Mayoritas Orang Indonesia Tak Percaya Corona Ada, Kenapa?

- Publisher

Rabu, 29 Juli 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas menunjukkan hasil negatif pada alat pemeriksaan cepat (rapid test) COVID-19 usai memeriksa salah satu pedagang di kawasan Relokasi Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (14/5/2020). Pemeriksaan cepat terhadap sejumlah pedagang di pasar itu guna mengetahui kondisi kesehatan mereka sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19) di tempat keramaian. ANTARA FOTO/Aji Styawan/nz

Petugas menunjukkan hasil negatif pada alat pemeriksaan cepat (rapid test) COVID-19 usai memeriksa salah satu pedagang di kawasan Relokasi Pasar Johar, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (14/5/2020). Pemeriksaan cepat terhadap sejumlah pedagang di pasar itu guna mengetahui kondisi kesehatan mereka sebagai upaya untuk mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19) di tempat keramaian. ANTARA FOTO/Aji Styawan/nz

Jakarta, inikepri.com – Meski virus corona semakin menjadi-jadi, namun tak semua pihak sepakat pandemi tersebut benar-benar berbahaya. Bahkan, ada sejumlah kalangan yang secara tegas mengatakan, corona sejatinya tak pernah ada atau sekadar bualan tokoh berkepentingan. Beberapa pihak tak percaya corona.

Padahal, virus yang sudah menjangkiti 16,4 juta orang di dunia itu, telah melalui serangkaian uji medis dan terbukti berbahaya. Bahkan, cakupan penyebarannya diyakini terus meluas seiring dengan semakin banyaknya masyarakat yang berkegiatan di luar rumah.

Saat kita menelusuri media sosial, tak sedikit pihak yang menyangkal hal tersebut. Bagi mereka, pandemi yang pertama muncul di China itu hanya konspirasi elit global untuk menebar ketakutan. Banyak yang tak percaya corona. Parahnya lagi, banyak tokoh publik—seperti seniman atau selebritis yang meyakini hal serupa.

BACA JUGA:  Pemprov Kepri Memperbanyak Ruang Karantina Covid-19

Fenomena itu pada mulanya dipekikkan musisi band Superman is Dead atau SID, Jerinx. Namun kemudian, narasi yang sama mulai dimainkan Anji. Mereka yang tak berbekal ilmu epidemiologi dan virologi bersuara seakan meremehkan corona. Bahayanya, ada segelintir warganet yang merasa setuju dengan asumsi keduanya.

Terkait hal tersebut, Ketua Satgas Ikatan Psikolog Klinis Indonesia untuk Penanganan COVID-19, Annelia Sani Sari mengatakan, rasa tidak peduli masyarakat Tanah Air terhadap virus corona membuat mereka malas mencari informasi atau kebenarannya.

“Orang-orang yang ignorant (tidak peduli) umumnya tidak termotivasi untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya dan informasi yang valid,” ujar Annelia, dikutip dari Kumparan, Selasa 28 Juli 2020.

BACA JUGA:  4 Anak Novel Baswedan Positif Covid-19

Selain itu, kata dia, ada penyebab lain yang tak kalah pentingnya. Yakni, perubahan pola pikir terkait kebutuhan ekonomi. Menurut Annelia, ada sejumlah orang yang sebelumnya berpikir rasional mengenai corona, namun karena mereka harus kerja mencari uang, maka rasionalitas itu mendadak luntur dan berubah menjadi ragu.

“Kalau kita analisis di level sistem lagi, ada juga orang yang sampai ke level rasional. Tapi, karena ada kepentingan dia yang lain, biasanya ekonomi, ini yang bikin level rasional mereka kembali ke emosinya,” terang Annelia.

“Karena gen privasi ekonomi lebih menakutkan daripada penyakitnya, akhirnya dia melakukan rasionalisasi yang justru enggak rasional. Seolah-olah rasional, tetapi sebenarnya tidak. Itu yang namanya fallacy atau sesat berpikir,” tambahnya.

BACA JUGA:  Tim BLC Siapkan Poltek Batam Jadi Kampus Tangguh

Faktor Lain

Dilansir dari ABC News, profesor psikologi di Horry-Georgetown Technical College, Meredith Matson mengatakan, fenomena meremehkan virus corona terjadi berkat faktor compassion fatigue atau rasa bosan terhadap suatu hal.

Ia menjelaskan, compassion fatigue terjadi ketika sejumlah orang mulai bosan peduli terhadap sesuatu. Dalam hal ini, mereka bisa jadi penat mengikuti pedoman atau protokol kesehatan yang berlaku. Sehingga, mulai banyak yang membuka masker, bepergian ke luar rumah, dan meyakini virus tersebut tak pernah ada.

“(Mereka) lelah harus memikirkan: apakah saya punya masker wajah? Apakah saya harus membersihkan tangan dan makanan? Itu benar-benar luar biasa merepotkan, dan (lama-lama) banyak orang kelelahan karenanya,” kata Matson.

Hops.id

Berita Terkait

Rutin Konsumsi Madu Setiap Hari, Ini Manfaat dan Hal yang Perlu Diperhatikan
493 Kasus Flu Singapura, Batam Belum Terapkan Pembatasan Wisatawan
Dokter Gizi Ingatkan Susu Kental Manis Bukan Susu, Orang Tua Diminta Ubah Kebiasaan Anak Secara Bertahap
Catat! Ini 5 Jenis Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan
Waspada Virus Hanta, Dokter Ungkap Gejala Awal hingga Cara Pencegahannya
Batam Siaga Hantavirus, RSUD Embung Fatimah Disiapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan
Kasus Muncul di Beberapa Negara, Benarkah Hantavirus Jadi Covid-19 Berikutnya?
Hanya 20–30 Menit Sehari, Jalan Kaki Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 07:36 WIB

Rutin Konsumsi Madu Setiap Hari, Ini Manfaat dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:05 WIB

493 Kasus Flu Singapura, Batam Belum Terapkan Pembatasan Wisatawan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 12:59 WIB

Dokter Gizi Ingatkan Susu Kental Manis Bukan Susu, Orang Tua Diminta Ubah Kebiasaan Anak Secara Bertahap

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:35 WIB

Catat! Ini 5 Jenis Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:54 WIB

Waspada Virus Hanta, Dokter Ungkap Gejala Awal hingga Cara Pencegahannya

Berita Terbaru