Corona Belum Usai, Muncul Lagi Virus Baru Yang Lebih Mematikan dari China

- Publisher

Selasa, 14 Juli 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Batam, inikepri.com – Di tengah pandemi virus corona, otoritas kesehatan di China mengumumkan kemunculan penyakit baru yang menyebabkan demam parah bernama Severe Fever with Thrombocytopenia Syndrome (SFTS).

Sejauh ini, penyakit SFTS yang menular lewat gigitan kutu sudah menyebabkan lima orang meninggal dunia dan 23 orang lainnya di rawat di rumah sakit sejak April 2020 lalu. Menurut pejabat kesehatan China, pasien meninggal dan yang dirawat di rumah sakit wilayah Jinzhai, semuanya berasal dari Provinsi Anhui.

Juru bicara pemerintah China, komisi kesehatan kota Lu’an, Provinsi Anhui, membenarkan laporan penyakit SFTS ini pada Jumat (10/7) malam.

Laporan dari otoritas kesehatan tersebut menepis desas-desus bahwa kematian itu disebabkan oleh demam berdarah. Sebelumnya, rumor yang beredar di internet mengatakan kasus kematian di Jinzhai diakibatkan oleh demam berdarah yang juga disebarkan oleh serangga.

BACA JUGA:  Alhamdulillah, 90.000 Masjid di Arab Saudi dibuka Kembali Usai Pelonggaran Lockdown

“SFTS yang disebabkan oleh gigitan kutu adalah penyakit epidemi baru yang berasal dari alam yang telah muncul di beberapa wilayah China dalam beberapa tahun terakhir. Penyakit ini menginduksi gejala seperti demam berat, trombositopenia, mual, dan muntah, mirip dengan gejala demam berdarah,” kata laporan itu dikutip India Today.

Gigitan Kutu

Seorang staf pengontrol penyakit dari komisi kesehatan Lu’an mengatakan, Lu’an adalah daerah pegunungan dengan para penduduk desa yang bekerja di ladang sering digigit oleh kutu dan lintah. Orang yang rentan terhadap gigitan serangga lebih mungkin terserang penyakit yang ditularkan serangga.

Penyakit ini disebabkan oleh novel bunyavirus yang baru, yang disebarkan oleh kutu. Pasien yang terinfeksi novel bunyavirus dapat menyebarkan virus ke orang lain. Selain itu, darah mayat pasien dan lendir darahnya juga dapat menular penyakit.

BACA JUGA:  Seolah Pandemi Covid-19 Telah Pergi, Wuhan Sudah Gelar Party Seperti Ini

Pihak berwenang mengingatkan masyarakat setempat bahwa gigitan kutu juga menyebarkan penyakit radang otak dan demam berdarah. Penyakit SFTS bukan pertama kalinya muncul di China.

Laporan Global Times mengatakan, ada makalah penelitian yang menunjukkan bahwa China telah melihat kasus serupa pada 2011 lalu. Sebuah studi yang diterbitkan di Nature edisi 2019 lalu mengatakan, antara 2011 dan 2016, ada total 5.360 kasus SFTS yang dikonfirmasi laboratorium di China.

“Sebagian besar kasus SFTS terjadi pada individu yang berusia antara 40 tahun dan 80 tahun (91,57 persen). Jumlah negara yang terkena dampak dari 2011 hingga 2016 meningkat tajam dari 98 menjadi 167,” kata penelitian tersebut.

BACA JUGA:  Singapura Buka Akses Transit Bagi Pelancong dari Indonesia

Sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) Amerika Serikat dalam laporannya menjelaskan, SFTS telah diidentifikasi di China, Korea Selatan, dan Jepang sejak 2009. CDC menemukan bukti retrospektif infeksi virus SFTS (SFTSV) di Vietnam.

SFTS, menurut CDC, memiliki gejala utama seperti demam yang sangat tinggi, serta penurunan trombosit darah yang menyebabkan pendarahan jaringan, memar, dan memperlambat pembekuan darah. Menurut studi terbarunya belum lama ini, tingkat kematian untuk SFTS di Korea Selatan mencapai 47,2 persen. Saat ini belum ada pengobatan atau vaksin yang tersedia.

Kumparan

Berita Terkait

Peternakan Kecoa Ilegal Digerebek di Australia: Lebih dari 100 Ribu Ekor Disita, Nilainya Tembus Rp2,5 Miliar
Imigrasi Kepri Perkuat Sinergi dengan ICA Singapura, Bahas Pengawasan Perbatasan hingga Laga Persahabatan
Di Makkah, Amsakar Jumpa Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak dan Puji Layanan Haji Reguler
Arab Saudi Setop Pembangunan The Mukaab, Proyek ‘Ka’bah Baru’ Vision 2030
Relawan Kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 Asal RI Bebas dari Penahanan Israel
Membanggakan! Alumni MA Bustanul Ulum Midai Raih Prestasi Gemilang di Kejuaraan Silat Internasional
Trump Sesumbar Bisa Ratakan Iran Hanya dalam 48 Jam
Suhu Ekstrem Meningkat: 56 Kasus dan 2 Korban Jiwa di Malaysia Akibat Heat Stroke
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 05:15 WIB

Peternakan Kecoa Ilegal Digerebek di Australia: Lebih dari 100 Ribu Ekor Disita, Nilainya Tembus Rp2,5 Miliar

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:35 WIB

Imigrasi Kepri Perkuat Sinergi dengan ICA Singapura, Bahas Pengawasan Perbatasan hingga Laga Persahabatan

Senin, 25 Mei 2026 - 15:47 WIB

Di Makkah, Amsakar Jumpa Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak dan Puji Layanan Haji Reguler

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:41 WIB

Arab Saudi Setop Pembangunan The Mukaab, Proyek ‘Ka’bah Baru’ Vision 2030

Jumat, 22 Mei 2026 - 12:19 WIB

Relawan Kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 Asal RI Bebas dari Penahanan Israel

Berita Terbaru