INIKEPRI.COM – Menjelang Hari Raya Idulfitri, satu pemandangan yang selalu berulang di Indonesia adalah antrean masyarakat yang menukarkan uang lama dengan pecahan baru. Uang tersebut kemudian dibagikan sebagai Tunjangan Hari Raya (THR) kepada anak-anak, keluarga, hingga kerabat.
Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran. Bahkan, setiap tahunnya permintaan terhadap uang baru selalu meningkat seiring mendekatnya hari raya.
Lalu, apa yang membuat THR begitu identik dengan uang baru?
Salah satu alasannya adalah nilai simbolis yang melekat pada uang tersebut. Uang baru dianggap mencerminkan sesuatu yang bersih, segar, dan penuh harapan—sejalan dengan makna Idulfitri sebagai momentum kembali ke fitrah dan memulai lembaran baru.
Selain itu, faktor estetika dan etika juga turut memengaruhi. Uang yang masih rapi, tidak lusuh, dan terlihat “baru” dinilai lebih pantas serta menyenangkan untuk diberikan, terutama kepada anak-anak. Dalam konteks budaya, hal ini juga dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada penerima.
Tak heran jika pecahan kecil seperti Rp2.000 hingga Rp20.000 menjadi yang paling banyak diburu, karena praktis untuk dibagikan dalam jumlah banyak sekaligus tetap terlihat menarik dalam amplop Lebaran.
Dari sisi ekonomi, meningkatnya kebutuhan uang tunai ini juga diantisipasi oleh Bank Indonesia. Melalui program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI), bank sentral secara rutin menyediakan layanan penukaran uang baru dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri.
Meski kini mulai berkembang tren THR digital melalui transfer atau dompet elektronik, penggunaan uang baru tetap menjadi pilihan utama bagi banyak orang. Selain faktor kebiasaan, sentuhan fisik dari uang yang diberikan langsung dinilai menghadirkan kehangatan tersendiri dalam momen silaturahmi.
Pada akhirnya, identiknya THR dengan uang baru bukan hanya soal kepraktisan, tetapi juga perpaduan antara simbol, budaya, dan nilai sosial yang telah mengakar kuat di masyarakat. Tradisi ini pun diperkirakan akan terus bertahan, meski perlahan beradaptasi dengan perkembangan teknologi di masa depan.
Penulis : DI
Editor : IZ

















