Pentingnya Membangun Atmosfer Akademik di Perguruan Tinggi

- Publisher

Senin, 31 Mei 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(ist)

(ist)

INIKEPRI.COM – Dosen Poktekes Kemenkes Tanjungpinang, Indra Martias, SKM, MPH mengatakan academic atmosphere merupakan hal yang harus diterapkan pada setiap lembaga pendidikan.

Dimana semua sisi bagian dari lembaga pendidikan, mahasiswa, dosen, staff, maupun lingkungan kampus dapat saling bekerjasama dan saling mendukung.

Hal tersebut, untuk membuat suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, positif, penuh semangat, dan menciptakan hal-hal baru yang bermanfaat bagi pribadi, lembaga pendidikan, dan masyarakat, sehingga tercipta lulusan-lulusan berkualitas.

Dalam peraturan pemerintah nomor 37 tahun 2009 disebutkan bahwa seorang dosen harus mampu memahami esensi pendidik dan ilmuwan dari profesi seorang dosen.

“Maka niat untuk membangun atmosfer akademis di kalangan dosen bisa dijalankan dengan mudah,” kata Indra, Minggu (30/5/2021).

Indra memaparkan apa yang dikatakan Profesor Rhenald Kasali bahwa dari 100% pengajar di perguruan tinggi negeri, ternyata hanya 2% di antara mereka yang meraih gelar S3.

BACA JUGA:  DPRD Tanjungpinang Sahkan LKPJ APBD 2022 Menjadi Perda

Dan dari ratusan doktor atau Ph.D, ternyata hanya sekitar 2% yang aktif melakukan publikasi dan menjadi guru besar.

Lalu, lebih dari seratus guru besar yang ada, hanya 2% yang menjalankan apa yang mereka tulis dan menghasilkan impact dalam masyarakat.

Indra menilai bila kegiatan membaca dan menulis tidak segera dibangun di kalangan dosen, rasa-rasanya keinginan untuk memiliki publikasi ilmiah baik skala lokal, nasional, ataupun international, sebagai salah satu parameter produktivitas kinerja seorang dosen akan sulit untuk dimiliki.

“Menulis bukan saja sebagai kebutuhan untuk peningkatan karier dosen, akan tetapi sebagai tanggung jawab moral sebagai seorang pendidik dan ilmuan,” katanya.

Dengan demikian, reward diberikan kepada para dosen yang berhasil mempublikasikan karya ilmiahnya, esensinya mendorong para dosen agar aktif berkarya, hingga karyanya bisa dipublikasikan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

BACA JUGA:  Berkah Ramadhan, PJ Wako Hasan Tinjau Bazar Ramadhan Kelurahan Air Raja

Tentu, akses fasilitas pendukung untuk menulis sangat dibutuhkan guna meningkatkan kemampuan menulis dosen.

“Tanpa adanya akses fasilitas pendukung untuk menulis, rasa-rasanya jangan berharap dosen akan bisa menghasilkan tulisan,” ucap dia.

Lebih lanjut dikatakan Indra, bentuk akses fasilitas yang akan diberikan oleh perguruan tinggi, misalnya koleksi buku di perpustakaan yang lengkap, berlangganan jurnal dan buku dari publisher yang bereputasi.

Ruang riset dan menulis yang nyaman bagi dosen, mengadakan pelatihan atau klinik penulisan akademik secara berkala, mengikutsertakan dosen-dosen secara bergiliran pada pelatihan penulisan akademik di luar kampus, dan lain sebagainya.

Maka itu, diperlukan karakteristik kepribadian ilmiah dosen dalam mengembangkan model atmosfer akademik yaitu nilai tanggungjawab, nilai kejujuran, nilai kekritisan, nilai ketekunan, nilai keingintahuan, dan nilai kepedulian.

Serta interaksi secara baik dengan mahasiswa, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sehingga iklim kampus yang beretika dan bermoral dapat terbentuk.

BACA JUGA:  Gubernur Kepri Canangkan Vaksinasi Untuk Ibu Hamil, Diawasi Spesialis Kandungan

Mahasiswa juga harus disiapkan menjadi alumni yang siap untuk bekerja dan bisa membedakan atmosfer dalam dunia kerja nantinya.

Menurut Indra, atmosfer akademik dalam dunia pendidikan tinggi tentunya berbeda dengan atmosfer birokratik dalam sistem pemerintahan dan atmosfer profit pada sektor swasta yang lebih berorientasi pada keuntungan atau benefit.

Membangun atmosfer akademis di kalangan dosen menjadi salah satu parameter bahwa tridharma perguruan tinggi telah dijalankan dengan baik oleh perguruan tinggi yang bersangkutan.

Sehingga, dengan dijalankannya tridharma perguruan tinggi, perguruan tinggi tidak hanya semata-mata menjadi pabrik pencetak lembaran ijazah sebagai bukti bahwa seseorang pernah kuliah.

“Tetapi, perguruan tinggi harus mampu menghasilkan karya sebagai bukti bahwa masyarakat kampus yang terdiri dari dosen dan mahasiswa pernah berpikir, untuk menghasilkan mahakarya yang bermanfaat besar terhadap kehidupan umat manusia,” tutur Indra. (ET)

Berita Terkait

Kabar Baik! Tanjungpinang Usulkan Ribuan Rumah untuk Warga Berpenghasilan Rendah
BP Batam Gandeng Kejati Kepri Perkuat Penanganan Masalah Hukum
MTQH XX Tanjungpinang 2026 Resmi Dibuka, Melayu Square Bergemuruh Penuh Semarak
Bikin Siswa Antusias, ‘Naruto, One Piece dan Vampir’ Antar Makanan Bergizi ke MIN Tanjungpinang
Komisi IX DPR RI Tinjau Tambak Udang di Tanjungpinang, Dorong Investasi dan Serapan Tenaga Kerja
Perayaan 311 Tahun Nguan Thian Sian Tih Senggarang, Simbol Harmoni Budaya di Tanjungpinang
Temui Mitra Gojek, Lis Darmansyah Dorong Ojol Tanjungpinang Punya Usaha Sampingan
Siap Harumkan Nama Sekolah, Tiga Pesilat MTsN Tanjungpinang Tempur di Seleksi POPDA

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 07:40 WIB

Kabar Baik! Tanjungpinang Usulkan Ribuan Rumah untuk Warga Berpenghasilan Rendah

Selasa, 28 April 2026 - 20:57 WIB

BP Batam Gandeng Kejati Kepri Perkuat Penanganan Masalah Hukum

Selasa, 28 April 2026 - 09:18 WIB

MTQH XX Tanjungpinang 2026 Resmi Dibuka, Melayu Square Bergemuruh Penuh Semarak

Kamis, 23 April 2026 - 09:00 WIB

Bikin Siswa Antusias, ‘Naruto, One Piece dan Vampir’ Antar Makanan Bergizi ke MIN Tanjungpinang

Kamis, 23 April 2026 - 07:06 WIB

Komisi IX DPR RI Tinjau Tambak Udang di Tanjungpinang, Dorong Investasi dan Serapan Tenaga Kerja

Berita Terbaru