Dewi Socowati: Mereka Ingin Samarkan Sejarah dengan ‘Jualan’ SK Kumham

- Publisher

Kamis, 22 September 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Endang Dwi Socowati ketua DPD KNPI Provinsi Kepri. Foto: INIKEPRI.COM

Endang Dwi Socowati ketua DPD KNPI Provinsi Kepri. Foto: INIKEPRI.COM

INIKEPRI.COM – Ketua DPD KNPI Kepri Endang Dwi Socowati, akhirnya menanggapi klaim KNPI kubu lainnya terkait kepemilikan SK Kemenkumham dan HAKI.

Dewi, mengaku bosan untuk menanggapi hal remeh-temeh seperti ini.

“Sejujurnya saya bosan untuk menjawab pertanyaan ini. Kayak tidak ada topik lain,” kata Dewi, Kamis 22 September 2022.

Dewi menjelaskan, KNPI yang ia pimpin dibawah komando Haris Pertama.

“Ini adalah garis KNPI yang berdiri sejak tahun 1973. Jadi kalau kemudian ada sekelompok orang yang mengatasnamakan KNPI dan mengaku yang paling benar serta mengklaim sah dan legal, ya silahkan saja. Anggap saja semua ingin memberikan kontribusi kepada pergerakan pemuda,” kata dia lagi.

Ia pun menyebut, saat ini ada tiga versi KNPI yang “berjualan” SK Kemenkumham agar mendapat pengajuan paling legal.

Dr. Ilyas Indra yang mengklaim Ketua Umum DPP KNPI dengan menunujukan SK Kumham. Foto: Istimewa

“Sudah ada tiga KNPI yang klaim paling benar dengan SK Kemenkumham, bahkan ada yang sampai ketua umumnya yang menyurati pemerintah daerah. Kalau hemat kami, itu biasa saja. Bahkan kalau perlu 10 KNPI, agar banyak yang dapat diperbuat untuk masyarakat dari masing-masing kubu,” ujar dia.

BACA JUGA:  Semangat Kartini Harus Menjadi Inspirasi bagi Perempuan Batam
Ryano Pandjaitan Ketua Umum KNPI lainnya juga menyatakan kubunya memiliki SK Kumham dan HAKI. Foto: Istimewa

Dia melanjutkan, mantan-mantan ketua umum KNPI, mayoritas ada di KNPI Haris Pertama.

“Turunan kami jelas. Ketua umum KNPI lintas generasi ada di barisan kami. Mulai dari Akbar Tanjung, Adhyaksa Dault, Idrus Marham, Ahmad Dolli Kurnia. Hanya Rifai Darus yang tidak, kenapa? Karena dia pembelah KNPI,” sebut Dewi.

Dia menceritakan, ihwal terpecahnya KNPI di Kongres XV Bogor pada 2018 silam,yang diikuti oleh dua calon ketua umum yakni Haris Pertama dan Noer Fajriensyah.

“Haris Pertama menangkan pertarungan itu. Lalu, Rifai Darus gelar kongres lanjutan agar Noer Fajiransyah terpilih secara aklamasi. Jadi sekarang ini, mereka berlomba-lomba mengklaim dan menyamarkan sejarah, dengan SK Kemenkumham dan HAKI,” ungkap dia.

BACA JUGA:  PLN Batam Beri Pemaparan Penyesuaian Tarif Listrik 1,43% Hanya Pada Rumah Tangga Mewah dan Pemerintah secara Langsung kepada Masyarakat

SK Kemenkumham, kata Dewi, hanya performa untuk mengikuti UU keormasan/perkumpulan.

“Itu hanya untuk layanan birokrasi, seperti dana hibah. Kontribusi pemuda di KNPI sejak berdiri pada tahun 1973, tidak pernah terganggu dengan adanya SK Kemenkumham dan HAKI,” ungkap dia.

Soal HAKI, lanjut Dewi, itu sudah ada sejak zaman Ahmad Dolli Kurnia.

“Itu setelah Bang Dolli memenangkan PTUN ke Azis Syamsudin. HAKI ini juga berlaku 50 tahun. Ini konyol, kalau HAKI turun lagi. HAKI untuk yang mana lagi,” kata Dewi.

Salinan HAKI KNPI sudah ada sejak Ahmad Dolli Kurnia menjabat sebagai ketua umum KNPI. Foto: Istimewa

KNPI ini, ungkap dia, menjadi induk OKP-OKP yang ada di Indonesia. Nyatanya, mayoritas OKP-OKP berhimpun di KNPI Haris Pertama.

“OKP-OKP ini diisi orang yang telah khatam berorganisasi. Kalau memang mereka klaim KNPI yang paling benar, kenapa mayoritas OKP berada di Haris Pertama,?” tanya dia.

Dewi mengatakan lagi, kebenaran di organisasi dan politik tidak berlaku absolut.

BACA JUGA:  Bea Cukai Batam Musnahkan Puluhan Ribu Barang Ilegal

“Kami memberikan kedaulatan penuh kepada OKP maupun masyarakat untuk menilai kebenaran itu sendiri. Bukan kami yang menyodorkan kebenaran baik ke pemerintah maupun masyarakat. Silahkan memilih, kami tidak paksakan kebenaran, dan jangan paksakan kebenaran yang kami yakini,” tegas dia.

Dia pun meminta publik menilai dengan cara melihat kontribusi KNPI selama ini di masyarakat.

“Silahkan lihat dan nilai, mana KNPI yang berbuat di masyarakat dan mana KNPI yang hanya menjadi sebatas alat,” ujar dia.

Dia pun menegaskan, isu perpecahan itu sengaja dihembuskan dari orang yang punya kepentingan.

“Pernah mendengar KNPI kami mengganggu dan menyerang kegiatan KNPI lain? Terbelah tak harus terpisah, berbeda bukan berarti tak sama, kalau tujuannya sama-sama positif kan bagus. Lebih baik kami fokus di kerja nyata, daripada sibuk mengklaim ke masyarakat seperti mereka,” tutup dia. (MIZ)

Berita Terkait

Peringati Hari Lahir Pancasila, Li Claudia Serukan Penguatan Persatuan di Tengah Keberagaman
STIT Internasional Muhammadiyah Batam Wisuda 53 Sarjana Pendidikan, Siap Cetak Guru Berkarakter di Era Digital
Mekkah In Love: Tawaf Wada’ dan Perjalanan Cinta Amsakar Achmad Bersama Istri di Tanah Suci
Semarak Idul Adha 1447 Hijriah, BP Batam Sembelih 33 Hewan Kurban Tingkatkan Kepedulian Sosial
Li Claudia Dorong Sinergi Cegah TPPO di Batam, Resmikan Balai Latihan Kerja dan Pusat Informasi Pekerja Migran
Amsakar Achmad Akhirnya Botak di Tanah Suci, Ngaku Sampai Kaget Lihat Cermin
PLN Batam Raih TOP CSR Awards 2026 dan Penghargaan Kepemimpinan CSR
Plh. Kepala BP Batam Li Claudia Chandra Tinjau Pengerjaan Peningkatan Jalan dan Drainase
Tag :

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 12:59 WIB

Peringati Hari Lahir Pancasila, Li Claudia Serukan Penguatan Persatuan di Tengah Keberagaman

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:24 WIB

STIT Internasional Muhammadiyah Batam Wisuda 53 Sarjana Pendidikan, Siap Cetak Guru Berkarakter di Era Digital

Sabtu, 30 Mei 2026 - 09:00 WIB

Semarak Idul Adha 1447 Hijriah, BP Batam Sembelih 33 Hewan Kurban Tingkatkan Kepedulian Sosial

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:07 WIB

Li Claudia Dorong Sinergi Cegah TPPO di Batam, Resmikan Balai Latihan Kerja dan Pusat Informasi Pekerja Migran

Jumat, 29 Mei 2026 - 20:03 WIB

Amsakar Achmad Akhirnya Botak di Tanah Suci, Ngaku Sampai Kaget Lihat Cermin

Berita Terbaru