Cen Sui Lan Minta Kemenhub Gesa Pembangunan Pelabuhan Malarko Karimun

INIKEPRI.COM – Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Golkar Dapil Kepulauan Riau (Kepri) Cen Sui Lan, meminta Kemenhub RI menggesa kelanjutan pembangunan pelabuhan Malarko di Karimun. Permintaan itu disampaikan Cen Sui Lan pada saat mengikuti RDP Komisi V DPR RI dengan Sekjen, Irjen dan Kepala Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kemenhub RI, Rabu (14/6/2023).

“Pak Sekjen, banyak pelabuhan yang macet di Kepri. Satu di antaranya pelabuhan Malarko di Karimun,” ujar Cen Sui Lan.

Menurut Cen Sui Lan, pada tahun-tahun sebelumnya, masih ada berita tentang rencana kelanjutan pembangunan pelabuhan Malarko di Karimun. Sekarang, rencana tersebut seperti ditelan bumi, untuk kelanjutannya.

“Tidak tahu seperti apa kelanjutannya. Apakah perlu diperpanjang atau seperti apa kendala hukumnya. Padahal, anggaran negara sudah ratusan miliar untuk pelabuhan Malarko di Karimun itu,” jelas Cen Sui Lan.

“Kita minta agar Kemenhub RI menggesa kelanjutan pembangunan pelabuhan Malarko di Karimun ini,” kata Cen Sui Lan saat memberikan keterangan kepada awak media, Kamis (15/6/2023).

Sejak 2021 lalu, Cen Sui Lan sudah mendesak Menteri Perhubungan (Mehub) Budi Karya Sumadi, agar melanjutkan pembangunan Pelabuhan Malarko, di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri.

Sebab, Cen Sui Lan mengungkapkan, proyek pelabuhan Malarko mangkrak sejak tahun 2013. Pelabuhan Malarko ini mulai dibangun dari tahun 2008 sampai 2012. Dan sudah menghabiskan uang negara lebih dari Rp147 miliar.

Cen Sui Lan mendesak agar pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan RI, melanjutkan pembangunan pelabuhan Malarko. Baik untuk dijadikan sebagai pelabuhan utama peti kemas, maupun untuk pelabuhan roll on roll off (roro). Pelabuhan Malarko, juga bisa berfungsi nantinya sebagai pelabuhan sandar kapal pesiar.

Selain itu, fungsi pembangunan pelabuhan Malarko Karimun yang lebih mendasar, yaitu sebagai pendukung ditetapkannya Karimun sebagai Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas atau Free Trade Zone (FTZ). Karimun ditetapkan sebagai kawasan FTZ oleh pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 tahun 2007.

Sehingga diperlukan suatu pelabuhan yang berskala besar. Agar kapal-kapal yang berbobot tonase besar dapat sandar di dermaga. Kegiatan bongkar buat menjadi lancar. Para investor merasa nyaman apabila barang-barang yang dibutuhkan masuk dan keluar, dapat berjalan dengan lancar, cepat dan mudah dilakukan.

Pelabuhan Malarko diusulkan sebagai pelabuhan bebas untuk exit point dan enter point di Karimun. Asal mulanya Pelabuhan Malarko ini sudah lama direncanakan untuk dibangun. Namun oleh karena terbatasanya anggaran yang dimiliki pemerintah daerah, sehingga pembangunan tidak dapat dilakukan sendiri.

Sehingga, atas upaya koordinasi yang terus dilakukan ke pemerintah provinsi dan diteruskan ke pemerintah pusat, akhirnya mendapat dukungan. Melalui Kementerian Perhubungan untuk melakukan pembangunan. Tepatnya tahun anggaran 2008, pembangunan Pelabuhan Malarko dimulai untuk tahap pertama.

Untuk membangun Pelabuhan Malarko diperlukan dana mencapai Rp254,865 miliar, dengan pengerjaan selama 7 tahap. Sumber pandanaan pembangunan Pelabuhan Malarko berasal dari Anggaran Pembangunan Belanja Negara (APBN), melalui Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Dana pembangunan Pelabuhan Malarko yang terserap baru pembangunan causeway dan trestle pada sisi laut. Saat ini telah terealisasi lebih kurang Rp147,4 miliar, dari tahun 2008 sampai 2012. Pada tahun anggaran 2013, kegiatan pembangunan pada trestle dianggarkan senilai Rp91 miliar. Namun, tidak pekerjaan tidak terealisasi. Pada tahun 2014 hingga saat ini, tidak dianggarkan lagi.

Tujuan dari pembangunan Pelabuhan Malarko antara lain sebagai pelabuhan utama yang multipurpose. Memperlancar arus perpindahan orang (naik turun penumpang), khususnya kapal PT Pelni dan bongkar muat barang. Dalam upaya memperlancar kegiatan perekonomian Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri dan kepentingan nasional.

Pelabuhan Malarko juga bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Kabupaten Karimun. Menciptakan daya saing dengan mengembangkan pelabuhan yang berskala internasional.

Menunjang, menggerakkan, dan mendorong pencapaian tujuan pembangunan nasional. Memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa bahwa Kabupaten Karimun merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Sekaligus meningkatkan ketahanan nasional.

Perbatasan Antarnegara

Letak dan lokasi Pelabuhan Malarko sangat strategis, berada di depan 2 negara tetangga, Malaysia (Kukup Johor), dan Tuas Jurong Singapura. Letak Pelabuhan Malarko di sebelah timur Pulau Karimun Besar. Tepatnya di Dusun Pelambong, Desa Pongkar, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri. Posisinya berada di titik koordinat 01º-07’-50” LU dan 103º-23’-35” BT. Pelabuhan Malarko menjadi perbatasan antarnegara.

Untuk pembangunan Pelabuhan Malarko, Pemerintah Kabupaten Karimun telah melakukan pembebasan lahan pada sisi darat seluas 40 meter x 415 meter, untuk pembuatan jalan akses menuju lokasi Pelabuhan Malarko. Pemkab Karimun telah membuat dokumen Andal, UKL dan UPL pembangunan Pelabuhan Malarko.

Selain itu, Pemkab Karimun sudah melakukan penimbunan jalan menuju Pelabuhan Malarko pada tahun 2014 oleh Dinas PU. Kemudian, dilakukan pembangunan jalan atau pengaspalan jalan dan penurapan oleh BP Kawasan Karimun tahun 2017.

Pemkab Karimun berharap, pembangunan Pelabuhan Malarko dilanjutkan dan diselesaikan pada tahun anggaran 2022 nanti. Sehingga, tahun 2023, dapat dioperasionalkan. Mengenai dengan lahan darat yang diminta Kemenhub dari pemerintah daerah seluas 6.000 meter persegi untuk pembangunan kantor belum terealisasi, hal ini dapat dilakukan dengan reklamasi. Karena lokasi yang akan direncanakan di pinggir pantai, dapat dimanfaatkan lahan reklamasi pantai.

Selain Cen Sui Lan, Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) H Ansar Ahmad juga sudah membahas dengan Menteri Perhubungan (Menhb) Budi Karya Sumadi tentang penyelesaian pembangunan pelabuhan Malarko di Karimun. Saat itu, Gubernur Kepri berharap agar pelabuhan Malarko segera diselesaikan.

Karena, sebut Ansar Ahmad, posisi pelabuhan ini berada di jalur strategis dan berdekatan dengan beberapa negara tetanga. Di area pelabuhan Malarko, akan dibangun kawasan bisnis terpadu. Sehingga, keberadaan pelabuhan ini bisa menjadi roda perekonomian di Kepri dan di Karimun khususnya, pada masa mendatang. Namun sampai tahun 2023 ini, belum ada realisasinya. (RP)

Baca

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

3,266FansSuka
1,349PengikutMengikuti
7,350PengikutMengikuti
481PengikutMengikuti
7PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
spot_img

Berita Populer