Inflasi Batam Tembus 3,99 Persen, Amsakar Soroti Tiga Komoditas Pemicu Kenaikan Harga

- Publisher

Sabtu, 20 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wali Kota Batam Amsakar saat High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan pencanangan Sensus Ekonomi 2026. Foto: Media Center Batam

Wali Kota Batam Amsakar saat High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan pencanangan Sensus Ekonomi 2026. Foto: Media Center Batam

INIKEPRI.COM – Pemerintah Kota Batam menyoroti tiga kelompok komoditas utama yang menjadi penyumbang tingginya inflasi di daerah. Hingga pertengahan tahun 2026, tingkat inflasi Kota Batam tercatat mencapai 3,99 persen atau berada di atas target inflasi nasional yang ditetapkan pemerintah pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.

Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan tiga faktor utama yang mendorong kenaikan inflasi di Batam adalah emas perhiasan, tarif angkutan udara, serta kelompok makanan dan minuman, khususnya beras, daging ayam ras, dan makanan jadi.

“Tiga hal utama ini harus menjadi perhatian bersama. Apa yang bisa kita lakukan di tingkat daerah harus segera diikhtiarkan. Namun, untuk hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan nasional seperti tarif angkutan udara, kita berharap ada pertimbangan khusus bagi Batam agar biaya yang ditanggung masyarakat dapat lebih ditekan,” ujar Amsakar saat High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan pencanangan Sensus Ekonomi 2026.

BACA JUGA:  BP Batam Permudah Investasi, Amsakar Ajak Pengusaha Bangun Batam Lewat CSR

Menurut Amsakar, kondisi inflasi yang berada di atas target nasional memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan agar stabilitas harga di tengah masyarakat tetap terjaga.

Selain membahas inflasi, Amsakar juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Batam pada triwulan I tahun 2026 yang tercatat sebesar nol persen. Angka tersebut, menurutnya, tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil perekonomian Batam yang justru menunjukkan berbagai indikator positif.

Ia menyebut kunjungan wisatawan yang meningkat, pertumbuhan investasi yang cukup signifikan, serta stabilitas dunia usaha dan ketenagakerjaan menjadi indikator bahwa aktivitas ekonomi Batam masih bergerak cukup baik.

Untuk mendalami kondisi tersebut, Pemerintah Kota Batam berencana menggelar rapat koordinasi bersama BP Batam, Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Bea Cukai guna melakukan kajian yang lebih komprehensif terhadap data pertumbuhan ekonomi daerah.

BACA JUGA:  Kukuhkan Dalihan Na Tolu STMBMS, Amsakar Ajak Warga Perkuat Silaturahmi dan Tinggalkan Narasi Kontraproduktif

“Kita tidak memiliki kepentingan untuk mengubah data. Yang kita perlukan adalah data yang objektif dan akurat. Saya selalu menegaskan bahwa bekerja tanpa data ibarat orang berjalan dalam gelap tanpa arah. Sulit menentukan kebijakan yang tepat jika data yang digunakan tidak menggambarkan kondisi sebenarnya,” tegas Amsakar.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, menjelaskan bahwa stabilitas inflasi merupakan salah satu faktor penting yang menjadi perhatian investor dalam menentukan keputusan investasi.

Menurutnya, tingginya daya beli masyarakat Batam yang didukung sektor industri menyebabkan arus barang dari luar daerah terus meningkat. Di sisi lain, keterbatasan lahan pertanian produktif membuat Batam masih bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain.

BACA JUGA:  Cadangan Devisa Indonesia Mei 2024 Meningkat

“Inflasi diukur dari perubahan harga, bukan semata-mata tingkat harga. Karena itu, menjaga stabilitas harga, terutama di pasar tradisional, menjadi sangat penting mengingat fluktuasinya cukup tinggi,” kata Rony.

Ia mengungkapkan bahwa emas perhiasan masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di Batam dalam tiga tahun terakhir. Fenomena tersebut sekaligus mencerminkan tingginya daya beli masyarakat.

Selain emas, kelompok makanan jadi seperti nasi campur dan nasi goreng juga menunjukkan tren kenaikan harga yang konsisten dan masuk dalam lima besar komoditas penyumbang inflasi di Kota Batam.

Karena itu, Pemko Batam bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah akan terus memperkuat langkah pengendalian harga guna menjaga daya beli masyarakat dan menciptakan iklim ekonomi yang tetap kondusif di tengah berbagai tantangan yang dihadapi daerah.

Penulis : RBP

Editor : IZ

Berita Terkait

Investasi Batam Lampaui Target, Data Centre Jadi Jantung Baru Ekonomi
Pertimbangkan Daya Saing Investasi, BP Batam Tunda Penyesuaian Tarif Peti Kemas
Batam Makin Strategis! RI-Singapura Sepakati 6 Kerja Sama, FTZ Kini Mencakup 22 Pulau
Menkeu Purbaya Beri Sinyal Efisiensi Anggaran Berlanjut pada 2027
Kinerja Investasi dan Logistik Menguat, Plh. Kepala BP Batam: Batam Penggerak Ekonomi Kawasan
Rupiah Pecah Rekor Bersejarah! Dolar AS Tembus Rp18.000, Dolar Singapura Lewati Rp14.000
Pertamina Hulu Energi Targetkan Pengeboran Eksplorasi East Natuna Semester II 2026
Warga Batam Bisa Bernapas Lega! Amsakar–Li Claudia Bebaskan PBB hingga 100 Persen, Simak Syaratnya

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:38 WIB

Inflasi Batam Tembus 3,99 Persen, Amsakar Soroti Tiga Komoditas Pemicu Kenaikan Harga

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:30 WIB

Investasi Batam Lampaui Target, Data Centre Jadi Jantung Baru Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 - 14:59 WIB

Pertimbangkan Daya Saing Investasi, BP Batam Tunda Penyesuaian Tarif Peti Kemas

Rabu, 10 Juni 2026 - 09:20 WIB

Batam Makin Strategis! RI-Singapura Sepakati 6 Kerja Sama, FTZ Kini Mencakup 22 Pulau

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:36 WIB

Menkeu Purbaya Beri Sinyal Efisiensi Anggaran Berlanjut pada 2027

Berita Terbaru