Untuk bertahan hidup, dia sehari-hari bekerja serabutan sembari menjual sayur-sayuran yang ditanamnya di hutan, seperti ubi, daun pandan, dan cabai.
Oh Go Seng hidup menyatu dengan alam.
Untuk mengisi perutnya, dia rutin memasak bubur dengan menggunakan tungku api terbuka.
Sedangkan untuk membersihkan diri, Oh mandi dengan menggunakan air dari kolam yang berdekatan dengan tendanya.
Keberadaan Oh Go Seng bukan tidak diketahui oleh warga sekitar di distrik Choa Chu Kang.
Warga di sana justru kerap menolong Oh dengan memberikan pakaian dan makanan kepadanya.
Mereka juga terkadang membeli sayur-sayuran yang dijualnya.
Sejumlah pelari dan pendaki yang berolahraga di kawasan hutan juga pernah melihatnya.
Warga-warga ini memilih untuk tidak menganggu kehidupan Oh.
Mengaku istri dan putrinya ada di Batam
Oh Go Seng rupanya memiliki keluarga yang tinggal di Indonesia.
Ketika diwawancarai jurnalis dari Shin Min Daily News, Oh mengaku dirinya memiliki istri dan anak perempuan yang hidup di Batam.
Dia mengenal istrinya di Jakarta sekitar 19 tahun lalu.
Oh mengaku rutin mengunjungi keluarganya sebelum pandemi COVID-19.
Dia juga bercerita sering mengirimkan tunjangan bulanan sebesar 500 Dollar Singapura (Rp 5,4 juta) kepada istrinya yang berusia sekitar 50-an itu.
Putri semata wayang Oh yang saat ini berusia 19 tahun dilaporkan sedang berkuliah kedokteran di salah satu universitas di Batam. (DI/KOMPAS)
Halaman : 1 2

















