Kemajuan yang telah mereka perjuangkan selama bertahun-tahun soal hak-hak perempuan sepertinya akan segera runtuh.
Untuk saat ini, penegakan hukum atas aturan hijab baru ini terlihat masih relatif lemah.
Namun banyak yang khawatir Taliban akan semakin ketat dalam waktu dekat – para presenter TV kini diperintahkan untuk mengenakan penutup wajah saat siaran. Padahal kebanyakan Muslim di seluruh dunia, tidak beranggapan perempuan harus menutupi wajahnya.
Di sekitar kota Kabul, masih banyak perempuan yang tak mengenakan penutup wajah, dan banyak pula yang hadir saat para inspektur dari Kementerian Kebaikan dan Kebijakan. Namun mereka sepertinya tidak terganggu dengan kehadiran para inspektur, meski sebagian memandang dengan khawatir.
Namun terlihat jelas bahwa Taliban kini terlihat semakin represif. Aktivis perempuan Leila Baseem berada di atas salah satu bus yang dihentikan oleh anggota Kementerian Kebaikan dan Kebijakan, tak alam setelah “aturan hijab” ini dikeluarkan.
Da mengatakan seorang inspektur mengetuk bagian belakang kendaraan dengan tongkat dan melangkah masuk.
“Dua orang perempuan mengenakan burka,” kata Baseem kepada BBC. “Yang lainnya, seperti saya, memakai rok panjang hitam dengan masker operasi. Saya berkata kepada mereka, tidak ada yang tidak memakai hijab di sini,” lanjutnya.
“Dia tidak melihat ke arah saya tapi dia berkata, Anda adalah perempuan yang tidak tahu malu. Ini bukan Republik Afghanistan, sekarang ini adalah Emirat Islam. Anda tidak bisa melakukan apa yang Anda mau lagi,” ungkapnya.
Leila Baseem, yang memimpin protes skala kecil menentang keputusan Taliban menutup sekolah menengah bagi perempuan, berkata inspektur itu menuduhnya telah bekerja untuk “Amerika” dan kini “ingin hidup dengan budaya Amerika”, sebelum supir bus itu memintanya untuk tidak menjawab lagi tuduhan sang inspektur.
Baseem pun pesimistis terhadapi kondisi ini. “Saya yakin bila perempuan menerima aturan tentang cadar, Taliban akan mengeluarkan perintah lain lagi dan menyuruh mereka tetap berada di rumah,” ujarnya.
Para inspektur dari Kementerian Kebaikan dan Kebijakan berpendapat, mereka tengah memberantas kerusakan moral di masyarakat.

















