Mengenang Riyanto, Banser NU Penyelamat Umat Gereja Eben Haezer

- Publisher

Kamis, 24 Desember 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Riyanto (ist)

Riyanto (ist)

INIKEPRI.COM – Anggota Banser NU Riyanto adalah pahlawan untuk Gereja Jemaat Pantekosta Indonesia atau GSJPDI Eben Haezer. Riyanto rela mati untuk menyelamatkan umat Nasrani yang tengah doa Natal. 

Anggota Banser NU Riyanto hidup dalam keabadian setiap perayaan Natal. Dikutip dari Suara.com yang pernah memberitakan kenangan aksi heroik Riyanto dari Rudi Sanusi Wijaya, pendeta Gereja Eben Haezer. Dia mengenang peristiwa itu pada 26 Desember 2016.

Malam itu, Riyanto sudah bersiap meninggalkan rumah untuk menjalankan tugas dari sang komandan.

Ia lantas pamit kepada sang ayah, Sukarmin, Namun, siapa sangka, ia yang berpamit tak lagi pernah bisa pulang.

Senin tanggal 24 Desember pada 17 tahun silam itu masih sore. Namun, Riyanto yang kala itu masih berusia 25 tahun sudah berpamitan kepada ayahnya untuk pergi bertugas.

Oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU), Riyanto diperintahkan menjaga Gereja Jemaat Pantekosta Indonesia (GSJPDI) Eben Haezer, Jalan Kartini Nomor 4, Kota Mojokerto, Jawa Timur.

BACA JUGA:  James Richardson Logan, Pencetus Kata 'Indonesia' Pertama Kali

Riyanto menjaga umat Kristen yang mengadakan misa malam Natal 2000 di gereja tersebut, bersama dengan tiga rekannya.

Awalnya, Riyanto dkk bertugas seperti biasa. Berpatroli keliling gereja.

Namun, situasi berubah pada pukul 20.30 WIB. Persisnya ketika seorang jemaat menemukan dua barang mencurigakan di dua lokasi berbeda dalam lingkungan gereja.

“Ada bungkusan tas plastik di bawah telepon umum depan gereja. Satu barang lainnya adalah tas berisi kado. Kami temukan di bawah bangku gereja,” tutur Rudi.

Pengurus gereja khawatir sekaligus panik. Mereka mengkhawatirkan dua benda mencurigakan itu berisi bom.

“Karena bungkusan plastik di bawah telepon umum itu berisi rangkaian kabel,” kata Rudi.

Pengurus gereja lantas memberitahukan temuan itu kepada anggota Banser NU yang melakukan penjagaan. Setelahnya, Riyanto berinisiatif membuka bungkusan dalam tas hitam yang tampak terdapat kabel menjulur.

Riyanto panik ketika membuka tas itu, karena terdapat percikan api.

BACA JUGA:  Pengumuman! Warga RI Jangan ke Luar Negeri Dulu Ya

“Tiaraappp!” teriak Riyanto memperingatkan khalayak untuk berlindung.

Ia lantas membuang jauh-jauh tas tersebut agar tidak meledak dalam gereja. Ia lemparkan bom tersebut ke tempat sampah di luar gereja. Sayang, lemparannya tak tepat. Tas itu justru terpental.

Riyanto tak putus asa. Ia lantas kembali mengambil tas berisi bom tersebut. Riyanto memutuskan untuk lari sekencang-kencangnya sembari membawa bom itu. Tujuannya hanya satu, membawa bom itu keluar dari lingkungan gereja.

Namun, bom dalam pegangannya itu keburu meledak. Riyanto tewas. Jemaat berteriak histeris. Pagar gereja roboh berantakan. Kaca almari dan etalase Studio Kartini yang persis di seberang depan gereja hancur.

Tiga jam kemudian, sisa potongan tubuh Riyanto ditemukan di sebelah utara kompleks gereja. Persisnya 100 meter dari pusat ledakan.

“Jemaat gereja kami, dan juga umat Kristen di Mojokerto selalu mendoakan Riyanto dalam setiap perayaan Natal. Kami juga selalui memperingati haulnya,” tutur Pendeta Rudi.

Tak hanya itu, pihak gereja juga membiayai sekolah salah satu adik Riyanto, yakni Supartini. Sang adik diberikan beasiswa sejak SMA hingga menyelesaikan kuliahnya di Universitas Islam Majapahit (UIM) Mojokerto, tahun 2011. Kekinian, Supartini sudah bekerja.

BACA JUGA:  Projo ke Erick Thohir: Relawan Berkompeten Jadi Komisaris BUMN

Selain dari pihak gereja, Pemkot Mojokerto juga menghargai kepahlawanan Riyanto. Oleh pemkot, nama Riyanto kekinian dijadikan nama jalan di wilayah Kelurahan/Kecamatan Prajuritkulon.

Nama Riyanto diabadikan menjadi nama jalan (ist)

Terlepas dari semua penghargaan itu, Romo Alexus, pastor Katolik di Mojokerto, menilai pengorbanan Riyanto tak bisa dinilai dengan apa pun.

“Riyanto adalah contoh nyata kepedulian menjaga keamanan dalam kebinekaan,” tutur Romo Alexus saat memimpin doa dalam acara penganugerahan gelar “Pejuang Kemanusiaan” bagi Riyanto dari Gerakan Peduli Pejuang Republik Indonesia (GPPRI) tahun 2016.

“Riyanto memang telah tiada, tapi kisahnya patut diketahui semua orang dan patut dijadikan contoh. Riyanto mati untuk memberi hidup, khususnya kepada umat Kristen. Itu seperti Yesus yang berkorban dan mati untuk umatnya,” tutur Romo Alexus. (ER/Suara)

Berita Terkait

Tak Perlu ke Kantor Dukcapil, Begini Cara Cetak KK Sendiri dari Rumah
Pindah KK ke Luar Kota Tak Perlu Surat RT/RW, Ini Syarat dan Cara Mengurusnya
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Ini Capaian Program dan Target Ekonomi 2027
Nasib Driver Ojol Mulai Terungkap, RUU Baru Atur Status hingga Hak Pekerja
Resmi Dilantik Prabowo, Ini Daftar 24 Anggota Wantimpres Periode Baru
Kabar Baik! BSU Kembali Cair Oktober 2026, Pekerja Bakal Terima Rp900 Ribu Sekaligus
Lansia Belum Punya Akta Kelahiran? Ini Syarat dan Cara Mengurusnya
242 Ribu Guru PPPK Paruh Waktu Dialihkan Jadi Penuh Waktu Mulai 1 Januari 2027

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:04 WIB

Tak Perlu ke Kantor Dukcapil, Begini Cara Cetak KK Sendiri dari Rumah

Minggu, 11 Oktober 2026 - 09:48 WIB

Pindah KK ke Luar Kota Tak Perlu Surat RT/RW, Ini Syarat dan Cara Mengurusnya

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:00 WIB

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Ini Capaian Program dan Target Ekonomi 2027

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:13 WIB

Nasib Driver Ojol Mulai Terungkap, RUU Baru Atur Status hingga Hak Pekerja

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:05 WIB

Resmi Dilantik Prabowo, Ini Daftar 24 Anggota Wantimpres Periode Baru

Berita Terbaru