Perlindungan Vaksin AstraZeneca Cuma Bertahan 6 Bulan

- Publisher

Kamis, 26 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto: Istimewa)

(Foto: Istimewa)

INIKEPRI.COM – Studi terbaru menunjukkan bahwa perlindungan dari dosis penuh vaksin AstraZeneca akan memudar dalam waktu enam bulan.

Hal ini memancing studi baru mengenai pentingnya dosis penguat atau booster.

Studi yang dilakukan oleh ilmuwan di King’s College London ini menggunakan data yang dikumpulkan melalui aplikasi ponsel dengan lebih dari satu juta pengguna aktif yang mencatat rincian vaksinasi dan hasil tes mereka.

“Perlindungan dari vaksin AstraZeneca turun dari 77% satu bulan setelah dosis kedua menjadi 67% setelah empat sampai lima bulan,” tulis laporan itu seperti dikutip AFP, Rabu (25/8/2021).

BACA JUGA:  Vaksin COVID-19 AstraZeneca sudah tidak Beredar di Indonesia

Pelemahan kekuatan vaksin ini dikhawatirkan akan menyebabkan lebih banyak rawat inap dan kematian pada musim dingin pada akhir tahun 2021.

“Menurut pendapat saya, skenario terburuk yang masuk akal dapat melihat perlindungan di bawah 50% untuk orang tua dan petugas kesehatan pada musim dingin,” kata Prof Spector dari King’s College.

“Jika tingkat infeksi tetap tinggi, didorong oleh varian Delta yang lebih menular dan pelonggaran pembatasan, skenario ini dapat berarti peningkatan rawat inap dan kematian,” sebut ilmuwan itu.

BACA JUGA:  Catat! Kondisi Ini yang Buat Orang Puasa Tak Bisa Divaksin

“Kami sangat perlu membuat rencana untuk booster vaksin,” tambahnya.

Temuan terbaru ini muncul setelah studi lain oleh para ilmuwan Universitas Oxford yang diterbitkan pekan lalu menemukan bahwa efektivitas vaksin Pfizer menurun lebih cepat daripada AstraZeneca.

Sebelumnya usulan mengenai dosis penguat sudah menjadi wacana yang berkembang di seluruh dunia. Beberapa negara seperti negara-negara Eropa dan Amerika Serikat (AS) juga menilai bahwa vaksin booster efektif dalam memperkuat imun dari virus corona.

BACA JUGA:  Vaksin Booster Kedua Jadi Syarat Perjalanan?

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut bahwa vaksin booster yang saat ini lebih banyak diterapkan negara kaya akan menciptakan defisit vaksin di negara-negara berpenghasilan rendah.

“Kami membutuhkan pembalikan mendesak dari sebagian besar vaksin masuk ke negara-negara berpenghasilan tinggi, ke sebagian besar ke negara-negara berpenghasilan rendah,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. (RWH/CNBCINDONESIA)

Berita Terkait

Hanya 20–30 Menit Sehari, Jalan Kaki Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup
Strategi Sehat Menjalani Diet Selama Ramadan Tanpa Mengganggu Energi
Tanpa Disadari, Ini Kebiasaan Tidak Sehat yang Sering Terjadi Saat Puasa
Sering Pusing saat Puasa? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
Memilih Olahraga yang Tepat Saat Berpuasa agar Tubuh Tetap Bugar
Begini Cara Mengatasi Bau Mulut Saat Puasa agar Tetap Percaya Diri
WHO Ungkap Gejala, Pola Penularan, dan Risiko Penyakit Virus Nipah
BPOM RI Tegaskan Susu Formula di Indonesia Aman

Berita Terkait

Kamis, 5 Maret 2026 - 08:05 WIB

Hanya 20–30 Menit Sehari, Jalan Kaki Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup

Selasa, 3 Maret 2026 - 03:42 WIB

Strategi Sehat Menjalani Diet Selama Ramadan Tanpa Mengganggu Energi

Jumat, 27 Februari 2026 - 07:15 WIB

Tanpa Disadari, Ini Kebiasaan Tidak Sehat yang Sering Terjadi Saat Puasa

Rabu, 25 Februari 2026 - 03:47 WIB

Sering Pusing saat Puasa? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Senin, 23 Februari 2026 - 01:30 WIB

Memilih Olahraga yang Tepat Saat Berpuasa agar Tubuh Tetap Bugar

Berita Terbaru