Minggu, 28 Februari 2021
log
Ikuti Kami di :
31 Jan 2021
(Instagram @permadiaktivis2)
(Instagram @permadiaktivis2)

INIKEPRI.COM – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH As’ad Said Ali menyebut Permadi Arya alias Abu Janda sebagai penyusup GP Ansor dan NU.

Menurut Kiai As’ad, tidak ada satu pun rekomendasi dari cabang atau wilayah Banser untuk Abu Janda. 

Padahal rekomendasi itu merupakan persyaratan untuk diterima sebagai peserta kaderisasi Ansor. 

“Kesimpulan saya dia penyusup ke dalam Ansor atau NU, sehingga perlu ditelusuri kenapa bisa ikut pendidikan kader Ansor atau Banser,” ujar Kiai As’ad dilansir dari NU Online, Sabtu (30/1/2021).

Menurut Kiai As’ad, Abu Janda diterima atas rekomendasi seorang tokoh NU. 

“Saya kira dengan pertimbangan prasangka baik dan tidak mengecek latar belakang siapa sebenarnya Abu Janda,” lanjutnya.  

Kiai As’ad juga menyatakan bahwa Pimpinan Banser telah menegur Abu Janda agar tidak bicara lagi tentang NU, atas nama Ansor. 

“Persoalannya, dia (Abu Janda) sudah terlanjur pernah memakai seragam Banser di media dan publik menyangka dia bagian dari NU. Padahal fikrah dan akhlaknya bukan pengikut Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah),” ujar Kiai As’ad.

Kiai As’ad Said Ali menyebut Abu Janda memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi dan merusak keutuhan organisasi.

“Sebagai warga Nahdliyin, saya menyarankan sudah saatnya PBNU secara resmi bersikap tegas terhadap Abu Janda. Dia memanfaatkan nama besar NU untuk kepentingan pribadi, jangan dibiarkan karena akan merusak keutuhan NU,” kata Kiai As’ad. 

Sebagai Ketua Dewan Penasihat PP GP Ansor, Kiai As’ad juga sempat mempertanyakan status Abu Janda kepada pimpinan organisasi itu.

Kiai As’ad merasa bahwa Abu Janda kerap berbicara ngawur mengenai NU di sejumlah televisi.

Dampak yang dirasakan NU akibat ulah Abu Janda, kata Kiai As’ad, selama ini cukup besar.

Beberapa pondok pesantren merasa terusik. Bahkan ada yang menjauhi struktur NU. 

Sebab, hal-hal yang selalu disampaikan Abu Janda bertolak belakang dengan fikrah An-Nahdliyah.

“Saya mensinyalir ada Abu Janda-Abu Janda lain yang berpura pura membela NU melalui media sosial tetapi sesungguhnya musang berbulu domba,” pungkasnya.

Masih dari sumber yang sama, Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan PP GP Ansor Luqman Hakim juga menegaskan bahwa Abu Janda bukan pengurus Ansor.

Meski demikian, status Abu Janda memang anggota Banser karena telah mengikuti Diklatsar di Magelang, Jawa Tengah, beberapa tahun lalu.

“Sebelum menjadi anggota Banser, Abu Janda sudah aktif di media sosial. Namun, aktivitasnya di media sosial bersifat personal, bukan mewakili sikap resmi organisasi,” kata Luqman. 

“Terhadap cuitan Abu Janda tentang evolusi (diarahkan ke Natalius Pigai) dan Islam arogan (kepada Tengku Zulkarnaen), dianggap sebagian orang sebagai rasisme, biarlah para ahli dan otoritas hukum yang memutuskan kebenarannya,” sambungnya.

Saat ini, katanya, sudah ada pihak yang melaporkan ke aparat kepolisian. Luqman meminta masyarakat memberikan kesempatan kepada polisi untuk bekerja obyektif dan profesional, sehingga semuanya akan terang benderang. 

“(Dan) bisa diselesaikan kesempatan polisi bekerja obyektif dan profesional sehingga masalah ini akan terang benderang dan bisa diselesaikan dengan baik,” tutur Luqman. 

Sebagai organisasi, lanjutnya, Luqman telah memberikan perintah kepada Pengurus Ranting Kelurahan Tebet agar meminta penjelasan Abu Janda terkait cuitannya yang menimbulkan kontroversi, sekaligus memberikan nasihat kepadanya. 

Permadi Arya alias Abu Janda mendapat kecaman dari berbagai pihak lantaran diduga melontar ujaran kebencian dengan menulis ‘Islam Arogan’.

Tak hanya itu, Abu Janda juga diduga melakukan tindakan rasis terhadap aktivis HAM asal Papua Natalius Pigai.

Kecaman pun berdatangan. Mulai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah hingga sejumlah partai politik.

Bahkan, Nahdlatul Ulama juga turut mengecam perbuatan Abu Janda. Padahal, Abu Janda selama ini mengklaim sebagai anggota organisasi tersebut.

Sebelumnya, Abu Janda akhirnya memberi klarifikasi setelah mendapat kecaman banyak pihak.

“Saya buat video ini buat kiai-kiai, buat gus-gus, buat ustaz-ustaz dan semua warga NU yang saya cinta,” kata Abu Janda seperti terlihat pada video yang beredar, Jumat (29/1/2021).

Abu Janda kemudian memberi klarifikasi dan menyebut adanya kesalahpahaman. Dia mengaku bahwa komentar itu ditujukan terhadap cuitan mantan Wakil Sekretaris Jenderal MUI Tengku Zulkarnain.

“Pertama-tama komentar saya itu diviralkan, dipotong, tanpa konteks seolah-olah itu pernyataan mandiri. Padahal itu jawaban saya ke Ustaz Zulkarnain yang sedang provokasi SARA mengatakan minoritas di Indonesia itu arogan ke mayoritas,” kata Arya.

Abu Janda juga berkilah bahwa dia tidak bermaksud menggeneralisir Islam yang disebutnya arogan tersebut.

“Yang kedua, komentar tersebut tentunya saya bicara sebagai seorang Muslim dalam konteks otokritik, perihal masalah internal Islam saat ini, saat ini. Makanya saya tulis di situ Islam sebagai agama pendatang dari Arab,” katanya.

Abu Janda menyebut bahwa yang dimaksudnya Islam arogan adalah Salafi dan Wahabi.

“Jadi yang saya maksud adalah Islam transnasional, seperti Salafi, Wahabi, yang memang pertama dari Arab, kedua memang mereka arogan ke budaya lokal, seperti mengharam-haramkan sedekah laut yang saya tulis, dan lain sebagainya. Jadi bukan seperti Islam Nusantara seperti NU dan Muhammadiyah,” kata dia.

Lebih lanjut, Abu Janda mengatakan bahwa komentar itu dituliskan dalam suasana ‘panas’. Sehingga, kata dia, tidak sinkron antara tulisan dan pikirannya.

“Mohon maaf jika ada kesalahpahaman. Maklum jempol menulis saat debat panas, jadi keluarnya jadi tidak sinkron,” kata dia.

(RM/Indozone)

5 1 vote
Article Rating
Jangan Lewatkan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Batam

Trending

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x