Sejarah Persis, Berawal dari Kelompok Tadarusan

- Admin

Kamis, 15 September 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bendera Persatuan Islam (Persis). Foto: Istimewa

Bendera Persatuan Islam (Persis). Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Organisasi Massa (ormas) Islam yang cukup besar anggotanya selain Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah adalah Persatuan Islam (Persis).

Organisasi ini merupakan salah satu organisasi pembaharuan yang muncul pada awal ke-20. Persis berawal dari suatu kelompok tadarusan di kota Bandung di bawah pimpinan H Muhammad Zamzam dan Muhammad Yunus.

Sejak awal pendiriannya, Persis lebih menitik beratkan perjuangannya pada dakwah dan pendidikan Islam. Kelompok tadarusan yang awalnya hanya berjumlah sekitar 20an orang ini pun semakin mengetahui hakitat Islam yang sebenarnya. Mereka menjadi sadar bahaya keterbelakangan, kejumudan, penutupan pintu ijtihad, taklid buta, dan serangkaian bid’ah.

Pada tahun-tahun pertamanya, organisasi ini hanya memiliki anggota sekitar 20an orang. Aktivitas pun berakar pada shalat Jum’at ketika anggota datang bersama-sama. Mengikuti kursus-kursus pengajaran agama sejumlah tokoh Persis. Perlu diketahui seluruh aktivitas dakwah mandiri dan dibiayai sendiri oleh kedua pendirinya yang berprofesi sebagai wirausahawan.

Ahmad Hassan
Organisasi ini mendapat bentuknya setelah masuknya Ahmad Hassan pada tahun 1926 dan Mohammad Natsir pada 1927. Ahmad Hassan merupakan seorang pendatang dari Singapura. Ia adalah keturunan keluarga India Tamil yang menetap di wilayah itu. Meskipun tidak menuntaskan pendidikan sekolah dasar, tetapi Ahmad Hassan sejak kecil telah memperoleh pendidikan agama yang kuat dari berbagai ulama terkenal di Singapura dan Sumatera.

Baca Juga :  Batalkan Haji, Arab Saudi Apresiasi Pemerintah Indonesia

Pada tahun 1940, Ahmad Hassan beserta 25 muridnya pindah ke Bangil, Jawa Timur dan pesantren yang berada di Bandung dilanjutkan oleh KH Endang Abdurrahman.

Pada masa penjajahan Jepang, organisasi ini kurang berkembang karena menentang kebijaksanaan penjajah yang mewajibkan melakukan Sei kerei (penghormatan kepada kaisar Jepang dengan cara membungkukkan badan ke arah Tokyo).

Menjelang kemerdekaan, barulah organisasi ini mulai tertarik dengan masalah politik. Para tokoh Persis berpandangan bahwa kembali ke Al Quran dan Sunah itu tidak hanya terbatas dalam akidah dan ibadah, tetapi juga berjuang dalam politik untuk memenangkan ideologi Islam.

Dalam menjalankan dakwahnya, Persis rajin membuat sejumlah media cetak berupa majalah. Sejak penghujung 1920-an telah menerbitkan majalah, yakni Pembela Islam (1929). Selanjutnya majalah lain terbit berturut-turut sepanjang tahun 1930-an, yakni Al-Fatwa (1931), Al-Lissan (1935), At-Taqwa (1937), dan Al-Hikam (1939).

Baca Juga :  Update : Jokowi Tiba Di RST Slamet Riyadi

Menjelang berakhirnya masa revolusi, organisasi ini kembali menerbitkan majalah baru bernama Aliran Islam pada 1948. Selanjutnya mereka juga menerbitkan majalah Risalah (1962), Iber (1967), dan Pemuda Persis Tamaddun (1970).

Persis pada umumnya kurang memberikan tekanan kepada kegiatan organisasi. Mereka tidak terlalu berminat menambah sebanyak mungkin anggota. Pembentukan cabang tergantung pada inisiatif peminat semata dan bukan berdasarkan rencana yang dilakukan oleh pimpinan pusat.

Masyumi
Pada 8 November 1945, Persis turut mempelopori lahirnya Partai Masyumi di Yogyakarta. Sebagai wadah politik umat Islam di Indonesia, Persis menjadi anggota istimewa di dalam Masyumi di samping Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Selain bergabung dengan Masyumi, Persis juga melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali sistem organisasi yang sebelumnya dibekukan oleh Jepang. Setelah reorganisasi tahun 1948, Persis berada di bawah kepemimpinan KH Isa Anshary dari tahun 1948-1960.

Pada muktamar Persis ke-7 di Bangil (2-5 Agustus 1960), berkembang wacana agar Persis berubah formatnya dari organisasi massa menjadi organisasi politik dengan nama baru Jama’ah Muslimin. KH Isa Anshary yang pertama kali melontarkan wacana ini.

Baca Juga :  World Water Forum ke-10 Tuntun Kolaborasi Dunia Atasi Permasalahan Air

Sementara itu pihak lain menginginkan Persis tetap eksis sebagai ormas Islam yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan.

Gagasan dari Isa Anshary mendapat penolakan dari KH E Abdurrahman yang lebih memilih mempertahankan bentuk asli organisasi. Abdurrahman mendapat dukungan kuat dari pimpinan pusat Pemuda Persis. Melalui pertarungan yang alot dalam muktamar, akhirnya Abdurrahman terpilih menjadi ketua umum.

Bergantinya tampuk kepemimpinan dan perubahan situasi negara rupanya mempengaruhi pada penampilan Persis di publik. Jika pada masa kepemimpinan KH Isa Anshary, lebih kental dan akrab dengan politik praktis, maka pada masa kepemimpinan baru ini Persis tidak begitu peduli politik. Bahkan Abdurrahman mengeluarkan Tausiah (fatwa) yang melarang semua anggota dan pesantren serta ustaz untuk aktif di bidang politik praktis.

Selama masa kepemimpinan KH. E Abdurrahman dari tahun 1962-1983, Persis menunjukkan kecenderungan pada kegiatan-kegiatan sekitar tabligh dan pendidikan dari tingkat pusat hingga cabang.

KH E Abdurrahman lebih mengorientasikan sebagai organisasi agama. Ia mengambil pola kepemimpinan ulama, bukan kepemimpinan politik. Pada masa inilah Persis kembali kepada garis perjuangannya. (DI/MINEWS)

Berita Terkait

Puasa 2026 Segera Tiba, Siswa Dapat Libur Tiga Hari di Awal Ramadan
Polri Mulai Berlakukan KUHP dan KUHAP Baru, Penegakan Hukum Masuki Babak Baru
Cara Cek Hasil Nilai TKA Kemendikdasmen 2025, Lengkap dan Resmi
Mulai Januari 2026, Sebut Teman ‘Anjing’ Bisa Berujung Bui
Hakim PN Batam Dipecat Tidak Hormat, Terbukti Selingkuh dengan Anggota Ormas
Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang Terjaring OTT KPK Bersama 9 Orang Lainnya
Endipat Sentil Kinerja Komdigi, Tegaskan Kritik Bukan Ditujukan kepada Relawan
PPPK BGN 2025 Resmi Dibuka, Begini Tata Cara dan Syarat Lengkap Pendaftarannya
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 4 Januari 2026 - 10:58 WIB

Puasa 2026 Segera Tiba, Siswa Dapat Libur Tiga Hari di Awal Ramadan

Sabtu, 3 Januari 2026 - 08:54 WIB

Polri Mulai Berlakukan KUHP dan KUHAP Baru, Penegakan Hukum Masuki Babak Baru

Jumat, 26 Desember 2025 - 10:19 WIB

Cara Cek Hasil Nilai TKA Kemendikdasmen 2025, Lengkap dan Resmi

Rabu, 24 Desember 2025 - 10:17 WIB

Mulai Januari 2026, Sebut Teman ‘Anjing’ Bisa Berujung Bui

Senin, 22 Desember 2025 - 17:30 WIB

Hakim PN Batam Dipecat Tidak Hormat, Terbukti Selingkuh dengan Anggota Ormas

Berita Terbaru

TNI berhasil menyelesaikan pembangunan dua jembatan Bailey di kawasan Jamur Ujung, Kabupaten Bener Meriah, yang berada pada ruas jalan strategis Bireuen – Bener Meriah – Takengon. Foto: TNI AD

Daerah

TNI AD Rampungkan Dua Jembatan Bailey di Bener Meriah

Selasa, 13 Jan 2026 - 14:14 WIB