INIKEPRI.COM – Kabupaten Natuna selama ini lebih dikenal sebagai garda terdepan Indonesia di Laut Natuna Utara. Namun, penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap sisi lain yang selama ini jarang mendapat perhatian. Di balik posisinya sebagai wilayah perbatasan, Natuna ternyata menyimpan jejak panjang peradaban maritim yang telah membentuk identitas budaya masyarakat selama berabad-abad.
Temuan tersebut dipaparkan dalam Webinar Seri ke-83 Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN yang mengangkat hasil Ekspedisi Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (KOPK) di Kabupaten Natuna. Penelitian ini didukung Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dan melibatkan peneliti dari berbagai disiplin ilmu.
Kepala Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN, Ade Mulyanah, menegaskan bahwa penelitian bahasa dan sastra tidak hanya berfungsi sebagai upaya akademis, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga identitas bangsa.
Ia menjelaskan bahwa pengelolaan bahasa di ruang publik merupakan bagian dari strategi membangun karakter nasional, melestarikan kearifan lokal, serta menciptakan ruang publik yang inklusif tanpa menghilangkan jati diri Indonesia.
“Bahasa dan sastra bukan hanya media komunikasi. Keduanya menjadi fondasi penting untuk menjaga identitas budaya, memperkuat karakter bangsa, sekaligus memastikan warisan kebudayaan tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujar Ade.
Peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN, Suyadi, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lanskap sastra, yakni cara memandang suatu wilayah bukan hanya sebagai bentang geografis, tetapi juga sebagai ruang budaya yang menyimpan memori kolektif masyarakat.
Menurutnya, Natuna memiliki posisi yang sangat strategis dalam sejarah pelayaran Asia Tenggara. Sejak masa lampau, kawasan ini menjadi titik singgah pelaut, pedagang, hingga masyarakat dari berbagai kawasan Asia yang membawa bahasa, cerita rakyat, tradisi, dan berbagai bentuk ekspresi budaya.
“Selama ini Natuna lebih sering dipahami sebagai wilayah terdepan Indonesia dari sisi geopolitik. Padahal, kawasan ini juga merupakan ruang perjumpaan berbagai peradaban maritim yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Di sinilah berbagai budaya saling bertemu dan membentuk identitas masyarakat Natuna yang kita kenal hari ini,” kata Suyadi.
Ia menilai Natuna layak dipandang sebagai salah satu beranda kebudayaan Indonesia karena menyimpan rekam jejak interaksi lintas bangsa yang sangat kaya.
“Kami melihat Natuna bukan sekadar beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi juga beranda kebudayaan Indonesia yang menyimpan perjalanan panjang hubungan masyarakat Nusantara dengan dunia maritim Asia Tenggara,” ujarnya.
Dalam kajian tersebut, berbagai unsur budaya seperti cerita rakyat, legenda, manuskrip kuno, mitos, hingga tradisi lisan diperlakukan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari bentang alam Natuna.
Artinya, pantai, gugusan pulau, batu granit, hingga kawasan pesisir bukan hanya memiliki nilai geografis, melainkan juga mengandung makna sejarah dan budaya yang diwariskan lintas generasi.
“Saya meyakini bahwa sebuah tempat tidak hanya dibentuk oleh tanah dan batu, tetapi juga oleh cerita yang hidup di atasnya. Sastra menjadikan sebuah wilayah memiliki makna emosional, historis, sekaligus kognitif bagi masyarakat yang menempatinya,” jelasnya.
Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa Natuna memiliki kekayaan sastra lokal yang masih bertahan hingga sekarang. Tim ekspedisi berhasil mendokumentasikan berbagai bentuk tradisi seperti pantun adat, lagu rakyat Endang-Endang, cerita rakyat, mantra adat, hingga teater tradisional Mendu.
Meski sebagian tradisi masih digunakan dalam kehidupan masyarakat, BRIN mencatat beberapa di antaranya mulai menghadapi ancaman akibat semakin berkurangnya penutur maupun pelaku budaya.
Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal penting bahwa dokumentasi, revitalisasi, dan regenerasi budaya harus segera dilakukan agar warisan tersebut tidak hilang.
Selain tradisi lisan, penelitian juga menyoroti pentingnya toponimi atau penamaan wilayah sebagai bagian dari memori budaya masyarakat.
Berbagai nama yang pernah melekat pada Natuna, seperti Katunna, Pulau Serindit, dan Bunguran, dinilai bukan sekadar penanda geografis, melainkan menjadi teks budaya yang merekam dinamika sejarah serta hubungan masyarakat Natuna dengan dunia luar sejak masa lampau.
BRIN juga menilai pelestarian budaya Natuna memiliki nilai strategis dalam memperkuat identitas nasional, terutama di kawasan perbatasan.
Sejumlah tradisi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, di antaranya Teater Mendu, Gasing Natuna, Lang-Lang Buana, Betingkah Alu Selesung, Hadrah Natuna, Tari Tupeng Bunguran, Nyuloh Natuna, Kuah Tige, dan Tabel Mando, dinilai menjadi modal penting dalam memperkuat diplomasi kebudayaan Indonesia.
Melalui hasil riset ini, BRIN berharap Natuna tidak lagi dipandang hanya sebagai wilayah terluar Indonesia, melainkan sebagai salah satu simpul penting peradaban maritim Nusantara.
Temuan tersebut diharapkan menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah dalam memperkuat program pelestarian tradisi lisan, digitalisasi manuskrip, pengembangan pendidikan berbasis budaya lokal, hingga penyusunan kebijakan perlindungan warisan budaya di kawasan perbatasan.
Dengan demikian, kekayaan budaya Natuna tidak hanya tetap lestari, tetapi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas maritim Indonesia di masa depan.
Penulis : RBP
Editor : IZ

















