Meski lahir dari rahim kemiskinan yang sama, Moeldoko belakangan menyadari ada yang berbeda antara dirinya dan teman-teman kecilnya.
Sejak kecil, dia tampaknya punya nyali dan kemampuan komunikasi sesuai skala lingkungan yang dihadapi.
“Ini contohnya ya, waktu SD itu kepala sekolah dekat banget sama saya. Sering saya itu disuruh, ‘Moeldoko, belikan kerupuk.’ Ini soal komunikasi ya, seorang anak kecil bisa dekat dengan kepala sekolah seperti itu,” tutur Moeldoko.
Entah mengapa dan bagaimana, semasa kecil pun dia sering didapuk teman-temannya untuk banyak urusan, mulai dari kompetisi bola kampung.

Hal berbeda lain adalah soal sekolah. Dari satu kampungnya itu, hanya dua orang termasuk Moeldoko yang melanjutkan SMA ke kota.
Bukan periode yang gampang. Enggak ada ongkos sampai dikejar-kejar kondektur adalah salah satu cerita utama dari masa SMA-nya.
Ke sekolah yang berjarak sekitar 35 kilometer dari rumahnya, waktu itu Moeldoko kerap “menumpang” angkutan umum, alias naik tanpa membayar.
“Ya saking enggak punya duit,” kata dia.
Kalau apes, kondektur menangkapnya. Buku pelajaran disita. Kepala sekolah lagi yang dimintai bantuan mengambil buku-buku itu ke stasiun.
Soal keinginannya menjadi tentara pun berhadapan dengan kesulitan dan tantangan hidup selama SMA. Itu jadi satu fragmen penting tersendiri.
“Waktu keterima (jadi taruna), semua enggak percaya. Moeldoko yang mana nih?” ujar Moeldoko tergelak mengenang hari-hari itu.
Hidup dirasa membaik begitu Moeldoko menempuh pendidikan militer. Setidaknya, dia bisa makan tiga kali sehari, apa pun yang harus dihadapi selama proses pendidikan.
“Begitu saya masuk ke Magelang, saya (berpikir), ‘Wah kok enak ya. Makan teratur, belajar teratur, pakaian semua ada. Dikasih uang saku, lagi.’ Bagi saya, itu sudah di surga,” ujar Moeldoko.
Dengan latar belakang kehidupan susah di masa kecilnya, semua tempaan selama menjalani pendidikan militer bukanlah persoalan besar.
“Yang penting bisa sarapan, enggak pusing,” ujar Moeldoko soal hari-hari di sana yang penuh selingan berupa tempaan fisik dalam aneka bentuk tanpa kenal waktu.
Hal-hal seperti ini yang mungkin tak dipahami oleh mereka yang menjalani masa kecil di keluarga relatif mapan.
Di sini pula, Moeldoko membuktikan diri bahwa anak miskin dari desa yang tak punya SMA itu bisa menjadi lulusan terbaik. Bengal sih tetap….
Hidup Yang Berjalan…
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya

















