Ini jawaban dari Primus Dorimulu, Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings, masih satu grup dengan SP.
“Ke depan, tidak ada lagi koran yang sudah berusia 34 tahun itu (SP), baik dalam bentuk cetak maupun e-paper. Namun, kami akan tetap hadir memenuhi kebutuhan pembaca akan informasi yang sehat lewat platform digital dan audiovisual,” tulis Primus Dorimulu di akun FB-nya.
Penutupan “Suara Pembaruan,” kata Primus, merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus hadir memberikan kontribusi kepada bangsa dan kemanusiaan.
“Sejak media cetak terkena disrupsi, kami mulai berkonsentrasi pada pengembangan media online dan televisi. Sejak 2012, para jurnalis HU “Suara Pembaruan” mengelola Beritasatu.com, mempersiapkan sebuah langkah peralihan dari cetak ke digital,” tambah Primus.
Diakuinya, era 4.0 yang ditandai internet of things (IoTs) atau serba internet, memaksa berbagai jenis bisnis untuk shifting untuk mengembangkan usaha berbasis digital.
Koran cetak “Suara Pembaruan” boleh mati, namun jurnalismenya tetap hidup di platform berita yang sesuai perkembangan teknologi dan perilaku masyarakat.
Selama 34 tahun, bahkan 60 tahun jika dihitung sejak “Sinar Harapan”, harian ini melahirkan banyak jurnalis hebat. Mereka tidak saja bekerja di HU “Suara Pembaruan” dan sejumlah media di bawah bendera Beritasatu Media Holdings, melainkan di berbagai media massa di Indonesia. (ER/Viva)

















