Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, neraca perdagangan Indonesia pada 2022 mencatatkan surplus tertinggi dalam sejarah. Yakni sebesar 54,46 miliar dolar AS. Ia pun memuji kinerja ekspor yang tumbuh dengan baik, sehingga mendukung target pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022.
Kendati begitu, kata ia, pemerintah ke depan akan mewaspadai risiko penurunan permintaan ekspor dari negara mitra utama dagang yakni Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa, dan Jepang.
Hal itu seiring menurunnya indeks PMI (purchasing managers index) manufaktur di sejumlah negara. “Di sisi lain, pemerintah secara paralel mengembangkan ekspor ke negara lain. Seperti India dan negara-negara ASEAN,” ujar Febrio dalam keterangannya.
Dari sumber lain, Kepala Ekonom BCA David Sumual, tak menampik bahwa capaian surplus perdagangan sebesar 54 miliar dolar AS merupakan tertinggi dalam sejarah. Surplus itu terdongkrak dari kinerja ekspor yang menggeliat karena peningkatan harga komoditas. “Jika barang-barang yang kita impor relatif tinggi pada akhir tahun, tidak hanya komoditas, tapi juga manufaktur dan otomotif,” ujarnya.
BACA JUGA:
Kehadiran Menteri Ekonomi ASEAN Bentuk Dukungan Keketuaan Indonesia
Ia optimistis pada tahun ini Indonesia masih akan surplus. Hal itu tidak terlepas dari kebijakan China sudah mulai membuka pembatasan terhadap COVID-19. Aktivitas ekonomi secara otomatis akan lebih kencang dan ikut berdampak ke permintaan terhadap energi. “Ekspor batu bara dan CPO diperkirakan akan tetap,” ujarnya.
Hanya saja, sejalan dengan mulai normalnya aktivitas ekonomi, kegiatan impor Indonesia juga akan naik. Hal ini yang membuat surplus perdagangan Indonesia tidak akan sebesar dibandingkan pada tahun ini.
Di sisi lain, kata ia, sektor manufaktur juga menjadi tantangan. Seiring dengan membaiknya China, manufaktur dari negeri Tiongkok itu diyakini akan membanjiri pasar dunia. Meski dampaknya tidak akan secara langsung ke Indonesia. “Lebih ke India dan Vietnam,” ujarnya.
BPS juga telah mewanti-wanti penurunan ekspor dan surplus perdagangan RI. Setidaknya hal itu sudah terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Ekspor nonmigas mengalami penurunan sebesar 2,73 persen pada Desember 2022 dibandingkan November. Pun halnya November juga menurun 2,57 persen terhadap Oktober. “Pada empat bulan terakhir terjadi penurunan, baik dari sisi nilai maupun volume,” terang Margo Yuwono.
Disisi lain, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, bahwa nilai ekspor 2023 diperkirakan tidak akan setinggi pada 2022. Pertumbuhan ekspor akan melambat seiring dengan laju ekonomi dunia yang mengalami perlambatan. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekspor di kisaran 12,8 persen menurun dibandingkan 2022 sebesar 29,4 persen.
Salah satu strategi yang dilakukan pemerintah dalam mempertahankan ekspor pada 2023 , dengan melakukan diversifikasi pasar dan produk ekspor. Diversifikasi itu setidaknya terlihat pada 2022. Ada peningkatan nilai ekspor di luar negara tujuan utama ekspor RI. Sebut saja Bhutan yang mengalami peningkatan sebesar 67,39 juta dolar AS dari sebelumnya hanya di bawah 1 juta dolar AS.
Sementara itu, yang juga patut dikawal dari peningkatan ekspor ini adalah agar hasil devisa RI tidak di parkir di luar negeri. Baru-baru ini Bank Indonesia mengeluarkan aturan instrumen baru untuk penguatan aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) khususnya dari sumber daya alam (SDA) ke dalam negeri. BI mendorong penempatan dana dari rekening khusus SDM ke dalam term deposit operasi pasar terbuka dalam valuta asing Bank Indonesia.
Penempatan dilakukan oleh eksportir SDA melalui bank yang memenuhi persyaratan ditetapkan Bank Indonesia. Tujuannya jelas, penguatan cadangan devisa penting untuk stabilitas rupiah dan pembayaran utang RI. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2022 mencapai 137,2 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2022 sebesar 134,0 miliar dolar AS. (RBP/GPRNEWS)
Halaman : 1 2

















