Mencegah Kelangkaan Air Butuh Ketegasan Negara

- Publisher

Sabtu, 14 Oktober 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati saat menyampaikan paparannya di acara The 2nd SCM, di Intercontinental Bali Resort, Jimbaran, Bali, Kamis (12/10/2023). Foto: Istimewa

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati saat menyampaikan paparannya di acara The 2nd SCM, di Intercontinental Bali Resort, Jimbaran, Bali, Kamis (12/10/2023). Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – The 2nd Stakeholders Consultation Meeting (SCM) diharapkan menghasilkan dorongan kuat seluruh negara untuk tegas menyatakan komitmennya mengelola air secara berkelanjutan pada World Water Forum (WWF) ke-10 yang akan digelar pada Mei 2024 di Bali.

Demikian disampaikan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di acara The 2nd SCM, di Intercontinental Bali Resort, Jimbaran, Bali, Kamis (12/10/2023).

“Diharapkan akan mampu meningkatkan komitmen dan kerja sama pengelolaan air global secara berkelanjutan di tengah kondisi bumi saat ini, sehingga kita perlu bekerja sama, berpikir bersama, dan memecahkan masalah bersama,” ujar Dwikorita.

BACA JUGA :

BMKG Batam Imbau Warga Waspadai Banjir Rob

BMKG: Monsun Asia Picu Gelombang Laut Tinggi di Kepri

Pemanasan global telah mengakibatkan meningkatnya temperatur di udara. Keadaan ini memberikan dampak pada semakin berkurangnya air tanah karena terjadinya penguapan yang cepat. Dengan makin cepatnya penguapan, lambat laun akan memberikan pengaruh terhadap ketersediaan air bersih di bumi.

BACA JUGA:  Kemenkes Siapkan Transisi Akhiri Kedaruratan COVID-19

Dikatakan Dwikorita, perubahan iklim memberi tekanan pada sumber daya air yang sudah langka, sehingga menimbulkan titik-titik panas air, meningkatnya kerentanan pada kantung-kantung pangan dunia.

Bahkan, FAO menyebutkan bahwa lebih dari 500 juta petani kecil, yang menghasilkan 80% sumber pangan dunia, merupakan kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

Dwikorita menjelaskan, dampak variabilitas dan perubahan iklim seringkali dirasakan melalui air. Dinamika siklus air dan interaksinya dengan manusia mengakibatkan bervariasinya pola spatio-temporal ketersediaan sumber daya air.

“Dampak ekstrem yang berhubungan dengan air mempengaruhi kehidupan, pembangunan, dan keberlanjutan ekosistem, masyarakat dan individu,” ujar Dwikorita.

World Meteorological Organization (WMO) telah menerbitkan laporan State of Global Water Resources 2021 atau Keadaan Sumber Daya Air Global yang pertama untuk menilai dampak perubahan iklim, lingkungan, dan sosial terhadap sumber daya air di bumi.

BACA JUGA:  Naik Pesawat Tak Perlu Lagi Tes PCR, Cukup Antigen!

Tujuan dari inventarisasi tahunan ini adalah untuk mendukung pemantauan dan pengelolaan sumber daya air tawar, meningkatnya permintaan dan mengukur terbatasnya pasokan.

Laporan ini memberikan gambaran umum tentang aliran sungai, serta banjir besar dan kekeringan. Laporan ini memberikan wawasan mengenai titik-titik panas (hotspot) perubahan dalam penyimpanan air tawar dan menyoroti peran penting dan kerentanan kriosfer (salju dan es).

Laporan ini juga menunjukkan banyak wilayah di dunia yang mengalami kondisi lebih kering dibandingkan kondisi normal pada 2021, tahun di mana pola curah hujan dipengaruhi oleh perubahan iklim dan peristiwa La Niña.

“Laporan yang dirilis oleh WMO menyoroti beberapa tantangan penting terhadap sumber daya air global yakni ekstrem hidrologi, hilangnya air bersih (perpindahan air bersih tahunan di darat), isu kurangnya akses air bersih atau akses yang tidak setara terhadap air bersih (ketidakadilan air),” kata Dwikorita.

BACA JUGA:  Cuaca Hari Ini di Kepri: Awan Mendominasi, Hujan Turun di Beberapa Titik

Dwikorita yang juga menjabat Dewan Eksekutif World Meteorological Organization menyampaikan bahwa ancaman krisis air akibat perubahan iklim ini sudah terlihat sangat jelas. Antara lain, cuaca ekstrem, iklim, dan peristiwa terkait air menyebabkan 11.778 bencana yang dilaporkan antara tahun 1970 dan 2021.

Negara-negara maju mengalami lebih dari 60 persen kerugian ekonomi akibat perubahan iklim, namun sebagian besar di bawah 0,1 persen Produk Domestik Bruto (PDB) mereka. Pada negara-negara terbelakang, 7 persen bencana menyebabkan kerugian lebih dari 5 persen PDB, dan mencapai hingga 30 persen. Di negara kepulauan kecil, 20% bencana menyebabkan kerugian lebih dari 5 persen PDB, bahkan ada yang melebihi 100 persen. (DI)

Berita Terkait

Nippon Paint Kantongi Sertifikat dari International Tennis Federation
Mau Magang Digaji Setara UMP? Pemerintah Buka 150 Ribu Kuota, Cek Jadwal Pendaftarannya
Mulai 1 Juli 2026, Grab dan Gojek Kompak Pangkas Komisi Ojol Jadi 8 Persen
ATR/BPN dan Kemendagri Terbitkan Surat Edaran Bersama, Percepat Integrasi LP2B ke RTRW Daerah
Ketua MUI Sebut MBG Program Mulia: Yang Diperbaiki Pelakunya, Bukan Programnya
Mulai 10 Juni 2026! Pertamax RON 92 Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Pertalite Tetap Rp10 Ribu
BGN Moratorium Dapur Baru, Fokus Perkuat Kualitas Program Makan Bergizi Gratis
Harga Minyakita Bakal Naik, Pemerintah Siapkan Penyesuaian HET dalam Dua Pekan

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 13:01 WIB

Nippon Paint Kantongi Sertifikat dari International Tennis Federation

Selasa, 30 Juni 2026 - 07:58 WIB

Mau Magang Digaji Setara UMP? Pemerintah Buka 150 Ribu Kuota, Cek Jadwal Pendaftarannya

Rabu, 24 Juni 2026 - 07:36 WIB

Mulai 1 Juli 2026, Grab dan Gojek Kompak Pangkas Komisi Ojol Jadi 8 Persen

Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:09 WIB

ATR/BPN dan Kemendagri Terbitkan Surat Edaran Bersama, Percepat Integrasi LP2B ke RTRW Daerah

Minggu, 14 Juni 2026 - 07:13 WIB

Ketua MUI Sebut MBG Program Mulia: Yang Diperbaiki Pelakunya, Bukan Programnya

Berita Terbaru

Cristiano Ronaldo dalam konferensi pers jelang laga Portugal VS Spanyol. Foto: Istimewa

Olahraga

Ronaldo Umumkan Pensiun dari Piala Dunia Usai Edisi 2026

Senin, 6 Jul 2026 - 06:33 WIB