Gawat, Varian COVID-19 Kebal Vaksin Bakal Muncul!

- Publisher

Sabtu, 31 Juli 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto/Shutterstock)

(Foto/Shutterstock)

INIKEPRI.COM – Sebuah studi baru menunjukkan bahwa pelonggaran protokol kesehatan yang telah dilakukan oleh negara-negara dengan angka vaksinasi yang tinggi dapat menimbulkan risiko pertumbuhan virus yang makin kuat.

Mengutip AFP, Jumat (30/7/2021) penelitian yang dibuat Institut Sains dan Teknologi (IST) Austria itu menunjukkan bahwa simulasi yang dilakukan menunjukkan virus akan mampu berevolusi menjadi lebih kuat setelah 60% populasi telah menerima vaksin.

BACA JUGA:  Ini 3 Fakta Deksametason, Mampu Sembuhkan Covid-19?

“Apa yang ditunjukkan oleh model kami adalah bahwa ketika kebanyakan orang divaksinasi, varian yang kebal vaksin akan muncul,” ucap Simon Rella, salah satu tim pembuat penelitian itu.

“Ini berarti bahwa varian yang resisten terhadap vaksin menyebar ke seluruh populasi lebih cepat daripada varian biasa yang menyebar pada saat kebanyakan orang divaksinasi.”

BACA JUGA:  Kemenkes: Ulat Pembunuh Manusia Hoaks

Ia menambahkan bahwa virus sendiri akan bermutasi sebagai respons terhadap kendala lingkungan, seperti peningkatan kekebalan dan tindakan respons yang dirancang untuk membatasi penularan. Mereka juga memberikan contoh mengenai Varian Delta yang saat ini terbukti lebih berbahaya.

Para ilmuwan IST menekankan pentingnya pemberlakuan pembatasan-pembatasan Covid-19 hingga seluruh populasi dunia tervaksinasi. Apabila tidak, hal ini dapat memberi ruang bagi virus untuk terus bermutasi.

BACA JUGA:  COVID-19 Varian Beta dan Delta Belum Ditemukan di Batam

“Tanpa koordinasi global, strain yang resisten terhadap vaksin dapat dihilangkan pada beberapa populasi tetapi dapat bertahan pada populasi lain,” kata penelitian yang dipublikasikan di Nature Scientific Reports itu.

“Jadi, upaya vaksinasi yang benar-benar global mungkin diperlukan untuk mengurangi kemungkinan penyebaran global dari strain yang resisten.” (AFP/CNBCINDONESIA)

Berita Terkait

Rutin Konsumsi Madu Setiap Hari, Ini Manfaat dan Hal yang Perlu Diperhatikan
493 Kasus Flu Singapura, Batam Belum Terapkan Pembatasan Wisatawan
Dokter Gizi Ingatkan Susu Kental Manis Bukan Susu, Orang Tua Diminta Ubah Kebiasaan Anak Secara Bertahap
Catat! Ini 5 Jenis Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan
Waspada Virus Hanta, Dokter Ungkap Gejala Awal hingga Cara Pencegahannya
Batam Siaga Hantavirus, RSUD Embung Fatimah Disiapkan sebagai Rumah Sakit Rujukan
Kasus Muncul di Beberapa Negara, Benarkah Hantavirus Jadi Covid-19 Berikutnya?
Hanya 20–30 Menit Sehari, Jalan Kaki Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 07:36 WIB

Rutin Konsumsi Madu Setiap Hari, Ini Manfaat dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:05 WIB

493 Kasus Flu Singapura, Batam Belum Terapkan Pembatasan Wisatawan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 12:59 WIB

Dokter Gizi Ingatkan Susu Kental Manis Bukan Susu, Orang Tua Diminta Ubah Kebiasaan Anak Secara Bertahap

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:35 WIB

Catat! Ini 5 Jenis Operasi yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:54 WIB

Waspada Virus Hanta, Dokter Ungkap Gejala Awal hingga Cara Pencegahannya

Berita Terbaru