14 Jam Mengapung di Samudera Pasifik, Bertahan dengan Pelampung Bekas

- Publisher

Jumat, 26 Februari 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (ist)

Ilustrasi (ist)

INIKEPRI.COM – Seorang pelaut terjatuh dari kapal dapat bertahan selama 14 jam dengan berpegang pada pelampung bekas yang ditemukan di laut.

Vidam Perevertilov menghabiskan waktu 14 jam di laut setelah jatuh dari kapal kargo di Samudera Pasifik pada dini hari, seperti yang dilansir dari BBC pada Kamis (25/2/2021).

Pria berusia 52 tahun tanpa jaket pelampung memutuskan berenang menuju suatu “titik berwarna hitam” yang berjarak beberapa kilometer dari posisinya semula.

Titik yang dilihatnya itu ternyata pelampung, yang kemudian membuatnya bisa bertahan terombang-ambing di atas laut

“Dia terlihat 20 tahun lebih tua dan sangat kelelahan, tapi dia bisa selamat,” ujar putranya Marat kepada situs berita Selandia Baru, Stuff.

BACA JUGA:  Bule ini Tetap Berpose Seksi, Padahal Ada Ibu Ibu Lagi Sembahyang

Perevertilov adalah kepala insinyur Lituania dari kapal kargo Silver Supporter, yang mengirimkan pasokan di antara pelabuhan Tauranga Selandia Baru dan wilayah Inggris Pitcairn yang terisolasi.

Marat menceritakan bahwa mengikuti jadwal shift, ayahnya saat itu bekerja di ruang mesin sambil memompa bahan bakar, tapi ia merasa “panas dan pusing”.

Dia kemudian berjalan keluar ke geladak untuk memulihkan diri sekitar pukul 04.00 pagi waktu setempat pada 16 Februari, sebelum jatuh.

Marat yang mendapatkan cerita ayahnya dari aplikasi pesan, meyakini ayahnya pingsan menuju geladak, karena dia tidak sadar telah berada di atas laut.

Tanpa menggunakan alat pengaman apa-apa, pria paruh baya itu terjatuh dari kapal dan kapal meninggalkannya.

BACA JUGA:  Bocah ini Kerja Jadi Kuli, Biar Bisa Beli Smartphone Untuk Belajar

Ia berjuang terapung-apung di hingga matahari terbit. Saat itu, ia melihat ada bintik hitam di kejauhan laut dan ia memutuskan berenang ke arah benda itu.

“Ia tidak berlabuh ke apa pun atau perahu, itu hanya sepotong sampah laut,” kata Marat tentang pelampung nelayan yang ditinggalkan dan ditemukan ayahnya.

Awak kapal membutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk mengetahui bahwa insinyur mereka hilang, pada saat itu kapten membalikkan kapal.

Menurut laporan, kru menentukan perkiraan lokasinya dengan melihat catatan pekerjaan Perevertilov, yang menunjukkan bahwa dia terakhir berada di kapal pada pukul 4 pagi.

Koordinat kapal pada saat itu sekitar 400 mil laut di selatan Kepulauan Austral di Polinesia Perancis.

BACA JUGA:  70 Orang Tewas Karena Virus Kutu Mewabah di China

Pesan bahaya kemudian disiarkan melalui radio ke kapal-kapal di sekitar.

Pesawat angkatan laut Perancis bergabung dalam pencarian dari Tahiti, dan layanan meteorologi Perancis mempelajari angin untuk menghitung kemungkinan pola lintasan.

Ketika Perevertilov akhirnya melihat kapalnya di kejauhan, dia melambai dan memanggil.

Hebatnya, salah satu penumpang kapal bisa mendengar “teriakan manusia yang lemah”.

Seorang awak pengamat juga dapat melihat tangan terangkat dan akhirnya menarik Perevertilov ke tempat yang aman di atas kapal.

“Keinginannya untuk bertahan hidup kuat…Saya mungkin akan langsung tenggelam, tapi dia selalu menjaga dirinya tetap fit dan sehat serta itulah mengapa saya pikir dia bisa bertahan,” kata Marat. (RWH/Kompas)

Berita Terkait

Peternakan Kecoa Ilegal Digerebek di Australia: Lebih dari 100 Ribu Ekor Disita, Nilainya Tembus Rp2,5 Miliar
Imigrasi Kepri Perkuat Sinergi dengan ICA Singapura, Bahas Pengawasan Perbatasan hingga Laga Persahabatan
Di Makkah, Amsakar Jumpa Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak dan Puji Layanan Haji Reguler
Arab Saudi Setop Pembangunan The Mukaab, Proyek ‘Ka’bah Baru’ Vision 2030
Relawan Kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 Asal RI Bebas dari Penahanan Israel
Membanggakan! Alumni MA Bustanul Ulum Midai Raih Prestasi Gemilang di Kejuaraan Silat Internasional
Trump Sesumbar Bisa Ratakan Iran Hanya dalam 48 Jam
Suhu Ekstrem Meningkat: 56 Kasus dan 2 Korban Jiwa di Malaysia Akibat Heat Stroke
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 05:15 WIB

Peternakan Kecoa Ilegal Digerebek di Australia: Lebih dari 100 Ribu Ekor Disita, Nilainya Tembus Rp2,5 Miliar

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:35 WIB

Imigrasi Kepri Perkuat Sinergi dengan ICA Singapura, Bahas Pengawasan Perbatasan hingga Laga Persahabatan

Senin, 25 Mei 2026 - 15:47 WIB

Di Makkah, Amsakar Jumpa Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak dan Puji Layanan Haji Reguler

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:41 WIB

Arab Saudi Setop Pembangunan The Mukaab, Proyek ‘Ka’bah Baru’ Vision 2030

Jumat, 22 Mei 2026 - 12:19 WIB

Relawan Kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 Asal RI Bebas dari Penahanan Israel

Berita Terbaru