Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Jejak Para Pemuda di Balik Lahirnya Sumpah Pemuda

- Publisher

Minggu, 26 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para tokoh-tokoh visioner yang menjadi awal terbentuknya Sumpah Pemuda. Foto: dokumentasi Arsip Nasional Republik Indonesia

Para tokoh-tokoh visioner yang menjadi awal terbentuknya Sumpah Pemuda. Foto: dokumentasi Arsip Nasional Republik Indonesia

INIKEPRI.COM – Tanggal 28 Oktober bukan sekadar penanda sejarah, melainkan simbol kebangkitan semangat nasional yang dipelopori oleh kaum muda Indonesia.

Sumpah Pemuda tidak muncul begitu saja, melainkan hasil perjuangan, pemikiran, dan keberanian anak-anak muda yang berasal dari latar belakang berbeda, namun disatukan oleh satu cita-cita: Indonesia yang merdeka dan bersatu.

Awal mula lahirnya Sumpah Pemuda berakar dari dua pertemuan besar: Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928). Kedua kongres ini menjadi titik temu para pemuda dari berbagai organisasi di Nusantara, mulai dari Jong Java, Jong Sumatra, hingga Jong Celebes. Mereka datang dengan identitas yang berbeda, namun menyadari bahwa perjuangan akan lebih kuat bila dilakukan bersama.

Pemuda-Pemudi Visioner di Balik Ikrar Persatuan

Salah satu tokoh sentral dalam Kongres Pemuda II adalah Soegondo Djojopoespito, pemuda asal Tuban, Jawa Timur. Sebagai Ketua Kongres, Soegondo dikenal tegas, visioner, dan mampu menyatukan perbedaan pandangan di antara peserta. Di bawah kepemimpinannya, kongres berjalan tertib dan penuh semangat nasionalisme.

BACA JUGA:  Temui Ketua MUI, Hotman Paris Minta Maaf Terkait Holywings

Di sampingnya, ada Raden Mas Djoko Marsaid, aktivis Jong Java yang menjabat Wakil Ketua Kongres. Djoko dikenal vokal dalam menyuarakan pentingnya kesetaraan dan persatuan pemuda di tengah perbedaan daerah dan budaya.

Nama Mohammad Yamin juga tak bisa dilewatkan. Pemuda asal Talawi, Sawahlunto, ini dikenal sebagai orator ulung sekaligus perumus teks Sumpah Pemuda. Dialah yang pertama kali mengusulkan agar Bahasa Indonesia dijadikan bahasa persatuan, sebuah gagasan yang kemudian menjadi salah satu pilar utama dalam ikrar tersebut.

Dari Amir Syarifuddin hingga Wage Rudolf Soepratman

Selain mereka, Amir Syarifuddin Harahap — Bendahara Kongres Pemuda II asal Sumatera Utara — dikenal karena pandangan modern dan semangat kepemimpinannya yang kuat. Sementara itu, keberagaman etnis tercermin dari kehadiran Johan Mohammad Cai, pemuda keturunan Tionghoa yang menjadi Pembantu I Kongres. Sosoknya menunjukkan bahwa semangat nasionalisme melampaui batas suku dan ras.

BACA JUGA:  Sempat Tertunda, Seleksi CPNS 2019 Dilanjutkan. Simak Jadwalnya di Sini!

Dari wilayah timur, hadir Rumondor Cornelis Lefrand Senduk, anggota Jong Celebes, serta Johannes Leimena dari Ambon, yang kelak dikenal sebagai dokter sekaligus negarawan. Keduanya memperkuat bahwa cita-cita kemerdekaan tidak hanya milik pulau Jawa, tetapi seluruh Nusantara.

Tak kalah penting, Soenario Sastrowardoyo hadir sebagai penasihat kongres. Dengan latar belakang hukum, ia menekankan pentingnya nasionalisme dan demokrasi dalam membangun bangsa. Sedangkan Sarmidi Mangoensarkoro, aktivis pendidikan dari Surakarta, memperjuangkan agar rakyat Indonesia mendapat hak belajar yang setara.

Dan tentu saja, sosok Wage Rudolf Soepratman menjadi ikon abadi. Dialah yang memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” untuk pertama kalinya di akhir Kongres Pemuda II — lagu yang kemudian menjadi jiwa dari semangat kebangsaan Indonesia.

Sementara itu, Theodora Athia Salim atau Dolly Salim, putri dari tokoh nasional H. Agus Salim, turut memberikan warna tersendiri. Ia menjadi perempuan pertama yang menyanyikan lagu “Indonesia Raya” secara terbuka, simbol bahwa perjuangan bangsa bukan hanya milik laki-laki.

BACA JUGA:  Hari Sumpah Pemuda Ke-95, Ketua KNPI Kepri Pesankan Hal Ini

Warisan Semangat yang Tak Lekang oleh Waktu

Semangat para pemuda tahun 1928 ini melampaui zamannya. Mereka menunjukkan bahwa persatuan lahir dari keberagaman dan perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu. Dari ide dan tekad mereka, lahirlah ikrar yang mengikat seluruh bangsa Indonesia hingga kini:

“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia;
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia;
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

Lebih dari sekadar sejarah, Sumpah Pemuda adalah napas yang menyalakan bara semangat generasi muda masa kini untuk terus menjaga keutuhan bangsa dan menyalakan api nasionalisme di setiap langkahnya.

Penulis : RBP

Editor : IZ

Berita Terkait

Prabowo Tegas! Potongan Ojol Diminta di Bawah 10 Persen, Driver Dapat 92%
Program SMA Unggul Garuda Digeber, Akses Pendidikan Berkualitas Kian Terbuka
Ketum GHLHI Soroti Menteri Lingkungan Hidup, Desak Penegakan Hukum Lebih Tegas
Serahkan KTP di Lobi Gedung? Pakar Sebut Berpotensi Langgar UU Data Pribadi
Diduga Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap 5 Santri Laki-Laki, Ustaz SAM Dilaporkan ke Bareskrim Polri
KNPI Serukan Pemuda Jaga Persatuan di Tengah Isu Pemakzulan Pemerintah
Guntur Sahat Jadi Kakanwil Imigrasi Kepri, Wahyu Eka Putra Pimpin Imigrasi Batam
Terpidana Kasus Quotex Doni Salmanan Resmi Bebas Bersyarat Sejak 6 April 2026

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 14:28 WIB

Prabowo Tegas! Potongan Ojol Diminta di Bawah 10 Persen, Driver Dapat 92%

Kamis, 30 April 2026 - 12:21 WIB

Program SMA Unggul Garuda Digeber, Akses Pendidikan Berkualitas Kian Terbuka

Senin, 27 April 2026 - 17:50 WIB

Ketum GHLHI Soroti Menteri Lingkungan Hidup, Desak Penegakan Hukum Lebih Tegas

Minggu, 19 April 2026 - 11:52 WIB

Serahkan KTP di Lobi Gedung? Pakar Sebut Berpotensi Langgar UU Data Pribadi

Jumat, 17 April 2026 - 06:59 WIB

Diduga Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap 5 Santri Laki-Laki, Ustaz SAM Dilaporkan ke Bareskrim Polri

Berita Terbaru