Penulisan Ramadan atau Ramadhan, Mana yang Benar?

- Publisher

Jumat, 1 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Ramadan. Foto: Istimewa

Ilustrasi Ramadan. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Mana yang tepat untuk versi baku dari kata Ramadhan atau Ramadan?

Biasanya, kita menemukan dua versi penulisan itu untuk merujuk bulan ke-9 tahun Hijriah dalam kalender Islam.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan yang tepat adalah Ramadan.

Bukan Ramadhan, Romadhon, Ramadhan, Ramadhon, dan lain sebagainya.

Kata tersebut dalam KBBI tergolong sebagai kata benda. Sementara, definisinya adalah bulan ke-9 tahun Hijriah yang berjumlah 29 atau 30 hari, pada bulan ini orang Islam yang sudah akil balig diwajibkan berpuasa.

BACA JUGA:  Tips Makan Sahur agar Kuat Puasa

Mengapa Ramadan, Bukan Ramadhan?

Dikutip dari Kantor Bahasa Maluku Kemendikbud, KBBI menetapkan Ramadan sebagai bentuk baku, sebab mengacu ke aturan penyerapan kosakata asing. Sehingga, wajib bagi setiap kosakata bahasa asing yang akan diserap untuk mengikuti kaidah bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia tidak mengenal rangkap konsonan berupa /dh/. Namun, sebetulnya aturan ini tidak hanya berlaku untuk bahasa Arab saja, melainkan juga semuanya termasuk yang berasal dari bahasa daerah di Indonesia sekalipun.

Walau demikian, sebetulnya penyerapan bahasa asing bisa saja dilakukan dengan mutlak persis apabila huruf-huruf serta pengucapan katanya sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

BACA JUGA:  Hotel Didorong Siapkan Paket Diskon untuk Ramadhan dan Libur Lebaran

Beberapa contoh kosakata bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab adalah kalbu dari qalbu, rezeki dari rizq, kabar dari khabar, resmi dari rasmiyyun, lafal dari lafazh, derajat dari darajah, dan masalah dari mas-alatuna.

Berbagai bunyi vokal /o/ dalam bahasa Arab diserap dan ditulis menjadi huruf /a/. Sebagai contoh kata salat dari sholat, zalim dari zholim, dan fitrah dari fitroh.

Bentuk-bentuk perubahan ini memiliki tujuan untuk meng-Indonesia-kan setiap kata serapan. Jika tidak disesuaikan, maka akan ada kesimpangsiuran ejaan bahasa Indonesia. Pasalnya, setiap bahasa harus mempunyai tata bahasa bakunya sendiri agar penuturnya punya keselarasan dan kesamaan pemahaman atas ejaan-ejaan yang ada di Indonesia.

BACA JUGA:  Puasa Ramadhan Benteng Melawan Corona

Bahasa kita menyerap banyak sekali kosakata bahasa asing. Ada ribuan kata yang berasal dari bahasa Belanda, Inggris, Portugis, Tionghoa, Tamil, Jawa, dan lainnya.

Agar bisa diserap ke dalam bahasa Indonesia seperti halnya kata Ramadan, pada intinya ada beberapa tahapan yang perlu dilewati dalam proses penyerapan kosakata. (DI/DETIKCOM)

Berita Terkait

Harga iPhone Duo di Indonesia Tembus Rp75,9 Juta, Preorder Langsung Ludes
Mau Beli Mobil Listrik? Ini 5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan
“24 Hours More”, Cara ARTOTEL Batam Mendefinisikan Ulang Pengalaman Staycation
BYD Ganti Nama Denza Jadi Danza di Indonesia, Pemilik Mobil Lama Tak Perlu Khawatir
Kenapa Kamar Hotel Jarang Sediakan Guling? Ini 4 Alasannya
Bodi Makin Tipis, Baterai Lebih Besar! Ini Bocoran iPhone Air 2
DJ Diaz Jay: Nama yang Tumbuh dari Malam ke Malam
Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Putra Bungsu Soekarno Wafat di Usia 73 Tahun

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:38 WIB

Harga iPhone Duo di Indonesia Tembus Rp75,9 Juta, Preorder Langsung Ludes

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:05 WIB

Mau Beli Mobil Listrik? Ini 5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:00 WIB

“24 Hours More”, Cara ARTOTEL Batam Mendefinisikan Ulang Pengalaman Staycation

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:35 WIB

BYD Ganti Nama Denza Jadi Danza di Indonesia, Pemilik Mobil Lama Tak Perlu Khawatir

Minggu, 11 Oktober 2026 - 10:55 WIB

Kenapa Kamar Hotel Jarang Sediakan Guling? Ini 4 Alasannya

Berita Terbaru