Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi terburuknya setelah kehabisan cadangan devisa untuk membiayai bahkan impor yang paling penting seperti makanan, bahan bakar dan obat-obatan.
Negara ini juga menghadapi hiperinflasi dan pemadaman listrik yang berkepanjangan. Hal ini terjadi setelah CEB tidak dapat membeli bahan bakar dari negara lain untuk generator termalnya.
Tidak dapat membayar kembali utang luar negerinya sebesar US$ 51 miliar, pemerintah yang berpusat di Colombo itu telah menyatakan gagal bayar pada bulan April.
Pihak negara itu mengaku sedang bernegosiasi dengan Dana Moneter Internasional untuk kemungkinan bailout. (RP/CNBCINDONESIA)
Halaman : 1 2

















