Mencekam! Warga Asing Mulai Tinggalkan Shanghai

- Publisher

Sabtu, 30 April 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana di Shanghai berubah ke arah semakin mencekam. Hal ini imbas dari penyebaran COVID-19 di kota ini, Pemerintah Cina telah memberlakukan lockdown ketat di seluruh wilayah. Foto: Istimewa

Suasana di Shanghai berubah ke arah semakin mencekam. Hal ini imbas dari penyebaran COVID-19 di kota ini, Pemerintah Cina telah memberlakukan lockdown ketat di seluruh wilayah. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Suasana di Shanghai berubah ke arah semakin mencekam. Hal ini imbas dari penyebaran COVID-19 di kota ini, Pemerintah Cina telah memberlakukan lockdown ketat di seluruh wilayah.

Sebagian besar penduduk asing atau ekspatriat mulai meninggalkan Shanghai. Hal ini merusak daya tarik kota paling kosmopolitan di selatan Cina ini. Dan ini mendorong orang lain untuk memikirkan kembali masa depan mereka di kota metropolitan tersebut.

”Jumlah orang asing di Cina telah berkurang setengahnya sejak pandemi dan dapat berkurang setengahnya lagi musim panas ini,” kata Presiden Kamar Dagang Eropa, Joerg Wuttke.

Sekolah internasional Inggris Wellington College International Shanghai mengirim surat kepada orang tua pada 15 April. Surat tersebut menyatakan bahwa beberapa guru di sekolah tersebut ingin kembali ke negara asal mereka.

BACA JUGA:  Melangkah ke Era Digital Mandiri, China Uji Teknologi Internet Satelit

Beberapa keluarga sedang mempertimbangkan kembali masa depan mereka di Shanghai. Dan memperpanjang batas waktu bagi orang tua untuk menarik anak-anak mereka dari sekolah.

Survei Kamar Dagang Amerika pada April menemukan, 44,3 persen responden mengatakan, mereka akan kehilangan staf ekspatriat jika pembatasan COVID-19 tetap berlaku hingga tahun depan. Pembatasan di Shanghai awalnya hanya untuk lima hari. Tetapi pembatasan terus hingga minggu keempat, dan tidak ada kejelasan kapan pembatasan tersebut selesai.

Beberapa ekspatriat yang telah meninggalkan Shanghai mengatakan, mereka harus menempuh upaya yang sulit untuk mencapai bandara. Mereka harus membayar taksi dengan harga tinggi yaitu mencapai 500 dolar AS. Padahal biasanya mereka hanya membayar taksi seharga 30 dolar AS.

BACA JUGA:  Varian Baru Virus Corona Menyebar Lebih Cepat, Ini Yang Perlu Diketahui

Para ekspatriat juga harus berjuang melawan pekerja yang menghalangi kepergian mereka. Para ekspatriat juga terdampar di bandara setelah penerbangan mereka tiba-tiba batal.

Salah satu ekspatriat menggambarkan bagaimana dia dan putrinya yang berusia lima bulan tidur di lantai Bandara Pudong selama seminggu. Dan kehabisan makanan. Dia terpaksa menginap di bandara karena memiliki masalah dengan dokumen bayinya, yang membuat dia tidak bisa naik pesawat. Penguncian telah menutup kantor visa dan banyak perusahaan administrasi di Shanghai

BACA JUGA:  PPKM Level 4 Diperpanjang atau Tidak? Ini Jawaban Jokowi

Shanghai adalah basis bagi sebaian besar perusahaan multinasional dan telah lama menjadi magnet bagi ekspatriat. Shanghai menjadi rumah bagi 164 ribu penduduk asing tahun lalu. Jumlah tersebut menurun dari 2018, dengan 215 ribu pemegang visa kerja.

Seorang warga asing Jennifer Li berencana meninggalkan Shanghai. Dia telah sebelas tahun tinggal di kota tersebut. Li menggambarkan bagaimana dia dan keluarganya mengalami kesulitan mendapatkan makanan, dan ketakutan akan dipisahkan dari anggota keluarga jika terinfeksi COVID-19.

”Penanganan COVID-19 membuat kita sadar betapa nyawa manusia dan kesehatan mental manusia tidak penting bagi pemerintah ini,” ujar Li. (RP/MINEWS)

Berita Terkait

Obama Bicara soal AI jika Maju Capres AS 2028: Anak-anak Harus Dilindungi
BP Batam Perkuat Promosi KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam di Medical Fair 2026
BP Batam Tawarkan Proyek Waste to Energy kepada Calon Mitra di Jepang
Ferrari Luce Pertama Laku Rp713,7 Miliar, Pembelinya Dokter Mata Berusia 87 Tahun
Guci Tua Berisi 100 Lebih Perhiasan yang Terkubur 1.200 Tahun, Ditemukan di Jalur Haji Menuju Makkah
AS: Jalur Pelayaran Sementara di Selat Hormuz Dibuka Tanpa Izin dan Biaya
Puluhan Ribu Xpeng X9 Direcall! Masalah Suspensi Udara Berpotensi Ganggu Kendali Mobil, Apakah Unit Indonesia Terdampak?
Anwar Ibrahim Tegaskan Malaysia Akan Usir Warga Israel yang Masuk ke Negaranya

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 07:49 WIB

Obama Bicara soal AI jika Maju Capres AS 2028: Anak-anak Harus Dilindungi

Minggu, 13 September 2026 - 12:32 WIB

BP Batam Perkuat Promosi KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam di Medical Fair 2026

Senin, 7 September 2026 - 10:51 WIB

BP Batam Tawarkan Proyek Waste to Energy kepada Calon Mitra di Jepang

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:13 WIB

Ferrari Luce Pertama Laku Rp713,7 Miliar, Pembelinya Dokter Mata Berusia 87 Tahun

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:11 WIB

Guci Tua Berisi 100 Lebih Perhiasan yang Terkubur 1.200 Tahun, Ditemukan di Jalur Haji Menuju Makkah

Berita Terbaru