Lebih jauh, Soleman lantas mengurai bukti kalau KRI Nanggala sudah berantakan. Yakni soal temuan bahan bakar alias ceceran minyak yang sudah keluar. Padahal minyak itu tentu berada di dalam tangki. Lantaran sifat cairan minyak yang ringan, maka dia kemudian naik ke permukaan.
“Nanti juga akan naik kasur, dan barang-barang ringan lainnya kalau tidak tertahan badan kapal. Pasti barang-barang itu naik ke permukaan. Kalau sudah begitu, berarti memang benar kalau KRI Nanggala sudah pecah di bawah air,” tutur dia lagi.
Soleman bilang, memang ada beberapa penyebab proses penyelamatan tak bisa dilakukan. Salah satunya jika anak buah di dalam kapal selam sudah tak bisa apa-apa. Sebab untuk menggunakan berbagai alat evakuasi, harus melibatkan peran mereka.
Sebut saja, membuka pintu keluar, itu harus dari dalam. Karena pintu memang dikunci dari dalam. Apabila tak bisa dibuka, maka akan susah.
“Nah kalau bisa membuka, mereka harus keluar satu-satu pakai baju alat khusus. Tetapi itupun baru pernah dicoba cuma sampai kedalaman 50 meter, kalau 100 meter di bawah laut enggak tahu masih kuat enggak dengan pakaian penyelamat itu, atau apalagi 800 meter.”
Selain itu, ada juga fitur rescue yang berada di atas Nanggala. Namun lagi-lagi tentu bisa dipakai jika para awak bisa membuka lubang di atas. Karena semua dikunci dari dalam. Dan selanjutnya, yang mungkin akan menambah sulit ditemukan, adalah jika kapal itu tengah mengaktifkan fitur siluman.
Sebab kapal selam memang didesain sulit ditemukan. “Makanya ini seperti senjata makan tuan, dan ini salah satu kesulitannya,” kata dia. (RM/Hops)
Halaman : 1 2

















