Jawaban Sri Sultan mengejutkan Royadin. Sri Sultan justru berkata, bahwa ia memang salah. Ia bahkan menolak untuk melihat rambu yang telah dilanggar tersebut, karena yakin bahwa ia memang salah sehingga harus dihentikan polisi. “Ndak usah, saya yang salah, dan kamu benar. Jadi sekarang bagaimana?”
Siapapun yang berada di posisi Brigadir Royadin tentunya pasti salah tingkah. Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah seorang raja, jenderal bintang 1 sekaligus salah seorang pahlawan negeri ini. Apa yang harus ia lakukan?
Bila ia membiarkan, maka ia adalah seorang polisi yang tidak disiplin dalam menjalankan tugas. Tentu akan dilema bukan?
Sri Sultan sempat bersikeras bahwa ia bersalah dan memang harus ditilang. Ia juga tidak memperkenalkan dirinya sebagai jenderal, atau pahlawan, atau raja pada Royadin, meski Royadin mengenalinya dengan baik. Akhirnya, Royadin, meski seorang polisi muda dan masih berpangkat Brigadir, namun ia memilih hal yang berani, bahkan berisiko bagi dirinya.
“Mohon maaf, sinuwun saya tilang,” itu jawaban Royadin. Ia menulis surat tilang dengan gelagapan, lalu dengan gemetaran memberikan surat tilang tersebut pada Sri Sultan.
Royadin menunggu apa yang akan dilakukan jenderal TNI, juga seorang raja, sekaligus pahlawan nasional ini dengan surat tilang tersebut. Tapi Sri Sultan justru mengambil surat tilang itu dan memberikan rebuwes miliknya ke Royadin. Lalu Sri Sultan tersenyum dan melanjutkan perjalanannya.
Keesokan hari, komandan Royadin berpangkat Kompol (Komisaris Polisi) benar-benar terkejut ketika melihat ada rebuwees milik Sri Sultan Hamengkubuwono IX ditilang oleh seorang brigadir polisi. Hasilnya, usai apel pagi, komandan memanggil Royadin dan benar-benar marah. Ia memaki Royadin habis-habisan.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

















