Tradisi Seks Bebas Suku Kreung Kamboja, Setubuhi Gadis Perawan di Gubuk Cinta

- Publisher

Rabu, 10 November 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi wanita dan pria suku Kreung di pondok cinta / Foto: unored.tv

Ilustrasi wanita dan pria suku Kreung di pondok cinta / Foto: unored.tv

Dalam budaya ini perceraian tidak pernah terdengar, begitupun kata ‘pelacur’ sama sekali tidak dikenal di kalangan Suku Kreung.

Para gadis perawan dapat memiliki banyak pacar sekaligus di gubuk mereka dan tidak ada perkelahiaan atau kecemburuan jika dia akhirnya hanya memilih satu anak laki-laki dari sekian banyak pilihan. Kekerasan seksual pun jarang terjadi dan pemerkosaan tidak ada.

Tentu, kehamilan yang tidak diinginkan terjadi, tetapi biasanya pelamar yang dipilih gadis itu akan membesarkan anak itu seperti anak mereka sendiri.

BACA JUGA:  Ini Trik Singapura Agar Bisa Berdamai dengan COVID-19

Anehnya tradisi ini maju dan memercayai wanita remaja untuk membuat keputusan sendiri tentang kesehatan seksual dan kehidupan romantis mereka.

Sungguh jauh dari apa yang kita lakukan dalam pendidikan pantang di sekolah yang dicampur dengan pornografi sebagai pendidikan seksual karena kebanyakan orang tua terlalu tabu untuk berbicara dengan anak-anak mereka sendiri tentang seks.

BACA JUGA:  Innalilahi! Pesawat Militer Jatuh dan Terbakar, 22 Taruna AU Meninggal

Orang Kreung mengajar remaja mereka bahwa seks adalah bagian alami, indah dari cinta dan asmara. Namun tradisi ini terancam oleh beberapa faktor seperti berhubungan dengan dunia luar melalui teknologi.

Tradisi ini perlahan menghilang karena minoritas menjadi terekspos pada modernisasi dan budaya khmer, di mana seks pranikah tidak terhormat.

Menurut sebuah artikel oleh Phnom Penh Post pada Maret 2014, cara keluarga Kreung membangun rumah mereka juga berubah seiring maskyarakat menjadi lebih kaya. Secara tradisional, rumah mereka terbuat dari bambu kecil dan tidak tahan lama pada saat musin hujan tiba.

BACA JUGA:  Kemlu Pulangkan Ratusan WNI Korban Penipuan Daring di Myanmar

Namun sekarang beberapa desa membangun rumah mereka dari kayu atau batu bata yang tahan lebih lama ketimbang bambu, sehingga mereka lebih suka menempatkan semua kamar tidur di dalam satu rumah untuk anak perempuan mereka. (DI/OKEZONE)

Berita Terkait

Bandara King Fahd Arab Saudi Diserang, Satu Orang Tewas dan Delapan Luka
Polisi Dubai Tambah Lamborghini Temerario Hybrid, Jadi Mobil Patroli Pariwisata
Kabut Asap Karhutla RI Memburuk, Sejumlah Sekolah di Malaysia Ditutup
Kabut Asap Memburuk, Raja Malaysia Imbau Sekolah di Wilayah Terdampak Ditutup
Tampil di Tech Week Singapore 2026, Batam Tawarkan Ekosistem Data Centre Terintegrasi
Lima Bulan di Rusia, Rendi Pemuda Natuna Dikabarkan Gugur Dihantam Drone Ukraina
Delegasi Indonesia Walk Out Saat Netanyahu Naik ke Podium Sidang PBB
Obama Bicara soal AI jika Maju Capres AS 2028: Anak-anak Harus Dilindungi

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Bandara King Fahd Arab Saudi Diserang, Satu Orang Tewas dan Delapan Luka

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:40 WIB

Polisi Dubai Tambah Lamborghini Temerario Hybrid, Jadi Mobil Patroli Pariwisata

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Kabut Asap Karhutla RI Memburuk, Sejumlah Sekolah di Malaysia Ditutup

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Kabut Asap Memburuk, Raja Malaysia Imbau Sekolah di Wilayah Terdampak Ditutup

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:23 WIB

Tampil di Tech Week Singapore 2026, Batam Tawarkan Ekosistem Data Centre Terintegrasi

Berita Terbaru