Membesarkan Anak Digital: Bersama Lawan Risiko, Bangun Literasi

- Publisher

Kamis, 31 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Ilustrasi. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Di tengah kemajuan teknologi dan meluasnya akses internet, anak-anak Indonesia semakin akrab dengan gawai sejak usia sangat dini. Setiap tawa di depan layar ponsel menyimpan harapan akan kecerdasan digital, namun juga menyimpan potensi risiko serius.

Tanpa pendampingan yang memadai, ruang digital yang tampak menghibur dapat berubah menjadi ruang rentan dari paparan konten tidak ramah anak hingga ancaman kekerasan siber dan predator daring yang tersembunyi di balik algoritma.

Inilah potret senyap yang diangkat dalam webinar “Ruang Digital Anak”, sebuah forum penting yang mempertemukan anggota DPR RI, pakar literasi digital, dan pelaku industri untuk menyuarakan satu hal: anak-anak tidak boleh dibiarkan sendirian di dunia digital, dan dikutip INIKEPRI.COM, Rabu (30/7/2025).

Anak Digital, Tapi Siapa yang Menemani?

Anggota Komisi I DPR RI, Syarifah Ainun Jariah, mengibaratkan internet sebagai pisau bermata dua. “Jika diarahkan dengan benar, ia bisa menjadi alat belajar yang luar biasa. Tapi tanpa pengawasan, internet bisa jadi senjata yang melukai anak-anak kita,” tegasnya.

Ia mengingatkan, generasi sekarang adalah digital native sejak lahir. Mereka bisa menggeser layar sebelum bisa membaca. Tapi apakah mereka paham tentang risiko di balik layar? Jawabannya: belum tentu. “Anak-anak belum paham bahaya, tapi sudah sangat mahir menavigasi layar. Di sinilah peran orang dewasa jadi sangat penting,” tegasnya.

BACA JUGA:  Badai PHK Startup Masih Berpotensi Terjadi, Ini Alasannya

Syarifah menekankan bahwa perlindungan anak di ruang digital adalah tanggung jawab kolektif. Ada tiga elemen utama harus bergerak bersama:

  • Orang Tua: sebagai pelindung pertama. Hadir secara emosional, menerapkan parental control, memberi contoh positif dalam penggunaan gadget.
  • Sekolah dan Guru: mendidik karakter dan mengintegrasikan literasi digital dalam kurikulum.
  • Negara: menghadirkan regulasi yang berpihak pada anak, seperti PP Nomor 17 Tahun 2025 yang mewajibkan penyedia platform digital memiliki sistem perlindungan anak.

“Peraturan ini bukan sekadar formalitas, tapi tameng nyata dari serangan konten tidak layak yang hadir dalam satu klik,” ujarnya.

Ia juga mengatakan literasi digital adalah benteng utama anak di era daring. Bukan dengan menjauhkan anak dari teknologi, tapi dengan membekali mereka keterampilan untuk menghadapi dan menyaring dunia digital secara sehat dan bermakna. “Anak bukan sekadar objek perlindungan. Mereka adalah subjek aktif yang harus dibekali nilai, keterampilan hidup, dan akal sehat digital,” pungkas Syarifah.

BACA JUGA:  4 Simbol Illuminati Yang Dekat di Kehidupan

Sementara itu, Pakar Literasi Digital, Gun Gun Siswadi mengungkap data yang mengejutkan bahwa 4,33 persen anak usia di bawah 1 tahun sudah pernah mengakses internet, 33,80 persen anak usia 1–4 tahun terbiasa menjelajah dunia digital, dan 51,19 persen anak usia 5–6 tahun secara aktif menggunakan internet.

Lebih lanjut, data BPS 2024 mencatat 39,71 persen anak usia dini (0–6 tahun) telah menggunakan ponsel, dan 35,57 persen sudah bisa mengakses internet.

Namun yang lebih mengkhawatirkan, 80 persen orang tua tidak tahu apa yang anaknya akses. “Karena itu, ini bukan soal melarang. Ini soal hadir, membimbing, dan peka terhadap apa yang dikonsumsi anak di dunia maya,” ujar Gun Gun Iswadi.

Terkait itu, ada panduan usia bijak digital yang disarankan:

  • 0–5 tahun: sebaiknya tanpa gawai, kecuali untuk keperluan darurat.
  • 6–10 tahun: mulai dikenalkan secara terbatas dengan pendampingan aktif.
  • 11–18 tahun: diberikan tanggung jawab digital dengan arahan dan evaluasi rutin.

Di Balik Algoritma, Ada yang Mengintai saat Anak Berselancar di Ruang Digital

Hendri Gunawan, CEO Sigmabrand.id, membuka sisi kelam lain dari dunia digital anak. Banyak anak kini memiliki akun rahasia untuk berselancar tanpa pengawasan.

BACA JUGA:  Sedih, Viral Video Rekaman CCTV Seorang Ayah yang Mencuri Susu di Mini Market

“Waktu layar anak bisa mencapai 6–11 jam per hari. Tapi yang lebih menakutkan bukan durasinya, melainkan siapa yang ada di balik layar itu,” jelas Henri.

Ia mengungkap praktik child grooming, proses manipulasi emosional oleh predator online yang semakin sulit dikenali. Algoritma juga menyumbang risiko: konten tidak pantas bisa muncul karena histori tontonan orang tua.

Untuk itu, ia menawarkan prinsip 4K dalam parenting digital:

  • Kritis: ajari anak berpikir sebelum klik.
  • Kreatif: dorong anak membuat konten positif.
  • Konstruktif: pilih tayangan yang membangun karakter.
  • Kolaboratif: orang tua tak bisa sendiri, libatkan guru, komunitas, dan negara.

Jika hari ini kita membiarkan anak-anak larut sendiri dalam dunia digital tanpa arahan, maka kita tengah menciptakan generasi yang terhubung secara teknologi, tapi terputus secara emosional dan sosial.

Sudah saatnya semua pihak bergerak: keluarga, sekolah, pemerintah, media, dan industri teknologi. Karena di balik setiap layar, ada masa depan yang sedang dibentuk, dan kita tidak bisa tinggal diam. buatkan realitas visual dari berita ini

Penulis : DI

Editor : IZ

Berita Terkait

Tak Sanggup Bayar Iuran? Begini Cara Pindah BPJS Mandiri ke PBI Gratis
Twitter Comeback, Platform Baru Ini Hadir dengan Misi Menyaingi X
Siap-Siap! Harga iPhone 18 Dikabarkan Lebih Mahal, Krisis Memori Jadi Pemicu
iPhone Lipat Pertama Apple Mulai Terungkap, Kamera Jadi Salah Satu Kekurangannya
Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan Dana Investasi
Mulai 24 Agustus! Tak Lagi Menunggu Lama, YouTube Mulai Hitung View Sejak Video Diputar
Rayakan Agustus dengan Rasa Nusantara, MaxOne Batam Hadirkan Diskon Lunch 17%
493 Kasus Flu Singapura, Batam Belum Terapkan Pembatasan Wisatawan

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 07:37 WIB

Tak Sanggup Bayar Iuran? Begini Cara Pindah BPJS Mandiri ke PBI Gratis

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:03 WIB

Twitter Comeback, Platform Baru Ini Hadir dengan Misi Menyaingi X

Rabu, 26 Agustus 2026 - 06:47 WIB

Siap-Siap! Harga iPhone 18 Dikabarkan Lebih Mahal, Krisis Memori Jadi Pemicu

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:13 WIB

iPhone Lipat Pertama Apple Mulai Terungkap, Kamera Jadi Salah Satu Kekurangannya

Jumat, 21 Agustus 2026 - 07:28 WIB

Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan Dana Investasi

Berita Terbaru

Ekonomi

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28%, Melampaui Kepri dan Nasional

Selasa, 8 Sep 2026 - 07:15 WIB