IHSG Anjlok 1,22 Persen ke Level 5.373, Investor Cermati Agenda Ekonomi Global

- Publisher

Senin, 26 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Foto: Istimewa

Ilustrasi. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. IHSG turun 66,16 poin atau 1,22 persen ke level 5.373,09, seiring dominasi saham yang berakhir di zona merah.

Mengutip data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka pada level 5.442,30. Indeks sempat menguat hingga mencapai posisi tertinggi harian di 5.453,65 pada awal sesi pertama.

Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. IHSG berbalik melemah menjelang pukul 10.00 WIB dan menyentuh level terendah harian di 5.349,75.

Indeks sempat kembali naik ke kisaran 5.400, tetapi tekanan jual kembali muncul. Pada sesi kedua, IHSG bergerak terbatas di rentang 5.360 hingga 5.390 sebelum akhirnya ditutup di level 5.373,09.

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi saham tercatat mencapai 285,61 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp12,61 triliun.

Sebanyak 542 saham mengalami penurunan, sedangkan 247 saham tidak mengalami perubahan. Sementara itu, hanya 174 saham yang berhasil menguat.

Pergerakan pasar turut menjadi perhatian investor menjelang sejumlah agenda ekonomi penting dunia yang dijadwalkan berlangsung sepanjang pekan ini.

Agenda tersebut meliputi pertemuan Partai Komunis China, rilis data ekonomi Amerika Serikat dan China, serta keputusan suku bunga sejumlah bank sentral utama dunia.

Delapan Agenda Ekonomi Global yang Dicermati Investor

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah Sidang Pleno Kelima Komite Sentral Partai Komunis China atau Communist Party Fifth Plenum yang dijadwalkan berlangsung pada 26 hingga 29 Oktober 2026.

BACA JUGA:  Kredit bjb Mesra bank bjb Raih Penghargaan Detik Jabar Awards 2023

Pertemuan tersebut membahas arah kebijakan strategis China, termasuk sektor ekonomi, industri, teknologi, dan pembangunan dalam beberapa tahun mendatang.

Hasil pertemuan itu menjadi perhatian investor karena kebijakan China dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi negara tersebut, perdagangan internasional, nilai tukar yuan, hingga permintaan komoditas global.

Selain itu, China dijadwalkan merilis data laba industri periode Januari hingga September 2026 pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Sebagai pembanding, laba industri China pada periode Januari hingga Agustus tumbuh 15,7 persen secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan 17,6 persen pada Januari hingga Juli.

Perkembangan terbaru data tersebut akan menjadi salah satu indikator untuk menilai kondisi sektor industri dan prospek permintaan komoditas dari China.

The Fed Jadi Perhatian Utama

Agenda berikutnya adalah keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan diumumkan pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 01.00 WIB.

Pasar memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75 hingga 4,00 persen. Meski demikian, investor akan mencermati pernyataan bank sentral mengenai perkembangan inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan arah kebijakan moneter berikutnya.

Keputusan The Fed menjadi penting bagi pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Perubahan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat dapat memengaruhi pergerakan dolar AS, nilai tukar rupiah, arus modal asing, serta minat investor terhadap saham dan Surat Berharga Negara (SBN).

Selain keputusan suku bunga, Amerika Serikat juga dijadwalkan merilis estimasi awal pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB.

BACA JUGA:  OJK Terbitkan Aturan Mengenai Unit Usaha Syariah

Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 3,2 persen secara kuartalan dalam perhitungan tahunan atau annualized, meningkat dibandingkan pertumbuhan 2,2 persen pada kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan yang lebih kuat dapat menunjukkan ketahanan ekonomi Amerika Serikat. Namun, apabila dibarengi tekanan inflasi yang tinggi, kondisi tersebut dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan pada level tinggi lebih lama.

Pada hari yang sama, pasar juga akan mencermati rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk September 2026.

Pada Agustus 2026, inflasi PCE tercatat 3,4 persen secara tahunan, sedangkan inflasi inti berada di level 3,0 persen.

Inflasi PCE inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, diperkirakan meningkat menjadi 3,1 persen secara tahunan pada September, dari 3,0 persen pada bulan sebelumnya.

Data ini menjadi perhatian karena PCE merupakan salah satu indikator utama yang digunakan The Fed untuk menilai perkembangan inflasi dan menentukan arah kebijakan suku bunga.

Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap berlanjutnya kebijakan moneter ketat. Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi investor untuk menilai kembali prospek suku bunga.

Keputusan ECB dan BOJ Turut Dicermati

Dari kawasan Eropa, Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 20.15 WIB, dilanjutkan konferensi pers pada pukul 20.45 WIB.

Pasar memperkirakan suku bunga operasi pembiayaan utama tetap di 2,65 persen, sementara suku bunga fasilitas simpanan bertahan pada 2,50 persen.

BACA JUGA:  Penggunaan QRIS di Kepulauan Riau Terus Tumbuh, Transaksi Digital Makin Meluas

Investor akan mencermati langkah ECB dalam menyeimbangkan risiko inflasi dan perlambatan ekonomi kawasan Eropa. Perkembangan harga energi dan prospek pertumbuhan ekonomi menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kebijakan bank sentral tersebut.

Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Pasar memperkirakan BOJ mempertahankan suku bunga di level 1,25 persen. Selain keputusan tersebut, investor akan memperhatikan laporan prospek ekonomi dan harga, termasuk proyeksi pertumbuhan, inflasi, perkembangan upah, serta konsumsi masyarakat Jepang.

Data Pertumbuhan Ekonomi Zona Euro

Agenda ekonomi global pekan ini ditutup dengan rilis estimasi awal pertumbuhan ekonomi zona euro kuartal III 2026 pada Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 17.00 WIB.

Ekonomi zona euro diperkirakan tumbuh 0,2 persen secara kuartalan, melambat dibandingkan pertumbuhan 0,6 persen pada kuartal sebelumnya.

Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut diproyeksikan mencapai 1,1 persen, turun dari 1,2 persen.

Perlambatan yang lebih tajam dari perkiraan dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Eropa dan menjadi pertimbangan bagi ECB dalam menentukan kebijakan moneter selanjutnya.

Di tengah berbagai agenda tersebut, investor akan mencermati perkembangan ekonomi dan arah kebijakan bank sentral global untuk memperkirakan pergerakan pasar keuangan dalam beberapa hari mendatang.

Bagi pasar saham Indonesia, perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi sentimen investor dan pergerakan IHSG.

Penulis : RBP

Editor : IZ

Berita Terkait

Investasi Korea di Batam Tembus USD65,1 Juta, BP Batam Jemput Peluang Baru di Seoul
Kabar Baik bagi Pelanggan PLN Batam! Kompensasi Blackout Otomatis Masuk Tagihan November
Danantara Ambil Alih Pengelolaan PLN Batam, Keandalan Listrik Jadi Taruhan
80 UMKM Batam Ikuti Sampiran Project 2026, Literasi Digital Jadi Kunci Perluas Pasar
Biaya Haji 2027 Resmi Disepakati Rp98,46 Juta, Pelunasan Turun Jadi Rp23,24 Juta
Gas Natuna Selangkah Lagi Mengalir ke Batam, Pipa Bawah Laut WNTS–Pemping Berhasil Diuji
Batam Dibidik Investasi Data Center, PLN Siapkan Tambahan Kapasitas Listrik
Rp11 Miliar Disiapkan, Pemko Batam Sudah Salurkan Rp2,73 Miliar ke 23 Usaha Mikro
Tag :

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:00 WIB

IHSG Anjlok 1,22 Persen ke Level 5.373, Investor Cermati Agenda Ekonomi Global

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:47 WIB

Investasi Korea di Batam Tembus USD65,1 Juta, BP Batam Jemput Peluang Baru di Seoul

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:10 WIB

Kabar Baik bagi Pelanggan PLN Batam! Kompensasi Blackout Otomatis Masuk Tagihan November

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Danantara Ambil Alih Pengelolaan PLN Batam, Keandalan Listrik Jadi Taruhan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:25 WIB

80 UMKM Batam Ikuti Sampiran Project 2026, Literasi Digital Jadi Kunci Perluas Pasar

Berita Terbaru