“Pelaku pembajakan” ditangkap setelah “pendaratan darurat pesawat di bandara Isfahan” di Iran tengah.
“Penumpang pesawat, yang dalam keadaan sehat, terbang ke tujuan (terakhir) mereka dengan penerbangan alternatif,” kata pernyataan itu, menambahkan bahwa penyelidikan sedang dilakukan.
Garda Revolusi Iran bertanggung jawab atas keamanan bandara dan wilayah udara Iran.
Iran Air memiliki tiga pesawat dalam armadanya, masing-masing berusia sekitar 30 tahun karena Iran tetap tidak dapat menjual pesawat internasional karena adanya sanksi.
Penerbangan domestik Iran dilaporkan selama menyertakan perwira udara bersenjata dari Garda tersebut. Ini dilakukan untuk mencegah upaya serangan atau pembajakan selama penerbangan.
Garda Revolusi Iran telah mengambil alih keamanan penerbangan pada 1980-an. Tepatnya setelah serangkaian insiden yang melibatkan kelompok oposisi Iran merebut pesawat dalam kerusuhan yang terjadi setelah Revolusi Islam 1979 di negara itu.
Dua percobaan pembajakan pesawat terakhir terjadi tahun 2000.
Pada September 2000, seorang pria bersenjatakan pistol palsu dan bom bensin berusaha untuk merebut sebuah Air Fokker 100 Iran. Pelaku berniat mengarahkan penerbangan itu ke Prancis.
Dia menyalakan api di atas pesawat dan kemudian ditahan, menurut laporan Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat.
Pada November 2000, empat bersenjata mencoba menyita sebuah pesawat Yakovlev YAK-40. Penerbangan dari maskapai Iranian Ariatour Airlines tersebut, diminta mengalihkan tujuan ke AS.
Para petugas penjaga udara juga menggagalkan upaya itu. Meski demikian upaya pencegahan itu mengakibatkan salah satu dari mereka tertembak dan dua lainnya ditikam. Seorang pramugari dan lima pembajak juga terluka, berdasarkan laporan FAA. (ER/Kompas)
Halaman : 1 2

















