Venezuela misalnya, berdasarkan data dari OPEC sepanjang tahun 2020 rata-rata tingkat produksinya mencapai 560.000 barel/hari. Sementara itu, konsumsi di dalam negeri rata-rata hanya 242.000 barel/hari pada tahun yang sama. Tingkat produksi tersebut sebenarnya jauh lebih besar, tetapi karena sanksi yang diberikan oleh Amerika Serikat, Venezuela tidak bisa mengekspor minyaknya dengan jumlah yang besar.
Lima tahun lalu, tingkat produksi minyak mentah Venezuela masih di atas 2 juta barel/hari, dan terus menurun hingga saat ini. Dengan tingkat produksi yang besar, dan terbatasnya pasar ekspor akibat saksi Amerika Serikat, konsumsi dalam negeri tentunya dengan mudah bisa terpenuhi.
Selain itu, pemerintah Venezuela juga memberikan subsidi energi yang besar akan harga bensin bisa murah. Namun, dengan murahnya harga BBM tersebut Venezuela justru mendapat masalah. BBM banyak diselundupkan ke luar negeri karena harganya jauh lebih mahal. Saat krisis melanda Venezuela di 2018, kerugian akibat penyelundupan BBM ke luar negeri mencapai US$ 18 miliar per tahun.
Iran juga senasib dengan Venezuela, meski salah satu produsen minyak mentah besar, tetapi tidak bisa mengekspor dalam jumlah yang banyak akibat sanksi dari Amerika Serikat. Pada 2020, rata-rata produksi minyak mentah mencapai hampir 2 juta barel/hari, sementara konsumsi dalam negeri mencapai 1,7 juta barel/hari. (RP/CNBCINDONESIA)
Halaman : 1 2

















