Pemerintah El Salvador sebenarnya tidak berencana untuk memaksa bisnis menerima Bitcoin. Meski, regulasi soal ini sudah ada.
Uang tunai masih berkuasa di sini, dengan lebih dari setengah warga El Salvador tidak punya rekening bank. Presiden Bukele telah menyalurkan USD 200 juta (Rp 2,9 triliun) dana publik ke dalam aplikasi dompet Bitcoin bersubsidi. Namanya Chivo.
Siapa pun yang mengunduh aplikasi tersebut mendapatkan USD 30 (Rp 450.000) dalam bentuk Bitcoin ketika mendaftar. Sehingga aplikasi ini diunduh empat juta kali di negara berpenduduk 6,5 juta jiwa.
Namun banyak orang menggunakan aplikasi ini untuk transaksi dalam dolar, bukan Bitcoin. Cara ini sering digunakan. Misalnya oleh orang-orang yang bekerja di luar negeri dan mengirim uang ke keluarga mereka di rumah, karena tidak ada komisi atau biaya transfer.
Dan ada pertanda bahwa setelah lonjakan minat di awal, orang-orang semakin jarang menggunakan Chivo. Insentif lain untuk menggunakannya muncul pada akhir Februari, dengan pembukaan rumah sakit hewan paling canggih di negara itu.
BACA JUGA:
Twitter Pakai Bitcoin Sebagai Alat Pembayaran, Begini Caranya
Banyak orang dan hewan peliharaan mereka mengantre di rumah sakit ini. Hal ini karena murahnya perawatan hewan, bahkan operasi yang kompleks, harganya cuma 25 sen – selama dibayar dengan aplikasi Chivo, dan terutama dalam Bitcoin.
Dana Moneter Internasional (IMF) sebenarnya telah mendesak El Salvador untuk membalikkan keputusannya membuat Bitcoin menjadi alat pembayaran yang sah. Dengan alasan bahwa itu terlalu tidak stabil untuk tujuan ini. Seorang ekonom lokal Tatiana Marroquin khawatir dengan kebijakan pemerintah terkait dengan Bitcoin ini.
Ia mengatakan pemerintah tidak punya cukup uang untuk membantu orang-orang yang rentan. Jadi menurutnya pemerintah tidak mengambil risiko dengan menggelontorkan dana publik ke dalam mata uang kripto.
Ia juga menilai pemerintah kurang transparan. ”Kita tidak tahu persis kapan atau dengan uang apa mereka membeli Bitcoin.”
Namun, Menteri Pariwisata Morena Valdez bersikeras warga Salvador tetap percaya kepada Presiden Bukele, meskipun nilai Bitcoin terus turun.
”Kita tahu bahwa setiap keputusan presiden dibuat pada saat yang tepat. Orang-orang sangat percaya pada keputusannya dan arah ekonomi negara ini,” katanya.
Negara-negara lain agaknya sedang mempertimbangkan untuk mengikuti langkah El Salvador, sebelum mata uang digital ini jatuh nilainya pada Mei 2022 lalu. Salah satunya adalah Republik Afrika Tengah. Presiden negara itu, Faustin-Archange Touadéra, mengumumkan langkah tersebut di Twitter, menyebut Bitcoin sebagai “uang universal”.
Bitcoin City
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















