“Untuk Laos, karena utang pemerintah dan pengumpulan pendapatan yang buruk, situasinya sangat menantang. Oleh karena itu, prioritas kebijakan utama adalah meningkatkan pendapatan publik dengan meninjau pembebasan pajak,” tambah Country Manager Bank Dunia untuk Laos PDR Alex Kremer.
Depresiasi 30% dalam mata uang Laos, kip, juga telah memperburuk kesengsaraan itu. Kenaikan harga dan hilangnya pekerjaan karena pandemi mengancam akan memperburuk kemiskinan.
Merujuk Tradingeconomics, inflasi Laos adalah yang tertinggi kedua di antara negara ASEAN lainnya. Negara itu mencatat inflasi sebesar 12,8 di Juni 2022 (yoy).
Setali tiga uang dengan Laos, Myanmar juga menghadapi risiko kebangkrutan. Ini lebih karena pandemi Covid-19 dan ketidakstabilan politik terutama setelah kudeta junta militer terhadap pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi di Februari 2021.
Hal itu membawa sanksi Barat yang menargetkan kepemilikan komersial yang dikendalikan oleh tentara, yang mendominasi ekonomi. Ekonomi mengalami kontraksi sebesar 18% tahun lalu dan diperkirakan hampir tidak tumbuh pada tahun 2022.
Lebih dari 700.000 orang telah melarikan diri atau diusir dari rumah mereka oleh konflik bersenjata dan kekerasan politik. Situasinya sangat tidak pasti, pembaruan ekonomi global baru-baru ini dari Bank Dunia mengecualikan proyeksi bagi Myanmar untuk 2022-2024.
Mengutip data Tradingeconomic, inflasi Myanmar tercatat 12,63% di Januari 2022 (yoy). Sayangya, tak ada data baru yang ter-update. (DI/CNBCINDONESIA)
Halaman : 1 2

















