagian perut ikan harus dibuang sebelum dimasak,” ujarnya.

Agung menjelaskan timbal berada di perut ikan. Sementara pada hewan laut jenis siput, timbal maupun cacing berukuran mikro berada di bagian pencernaan, sehingga tidak disarankan untuk dikonsumsi.

BACA JUGA:  Pemko Mengakomodir Penyesuaian Tarif, OPPM Penyengat Ucapkan Terima Kasih

Menurut dia, kebiasaan masyarakat membuang perut ikan sebelum dimasak merupakan cara yang higienis. Namun ada juga anggota masyarakat yang membakar ikan secara utuh (tidak membuang isi perutnya).

“Sebaiknya, isi perut ikan dibuang,” imbaunya.

Limbah yang tidak menguntungkan bagi kesehatan masyarakat juga potensial berada di perut ikan teri, yang berukuran mini. Agung juga menyarankan agar isi perut ikan teri tidak dikonsumsi.

“Sebaiknya, perut ikan teri dibuang sebelum dikonsumsi. Saya melihat masyarakat juga tidak mengonsumsi ikan teri beserta perutnya. Itu cara yang benar sehingga tetap sehat,” ucapnya.

BACA JUGA:  Tanjungpinang Optimis Bisa Sabet Juara Umum di POPDA 2024 di Batam

Menurut dia, konsumsi ikan di wilayah perairan Kepri, cukup tinggi sehingga banyak mahasiswa dan dosen tertarik menelitinya. Apalagi di Pulau Bintan terdapat aktivitas pertambangan bauksit sebelum tahun 2014.

Namun sebagian perairan yang berada di dekat pencucian bauksit maupun pelabuhan, tempat bersandarnya kapal pengangkut bauksit, masih terlihat tercemar limbah bauksit.

“Sebaiknya dibenahi agar ekosistem laut kembali normal,” katanya. (ET/ANTARA)

Berita Terkait

Perayaan 311 Tahun Nguan Thian Sian Tih Senggarang, Simbol Harmoni Budaya di Tanjungpinang
Temui Mitra Gojek, Lis Darmansyah Dorong Ojol Tanjungpinang Punya Usaha Sampingan
Siap Harumkan Nama Sekolah, Tiga Pesilat MTsN Tanjungpinang Tempur di Seleksi POPDA
Museum Tugu Bahasa di Pulau Penyengat Diproyeksi Jadi Magnet Wisata Sejarah
Mulai 10 April, ASN Tanjungpinang WFH Setiap Jumat
Jelang Peresmian PSC 119, Dinkes Tanjungpinang Gelar Donor Darah dan Khitanan Gratis
Puskesmas Tanjungpinang Barat Segera Jalin Kerja Sama dengan BPJS Kesehatan
Tanpa Jeda, Penyaluran Air Bersih di Tanjungpinang Capai 711 Ton

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 14:50 WIB

Perayaan 311 Tahun Nguan Thian Sian Tih Senggarang, Simbol Harmoni Budaya di Tanjungpinang

Senin, 13 April 2026 - 06:15 WIB

Temui Mitra Gojek, Lis Darmansyah Dorong Ojol Tanjungpinang Punya Usaha Sampingan

Minggu, 12 April 2026 - 08:52 WIB

Siap Harumkan Nama Sekolah, Tiga Pesilat MTsN Tanjungpinang Tempur di Seleksi POPDA

Sabtu, 11 April 2026 - 07:48 WIB

Museum Tugu Bahasa di Pulau Penyengat Diproyeksi Jadi Magnet Wisata Sejarah

Rabu, 8 April 2026 - 11:52 WIB

Mulai 10 April, ASN Tanjungpinang WFH Setiap Jumat

Berita Terbaru