INIKEPRI.COM – Pameran “Filateli sebagai Arsip Kebudayaan dan Medium Membaca Sejarah Indonesia” menyoroti peran penting arsip filateli dalam mengenalkan sejarah bangsa kepada masyarakat secara lebih dekat. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa prangko, surat, dan dokumen pos bukan sekadar benda koleksi, tetapi sumber pengetahuan yang merekam perjalanan sosial, politik, dan kebudayaan Indonesia.
Upaya ini menjadi penting karena arsip filateli menyimpan jejak perubahan besar dalam sejarah nasional, sekaligus menghadirkan dokumentasi otentik yang mudah dipahami berbagai kalangan. Dengan mengakses koleksi prangko dan surat lama, masyarakat dapat menelusuri dinamika zaman, mulai dari masa penjajahan hingga periode kemerdekaan dan pembangunan nasional.
Fadli Zon menyampaikan bahwa pameran filateli merupakan sarana efektif untuk mendekatkan masyarakat, terutama generasi muda, pada sejarah lewat sumber yang autentik. Ia menyoroti pentingnya melihat kembali situasi selama pendudukan Jepang, yang termasuk salah satu episode sejarah paling menentukan bagi Indonesia. Menurut Fadli, sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk hitam dan putih, sehingga generasi masa kini perlu memandang dinamika masa lampau secara kritis dan berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Melalui arsip filateli, kita dapat melihat berbagai tanda zaman yang merekam perubahan sosial, politik, dan kebudayaan dalam perjalanan bangsa,” ujar Fadli Zon.
Pandangan serupa disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Ia mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang memperkaya Kawasan Kota Lama Semarang dan menambah daya tarik budaya serta edukasi. Menurut Agustina, kehadiran koleksi dan arsip bersejarah ini menjadi sarana penting bagi masyarakat untuk semakin mengenal sejarah bangsa.
“Pameran ini memperkaya Kota Lama Semarang. Kehadiran berbagai koleksi dan arsip bersejarah menjadi daya tarik sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat untuk semakin mengenal sejarah bangsa,” ucap Agustina Wilujeng.
Sejarah filateli di Indonesia sendiri cukup panjang. Prangko pertama kali terbit di Inggris pada 1840, sedangkan di Indonesia hadir sejak 1864. Seiring waktu, prangko tak hanya menjadi alat pembayaran pengiriman surat, tetapi juga objek koleksi dengan nilai historis dan ekonomi tinggi. Para pecinta filateli tergabung dalam Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) yang berdiri sejak 1922. Mereka mempelajari desain, cetak, detail gambar, dan makna di balik setiap prangko, menjaga sepotong cerita masa lalu tetap hidup.
Pos Indonesia berperan aktif dalam menjaga dan memperkenalkan filateli kepada masyarakat, termasuk melalui penyelenggaraan pameran dan workshop. Deputi Jasa Keuangan, Ritel, dan Properti PT Pos Indonesia wilayah Jawa Timur, Musolin, menilai filateli dapat menumbuhkan minat generasi muda pada sejarah perjuangan bangsa. Ia menyoroti fenomena generasi muda yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai, sehingga perlu pendekatan kreatif untuk mengenalkan filateli sebagai bagian dari sejarah nasional.
“Sebetulnya hobi filateli ini banyak manfaat yang bisa diambil, jika mau belajar pada setiap benda-benda pos baik gambar maupun tema pasti ada sejarahnya. Apalagi ketika zaman perjuangan dahulu bahkan ketika Belanda menjajah perangko sudah ada. Tiap peristiwa direkam dalam benda-benda itu,” kata Musolin.
Salah satu upaya mengenalkan filateli kepada generasi muda dilakukan dengan mengadakan Workshop Filateli Kreatif di Surabaya, yang melibatkan pelajar dari berbagai penjuru kota. Dalam acara ini, siswa tidak hanya diajak mempelajari sejarah di balik prangko, tetapi juga membuat desain perangko yang kreatif dan inovatif. Musolin berharap para pelajar menjadi pelopor kebangkitan dunia filateli Indonesia.
Pos Indonesia juga aktif mencatat momen-momen penting dalam sejarah, kesenian, dan budaya melalui penerbitan prangko. Sebagai contoh, baru-baru ini Pos Indonesia mengeluarkan prangko bertema Hari Ulang Tahun TNI ke-69 yang ditandatangani langsung oleh Presiden SBY. Setiap prangko setidaknya memuat nama negara, jumlah seri, gambar, penjelasan gambar, tahun penerbitan, Invisible Image, dan nominal prangko.
Menurut Heri Nugroho dari Pos Indonesia wilayah Jatim, lembaga negara yang berwenang menerbitkan prangko adalah Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika. Sementara tugas penjualan benda-benda filateli menjadi tanggung jawab PT Pos Indonesia. Heri menjelaskan, aktivitas filateli menanamkan nilai-nilai kepribadian seperti semangat, kesabaran, ketelitian, kejujuran, dan rasa nasionalisme, karena para filatelis tidak hanya mengoleksi tetapi juga saling bertukar prangko.
“Jika orang sudah menjadi filatelis pasti dia orang yang bersemangat, sabar, tekun, berhati-hati, teliti, hemat, jujur, dan saling mengerti, memiliki jiwa nasionalisme serta menjaga perdamaian. Kenapa saya katakan begitu, sebab aktivitas filateli selain mengoleksi mereka juga saling bertukar perangko,” ungkap Heri Nugroho.
Filateli di Indonesia terus berupaya menjangkau generasi baru agar hobi ini tidak sekadar menjadi milik kolektor senior. Pos Indonesia bersama Dinas Komunikasi dan Informatika serta Dinas Pendidikan Jawa Timur rutin mengadakan pelatihan, pameran, dan lelang barang filateli hingga ke daerah. Pendekatan kekinian melalui narasumber dari institusi pendidikan juga dihadirkan agar generasi muda lebih kreatif menilai dan mendesain perangko.
Bagi para filatelis, merawat prangko berarti menjaga sepotong cerita sejarah bangsa agar tetap hidup dan dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Nilai prangko pun terus bertambah seiring usia dan kelangkaannya, sehingga memiliki arti penting dalam catatan perjalanan bangsa Indonesia. Kegiatan filateli bukan hanya tentang mengumpulkan benda, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta tanah air dan pemahaman sejarah melalui medium yang sederhana namun bermakna.
“Melalui pameran ini, masyarakat diajak untuk memahami sejarah Indonesia dari perspektif arsip filateli yang selama ini sering dipandang sebagai benda koleksi semata. Semua sejarah penting tersebut hadir dalam pameran ini agar publik lebih luas memahami nilai sejarah yang terkandung di dalamnya,” ucap Fadli Zon.
Penulis : IZ

















