Mudik Lebaran, Tradisi Nusantara Atau Ajaran Islam?

- Publisher

Senin, 2 Mei 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Mudik. Foto: Istimewa

Ilustrasi Mudik. Foto: Istimewa

INIKEPRI.COM – Tradisi mudik di Indonesia diawali bersamaan munculnya berbagai kota modern di Indonesia sebagai gejala urbanisasi pada abad ke-19.

Saat itu banyak anggapan hidup di kota menjanjikan secara ekonomi maupun pendidikan dibandingkan di pedesaan.

Akhirnya, mudik menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia menjelang Hari Raya Idul Fitri (lebaran) untuk bertemu dan berkumpul dengan sanak keluarga.

Biasanya istilah ini digunakan perantau di berbagai daerah.

Istilah Mudik

Jika merunut sejarahnya, mudik sebetulnya sudah populer di era 1970-an dan setiap daerah nusantara memiliki bahasa sendiri untuk mendefinisikan tradisi itu.

Sebut saja seperti Jawa berasal dari kata ‘mulih disik’ yang berarti pulang sejenak.

Berbeda dengan masyarakat Betawi yang mengartikan mudik sebagai sebagai ‘kembali ke udik (kampung halaman)’.

Sementara menurut Alwi Shahab dalam buku Maria van Engels: Menantu Habib Kwitang (2006) mengatakan perkiraan tahun 2000 di Jabodetabek istilah mudik dikenal dengan ‘pulang basomo.’

BACA JUGA:  Pemerintah Bakal Beri Subsidi Pulsa bagi Murid, Guru dan Dosen

Sejarawan Yuanda Zara mengungkapkan istilah atau kata “mudik” mulai banyak dan sering digunakan pada tahun 1980-an.

Sebelum itu, masyarakat umumnya menggunakan istlah “pulang kampung”, “bersilaturahmi dengan keluarga besar”, “halal bi halal dengan keluarga di daerah”, dan sebagainya.

Tradisi tersebut muncul karena di awal kemerdekaan hingga 1960 -an, Indonesia, terutama ibu kota Jakarta mulai dibangun sehingga membutuhkan banyak pekerja.

Mereka, baik pekerja kasar maupun pekerja terdidik, umumnya berasal dari daerah dan harus menetap sepanjang tahun untuk membangun Jakarta.

Hal itu membuat rasa rindu kampung halaman munculan di setiap penghujung tahun, sehingga saat mendapat libur lebaran mereka beramai-ramai pulang kampung.

BACA JUGA:  Polri Tegaskan Surat RT/RW Bukan Bukti Izin Mudik

Pemudik Disambut Bak Pahlawan
Mudik di masa awal, dilakukan dengan berkonvoi menggunakan kendaraan yang ditempeli stiker dengan mengatakan `Ayo ke rantau mengubah nasib’ di sepanjang jalan.

Pada saat itulah sebuah kebudayaan mudik mulai dipertontonkan masyarakat Nusantara yang akan disambut di perbatasan provinsi oleh voorjider atau pengawalan polisi.

Bahkan, Komaruddin Hidayat dalam tulisan di e-book berjudul “Indahnya Mudik Lebaran” (2015) mengatakan mudik sebagai nostalgia dan napak tilas semasa remaja dan ia juga mengungkapkan mengapa masyarakat menyukai mudik.

Meski begitu banyak yang menganggap tradisi mudik ini merupakan kegiatan silaturahmi dengan keluarga dan bukti terhadap orang tua maupun sanak saudara.

Itu hanya sebuah tradisi dan tidak ada keharusan dalam Islam.

Apakah mudik berlandaskan agama atau sekedar budaya?
Dikutip Almanhaj.or.id, dalam Al-Quran maupun As-Sunnah tidak ada istilah mudik dalam ajaran Islam. Mudik dianggap sebagai kegiatan yang bisa dilakukan kapan saja sesuai dengan kebutuhan dan kondisi.

BACA JUGA:  Lebaran Tahun 2020, Pemudik Turun Mencapai 98,52%

Jadi tidak hanya pada saat perayaan hari raya saja.

Dalam ajaran Islam mengingatkan umatnya untuk selalu menjaga tali silaturahmi dengan sesama manusia, khususnya kerabat maupun sanak saudara.

Namun, tidak ada ajaran Islam yang mengharuskan umatnya untuk mudik saat lebaran serta tidak ada istilah “mudik” yang tercantum dalam Al-Quran maupun As-Sunnah .

Jika dikaitkan dengan Lebaran, pola mudik tidak hanya sekedar pulang kampung saja.

Melainkan tradisi ini juga menyatu dengan tradisi halal bi halal yang dilakukan oleh umat Islam setelah bulan Ramadhan atau istilahnya disebut ‘Mudik Lebaran’. (RP/MINEWS)

Berita Terkait

Serahkan KTP di Lobi Gedung? Pakar Sebut Berpotensi Langgar UU Data Pribadi
Diduga Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap 5 Santri Laki-Laki, Ustaz SAM Dilaporkan ke Bareskrim Polri
KNPI Serukan Pemuda Jaga Persatuan di Tengah Isu Pemakzulan Pemerintah
Guntur Sahat Jadi Kakanwil Imigrasi Kepri, Wahyu Eka Putra Pimpin Imigrasi Batam
Terpidana Kasus Quotex Doni Salmanan Resmi Bebas Bersyarat Sejak 6 April 2026
Kepala BNN Usul Vape Dilarang, Temuan Zat Narkotika Mengejutkan
LPDP Buka Beasiswa Akselerasi Magister 2026! Mahasiswa S1 Bisa Langsung ke S2, Ini Rincian Dana Lengkapnya
BRIN: Benda Terang di Langit Lampung dan Banten Sampah Antariksa
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 06:59 WIB

Diduga Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap 5 Santri Laki-Laki, Ustaz SAM Dilaporkan ke Bareskrim Polri

Senin, 13 April 2026 - 16:18 WIB

KNPI Serukan Pemuda Jaga Persatuan di Tengah Isu Pemakzulan Pemerintah

Sabtu, 11 April 2026 - 08:00 WIB

Guntur Sahat Jadi Kakanwil Imigrasi Kepri, Wahyu Eka Putra Pimpin Imigrasi Batam

Jumat, 10 April 2026 - 06:21 WIB

Terpidana Kasus Quotex Doni Salmanan Resmi Bebas Bersyarat Sejak 6 April 2026

Kamis, 9 April 2026 - 07:42 WIB

Kepala BNN Usul Vape Dilarang, Temuan Zat Narkotika Mengejutkan

Berita Terbaru