Surplus Perdagangan Catatkan Rekor Bersejarah

- Publisher

Senin, 27 Maret 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Foto:Istimewa

Ilustrasi. Foto:Istimewa

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, neraca perdagangan Indonesia pada 2022 mencatatkan surplus tertinggi dalam sejarah. Yakni sebesar 54,46 miliar dolar AS. Ia pun memuji kinerja ekspor yang tumbuh dengan baik, sehingga mendukung target pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022.

Kendati begitu, kata ia, pemerintah ke depan akan mewaspadai risiko penurunan permintaan ekspor dari negara mitra utama dagang yakni Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa, dan Jepang.

Hal itu seiring menurunnya indeks PMI (purchasing managers index) manufaktur di sejumlah negara. “Di sisi lain, pemerintah secara paralel mengembangkan ekspor ke negara lain. Seperti India dan negara-negara ASEAN,” ujar Febrio dalam keterangannya.

Dari sumber lain, Kepala Ekonom BCA David Sumual, tak menampik bahwa capaian surplus perdagangan sebesar 54 miliar dolar AS merupakan tertinggi dalam sejarah. Surplus itu terdongkrak dari kinerja ekspor yang menggeliat karena peningkatan harga komoditas. “Jika barang-barang yang kita impor relatif tinggi pada akhir tahun, tidak hanya komoditas, tapi juga manufaktur dan otomotif,” ujarnya.

BACA JUGA:  Seluruh Wilayah RI Level 1, Penularan COVID-19 Rendah

BACA JUGA:

Kehadiran Menteri Ekonomi ASEAN Bentuk Dukungan Keketuaan Indonesia

Ia optimistis pada tahun ini Indonesia masih akan surplus. Hal itu tidak terlepas dari kebijakan China sudah mulai membuka pembatasan terhadap COVID-19. Aktivitas ekonomi secara otomatis akan lebih kencang dan ikut berdampak ke permintaan terhadap energi. “Ekspor batu bara dan CPO diperkirakan akan tetap,” ujarnya.

Hanya saja, sejalan dengan mulai normalnya aktivitas ekonomi, kegiatan impor Indonesia juga akan naik. Hal ini yang membuat surplus perdagangan Indonesia tidak akan sebesar dibandingkan pada tahun ini.

Di sisi lain, kata ia, sektor manufaktur juga menjadi tantangan. Seiring dengan membaiknya China, manufaktur dari negeri Tiongkok itu diyakini akan membanjiri pasar dunia. Meski dampaknya tidak akan secara langsung ke Indonesia. “Lebih ke India dan Vietnam,” ujarnya.

BACA JUGA:  Konsul Haji: Izin Pembukaan Umrah Belum Diumumkan

BPS juga telah mewanti-wanti penurunan ekspor dan surplus perdagangan RI. Setidaknya hal itu sudah terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Ekspor nonmigas mengalami penurunan sebesar 2,73 persen pada Desember 2022 dibandingkan November. Pun halnya November juga menurun 2,57 persen terhadap Oktober. “Pada empat bulan terakhir terjadi penurunan, baik dari sisi nilai maupun volume,” terang Margo Yuwono.

Disisi lain, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, bahwa nilai ekspor 2023 diperkirakan tidak akan setinggi pada 2022. Pertumbuhan ekspor akan melambat seiring dengan laju ekonomi dunia yang mengalami perlambatan. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekspor di kisaran 12,8 persen menurun dibandingkan 2022 sebesar 29,4 persen.

Salah satu strategi yang dilakukan pemerintah dalam mempertahankan ekspor pada 2023 , dengan melakukan diversifikasi pasar dan produk ekspor. Diversifikasi itu setidaknya terlihat pada 2022. Ada peningkatan nilai ekspor di luar negara tujuan utama ekspor RI. Sebut saja Bhutan yang mengalami peningkatan sebesar 67,39 juta dolar AS dari sebelumnya hanya di bawah 1 juta dolar AS.

BACA JUGA:  UU Cipta Kerja Utamakan Perlindungan Lingkungan

Sementara itu, yang juga patut dikawal dari peningkatan ekspor ini adalah agar hasil devisa RI tidak di parkir di luar negeri. Baru-baru ini Bank Indonesia mengeluarkan aturan instrumen baru untuk penguatan aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) khususnya dari sumber daya alam (SDA) ke dalam negeri. BI mendorong penempatan dana dari rekening khusus SDM ke dalam term deposit operasi pasar terbuka dalam valuta asing Bank Indonesia.

Penempatan dilakukan oleh eksportir SDA melalui bank yang memenuhi persyaratan ditetapkan Bank Indonesia. Tujuannya jelas, penguatan cadangan devisa penting untuk stabilitas rupiah dan pembayaran utang RI. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2022 mencapai 137,2 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2022 sebesar 134,0 miliar dolar AS. (RBP/GPRNEWS)

Berita Terkait

Nasib Driver Ojol Mulai Terungkap, RUU Baru Atur Status hingga Hak Pekerja
Resmi Dilantik Prabowo, Ini Daftar 24 Anggota Wantimpres Periode Baru
Kabar Baik! BSU Kembali Cair Oktober 2026, Pekerja Bakal Terima Rp900 Ribu Sekaligus
Lansia Belum Punya Akta Kelahiran? Ini Syarat dan Cara Mengurusnya
242 Ribu Guru PPPK Paruh Waktu Dialihkan Jadi Penuh Waktu Mulai 1 Januari 2027
Awal Puasa Ramadan 2027 Diprediksi 8 Februari, Ini Perkiraan Pemerintah dan Muhammadiyah
Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Resmi Berganti Nama Menjadi KRI Sriwijaya pada 24 September
OTT ATR/BPN, KPK Amankan Rp106,3 Miliar dan Delapan Tersangka

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:13 WIB

Nasib Driver Ojol Mulai Terungkap, RUU Baru Atur Status hingga Hak Pekerja

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:05 WIB

Resmi Dilantik Prabowo, Ini Daftar 24 Anggota Wantimpres Periode Baru

Jumat, 2 Oktober 2026 - 10:08 WIB

Kabar Baik! BSU Kembali Cair Oktober 2026, Pekerja Bakal Terima Rp900 Ribu Sekaligus

Sabtu, 26 September 2026 - 08:20 WIB

Lansia Belum Punya Akta Kelahiran? Ini Syarat dan Cara Mengurusnya

Rabu, 23 September 2026 - 08:22 WIB

242 Ribu Guru PPPK Paruh Waktu Dialihkan Jadi Penuh Waktu Mulai 1 Januari 2027

Berita Terbaru